Oleh : Kurnia Fajar*

Pernah pada satu masa, saya menyangka kaya dulu baru sedekah. Tapi napak tilas ini menyatakan sebaliknya. Bukan tanpa maksud, saya sering lihat orang-orang serupa ini : kecil, cilik, dengan batu besar di pundaknya. Saya sudah berjalan sangat jauh, sudah pulang sangat larut, untuk tahu makna tinggi langit. Untuk tahu bagaimana rasanya digedor rasa bersalah. Di tangga mesjid, di anak tangga paling bawah, usai isya hari ini, rasanya saya baru saja bersua Malaikat, dalam sosok seorang tua, yang kepayahan. Bapak ini tinggal di Bekasi. Kerjanya sebagai tukang ojek. Istrinya sedang sakit, anaknya juga. Tapi yang paling kecil sehat walafiat. Besok istrinya pulang dari rumah sakit. Anaknya berobat jalan. Dan besok dia akan ke toko mas, menjual satu-satunya harta mereka. Suratnya lengkap, mungkin laku kali ya Mas barang enam ratus ribu. Saya enggak tahu Pak. Tapi boleh ditanya ke tokonya. Iya Mas… Itu emas yang mau dijual punya siapa Pak? Punya istri saya mas. Istrinya tukang cuci keliling. Sehari bisa dapat 100 ribu. Jumlah yang lumayan, untuk dua anak. Belum lagi dari ojek, yang rata-rata bisa bawa pulang 100 ribu bersih. Bila tak ada aral melintang. Kalau istri dapat uang nyuci, dikumpulin dikit-dikit Mas. Dibeli emas nyicil, bakal tabungan katanya. Jadi penghasilan bapak 200 ribu sehari dong? Iya mas. Sebulan bisa dapat 2-3 juta kalo saya gak libur ngojek.
Tiba-tiba saya teringat siaran televisi kemarin. Pengeluaran Rp10,12 juta/bulan atau sekitar Rp361.397/hari jadi ambang minimum seseorang diklasifikasikan sebagai kelompok kelas atas atau orang kaya di Indonesia. Angka ini mengacu pada klasifikasi World Bank yang menetapkan definisi kelas atas adalah mereka yang pengeluaran minimumnya 17 kali di atas garis kemiskinan. Adapun menurut data Badan Pusat Statistik, garis kemiskinan (GK) di Indonesia per September 2024 ada di angka Rp595.242/bulan atau Rp21.259/hari. Orang yang pengeluarannya di bawah GK masuk kategori miskin. Kemudian untuk kelas lainnya, kelompok rentan miskin punya ukuran pengeluaran Rp595.242- Rp892.863/bulan (1-1,5 kali GK), kelompok menuju kelas menengah Rp892.863-2,08 juta/bulan (1,5-3,5 kali GK), dan kelas menengah Rp2,08 juta-Rp10,12 juta/bulan (3,5-17 kali GK). Jika data di atas dijadikan ukuran maka Bapak yang sedang bicara dengan saya ini masuk kategori kelas menengah. Sebuah definisi yang absurd bagi saya. Bagaimana mungkin tinggal di Bekasi dan mengadu nasib di Jakarta, punya penghasilan 4 juta kemudian dikatakan kelas menengah. Kita harus putar arah duduk lagi ke bangku SD untuk memahami realita ini.
Besok Bapak mau bawa ke dokter. Istri pulang dulu, terus bawa anak ke dokter. Sejurus lamanya si Bapak berkisah tentang hidupnya, tentang nasib yang mungkin memburuk tanpa sebab. Saya menyimak, penuh takzim. Pak, bawa pulang istri dari rumah sakit sama bawa anak ke dokter, biayanya berapa? Tujuh ratus mungkin Mas. Nanti saya akan cari pinjeman ke tetangga seratus ribu. Tapi kan emas itu hasil kerja istri Pak, nyuci keliling. Si Bapak menarik napas dalam-dalam, wajahnya cemas. Kulihat batu besar di pundaknya. Gini Pak, saya ada 1 juta, Bapak 700 saya 300 ya untuk bekal makan sama bensin. Tidak Mas, saya gak minta. Bapak tidak minta, tapi saya memaksa. Usahakan emas itu jangan dijual ya Pak. Nanti Mas uangnya jadi gak ada? Selalu ada rezeki kan Pak, dari pintu-pintu yang kita tidak duga. Hari ini mungkin saya pintu Bapak. Besok, orang lain yang jadi pintu untuk saya. Matematika langit kan memang begitu Pak. Pelan-pelan dia menyeka air matanya, dengan jaket lusuhnya. Kemudian si Bapak meraih tangan saya, dan berusaha untuk menciuminya. Saya tarik. Jangan cium tangan saya pak. Kita sama-sama hamba. Berulang kali dia sebut nama Tuhan. Pelan-pelan saya memalingkan wajah. Mata saya mulai gerimis.
Tiba-tiba marbot mesjid mendekati kami dan meminta maaf : mohon maaf bapak-bapak, ini pagarnya mau dikunci. Saya berdiri dan keluar dari tangga mesjid menuju parkiran. Sambil berkata dalam hati : yaa Rabb, kenapa rumahmu ini mesti digembok. Banyak umatmu yang tidak memiliki rumah dan harus tidur beratapkan langit. Kemudian saya berpisah dengan si Bapak. Dari kaca spion saya melihat, dia genggam uang itu erat-erat. Seolah tak hendak berpisah. Sambil menyalakan rokok kedua, menghirupnya dalam-dalam, saya temukan ini: siapa sebenarnya yang sedang bahagia kini, si Bapak, atau saya?Sebab kegembiraan menyelusup ke dada saya, senang rasanya melihat orang lain senang. Hidup seperti ada gunanya. Siapa yang gembira sejatinya mereka yang meletakkan tangannya di bawah, atau yang mengangsurkan tangan guna mengangkat tangan yang di bawah? Andai si Bapak tahu, kemarin pun ada yg membukakan pintu untuk saya. Bukankah tiap-tiap pintu yg terbuka untukmu selalu karena ada orang lain?Catatlah Pak, bukan saya yang membantu Bapak, tapi Bapaklah yang membantu saya untuk tetap jadi manusia. Dan ya, saya berterima kasih. Sehat terus Bapak…, supaya kelak kita jumpa lagi di tangga mesjid, di anak tangga paling bawah.
*) Gerilyawan Selatan, Pengamat ikan di dalam kolam
BIsmiLLAH……
Saya mencoba melakukan ‘intra simulasi’ dari peristiwa yang Anda tuliskan disini. Dalam simulasi ( difikiran ), saya menjadi Bapak yang menanggung beban berat itu. Maka, saya Dzikirkan ‘Asy Syakur’. atas PerTolongan ALLAH yang MengGerkkan Jiwa Anda. Sembari berSujud saya menDoakan Anda… Kemudian pada simulasi itu, saya mencoba menjadi Diri Anda. Dengan Dzikir yang sama sembari berSujud, saya mohon Ampun bila yang saya lakukan belum cukup menjadi KeMudahan bagi Bapak yang sedang menJalani Ujian. Maka, dengan Meng-Iqra’i peristiwa tersebut, yang terbaca oleh saya adalah ‘PerTemuan yang Indah antara ‘Jiwa yang TerUji’ ( Bapak yang menanggung beban ), dengan Jiwa yang TerPuji ( Anda ) yang Pasti ALLAH akan memBalasnya… AlHamduliLLAHIR Rabbil ‘Alamiin……
Salaam……
SukaSuka
MasyaAllah… terima kasih nasehatnya pak. Luar biasa
SukaSuka