Indonesia hari ini dari kacamata Karl Marx dan Adam Smith

Oleh : Kurnia Fajar*

Fenomena krisis dan terjadinya konflik, sangat kentara akhir-akhir ini. Suasana kebatinan rakyat yang mulai lelah dengan kondisi sosial dan ekonomi. Ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dipertontonkan dengan sangat gamblang. Sudah saatnya Negara ini kembali pada cita-cita Republik. Negara memiliki pengelola yang bernama Pemerintah. Negara melalui Undang-undang menarik pajak dari warga negara. Mengelola sumber daya alam untuk digunakan bagi kepentingan warga negara. Hasil dari pajak dan pengelolaan sumber daya alam menghasilkan sesuatu yang dinamakan APBN atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Lalu apa kewajiban Negara? Menurut Undang-Undang dasar atau Konstitusi kita sebagai Hukum tertinggi yang menjadi kesepakatan kita bernegara ada Empat tujuan bernegara. Pertama Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia ; Kedua memajukan kesejahteraan umum ; Ketiga mencerdaskan kehidupan bangsa ; Keempat ikut melaksanakan ketertiban dunia. Sudah itu saja tugas Negara. Ndak usah ndakik-ndakik, patuhi konstitusi. Para Founding parents kita sudah dengan sangat cerdas melihat ke depan. Dalam batang tubuh UUD 1945 juga ditulis kewajiban Negara memelihara fakir miskin dan anak-anak yatim.

Buka akses pendidikan yang merata dan buka akses kesempatan kepada sumber ekonomi baik kapital maupun sumber daya alam. Pendidikan ya bukan sekolah. Karena sekolah bisa tidak bersenyawa dengan kualitas pendidikan. Ini bisa dilihat dari outputnya. Salah satu infikatornya adalah peringkat PISA Indonesia berada di urutan 69 dari 80 negara. Di bawah standar rata-rata dunia, ditambah dengan tingkat IQ masyarakatnya yang rendah. PISA adalah singkatan dari Programme for International Student Assessment. PISA adalah program penilaian pelajar internasional yang bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan di berbagai negara. Karena tidak tersedianya akses ekonomi yang merata terjadilah kemarahan kelas. Rakyat direbut paksa periuk nasinya dan kelihatannya sudah masuk fase ngalih dari tiga fase kemarahan kelas ala jawa : ngalah-ngalih-ngamuk. Peristiwa-peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini dari mulai pagar laut, elpiji 3 kg, hingga dibungkamnya band sukatani adalah fenomena sosial bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Merujuk kepada Karl Marx dalam bukunya Ndasmu Kapital eh maksudnya Das Kapital Konsep dasar teori konflik kelas adalah Struktur kelas di masyarakat, Pertentangan kepentingan ekonomi antar kelas, Pengaruh kelas ekonomi terhadap gaya hidup, Pengaruh konflik kelas terhadap perubahan sosial. Nilai-nilai menjadi diabaikan dan hanya melihat melihat pada cost and benefit analysis. Sebagai contoh pada kasus Band sukatani misalnya : peristiwa kesenian sebagai bentuk kebebasan ekspresi dibungkam karena menyinggung kelompok atau kelas yang lain. Ada nilai yang dianut yakni kepantasan umum. Mengkritik dengan santun dan bla… bla… bla.. Padahal kesenian adalah hasil olah pikir dari kegelisahan, keresahan dan hak untuk berekspresi secara total. Kepantasan umum ini menjebakkan diri pada senstivitas yang rapuh yakni ketersinggungan. Tersinggung itu personal. Mustahil komunal. Ini jadi mirip pernyataannya Rene Descartes Cogito ergo sum. Saya tersinggung maka saya ada. Eh, salah ya? Jika tersinggung sudah komunal maka perasaan gondok dan dimarjinalkan pun bisa menjadi komunal. Nah inilah tanda-tanda awal terjadinya konflik antar kelas.

Masih menurut Marx, momentum ini akan terus terjaga bahkan terlembagakan dan bisa membesar jika tidak ada perubahan sosial. Tanda kedua dari konflik antar kelas ini ditulis dalam bukunya Adam Smith yaitu Moral sentimen. Smith berpendapat bahwa moralitas tidak didorong oleh suatu rasa moral bawaan, seperti yang diklaim oleh guru lamanya Francis Hutchison, tetapi oleh kemampuan bersosialisasi alami manusia – kebutuhan akan persetujuan dari rekan-rekan kita. Kita berperilaku satu sama lain dengan cara yang memungkinkan kita untuk bergaul, tetapi ini tidak berasal dari perhitungan rasional untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sebaliknya, respons kita didorong oleh emosi kita, yang prinsipnya adalah kapasitas kita untuk berempati. Ketersinggungan kelas jika merujuk pada apa yang disampaikan Adam Smith ini bisa memicu konflik sosial. Langkanya gas Elpiji, hadirnya pagar laut menimbulkan pemantik demonstrasi yang dikasih judul Indonesia gelap. Ini adalah empati komunal. Demikian juga dengan group band sukatani melalui lagunya menghasilkan empati komunal. Sudah dua syarat ejawantah menuju terjadinya konflik antar kelas. Pemerintah, saya yakin akan bersikap dan merubah situasi sosial ekonomi ini. “Semua perubahan historis yang terjadi selama ini ialah hasil dari konflik antara kelas borjuis dan kelas proletar, yang berakar dari ekonomi” demikian tulis Marx, jika tidak ingin terjadi revolusi sosial Negara harus bisa menjawab kegelisahan rakyatnya, seperti saya bertanya pada Marx, Mana yang harus didahulukan: menjadi manusia individual terlebih dahulu, atau menjadi manusia sosial terlebih dahulu? Saya tidak tahu marx akan menjawab apa karena saya belum pernah bertemu dengannya. Saya akan menjawab dengan mengutip pendapat Jean Paul sartre, kita dilahirkan sepenuhnya bebas, yang membebaskan sekaligus menindas.

*) Gerilyawan Selatan, Pengamat ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar