Oleh : Kurnia Fajar*

Ada filosofi yang telah lama saya dapat dari budaya Jepang. Bahwa gabah yang diolah di pabrik penggilingan itu akan berubah jadi beras, karena bulir gabah saling bergesekan dengan gabah. Sedangkan gabah yang bergesekan dengan mesin giling, akan hancur jadi serpihan beras (menir). Begitu juga manusia. Kualitas kita meningkat, seperti gabah menjadi beras, karena kita aktif berinteraksi dengan manusia lain. Setiap pertemuan adalah ilmu. Siapa pun yang kita temui. Saat sekolah dulu, kita berlomba mengejar nilai terbaik. Tak mau berbagi jawaban dengan teman sebelah. Seolah peringkat atas adalah segalanya. Saya bangga mewakili sekolah dasar lomba ‘siswa teladan’ sampai tingkat provinsi. Saat kuliah pikiran saya berubah. Nilai bukanlah tujuan. Ketika beberapa kawan mencapai nilai sempurna, bahkan mendekati IPK 4, saya bergeming. Terlintas dalam benak dunia begitu luas. Tak sebatas angka-angka di atas kertas. Kemudian terbukti, saya tak terlalu keliru. Mereka yang dulu punya indeks pretasi menyentuh langit, tak menjadi apa-apa. Hanya sebuah sekrup tak penting dalam kapitalisme global. Mereka yang goblok dan pemalas, akhirnya menjadi pucuk pimpinan di perusahaan plat merah ratusan triliun. Petantang-petenteng. Pintar dan bodoh tak lagi penting. Pada akhirnya semua tak berbeda.
Saya masih melihat strata-strata itu. Ada yang jadi boss besar, boss kecil, kacung boss dan yang paling bawah: kacung kampret. Tapi waktu terus berjalan. Satu per satu sampai di ujung karir. Yang merasa diri jadi boss besar, direksi plat merah, gundah gulana. Dia akan mengalami jatuh dari pohon tinggi. Rasa sakitnya tak terperi. Pun yang hanya kacung kampret, pada akhirnya akan menjadi pengangguran biasa saja. Pensiun. Tentu rasa sakitnya lebih ringan. Kelompok ini tak terbiasa berjalan di karpet merah. Tanpa protokol. Zonder puja-puji. Semua akan terasa normal sahaja. Boss besar, atau kacung kampret, tak lagi penting. Dan saya membayangkan, 20 tahun atau 30 tahun lagi, kita semua sama saja. Yang punya aset T, atau minus sekian M, sudah renta. Tak lagi ada kesombongan saat reuni. Mungkin datang dengan kursi roda, didampingi perawat lansia. Beberapa kawan, yang sangat ‘sukses’, yang merasa kaya, juga yang biasa saja, malah sudah pergi. Dan tak pernah kembali. Beberapa saat sempat ada ucapan duka di WA grup. Berselang matahari tenggelam, tak lagi dibicarakan. Seperti tak pernah ada.
Malam ini saya teringat Epikouros. Ya, Epikouros (341 – 270 SM) salah satu filsuf yang saya kagumi. Hidup di Athena, Yunani, dia mengajarkan mazhab ‘baru’ pada zamannya: sederhana adalah kunci bahagia. Prinsip yang ditawarkan simpel: semakin sedikit keinginan duniawi, maka kita akan makin mudah mencapai bahagia. Dalam hal ini linear dengan pemikiran Imam Syafi’i — tokoh Islam pendiri mazhab Syafii yang banyak diikuti Muslim di Asia Tenggara dan Yaman. Dari Epikouros saya banyak belajar dari prinsip-prinsip yang ia sodorkan. Hidup tersembunyi, anonim, adalah kemewahan yang tak dimiliki setiap orang. Dan itu ternyata benar. Untuk bahagia kita tak perlu banyak syarat dan ketentuan. Hidup adalah kesadaran. Menyadari ruang dan waktu. Tempat tersibuk di dunia ini adalah pikiran, paling teratur adalah jantung, dan yang paling tenang, dialah hati. Pikiran yang tergesa akan beranak-pinak tak terkendali. Segalanya seakan sambung-menyambung. Padahal kusut.
Tiang jembatan bertanya, dan aku hanya diam. Bahkan dalam keramaianpun, pikiranku tetap ke satu hal. Dia yang sedang terbaring. Dia yang menyadarkanku pada satu kenyataan yang getir bahwa pada akhirnya, manusia akan mencapai satu titik di mana materi tidak dapat menghilangkan rasa sakit karena kesepian. Satu titik yang menyakitkan sekaligus semakin menyadarkanku bahwa sang maha waktu begitu kejam menelan cerita semua makhluk bernyawa. Kita berjalan mantap pada garis antrian yang jelas, namun kesombongan seringkali membuat manusia lupa, bahwa sang maha waktu yang senyap tidak pernah berhenti semilidetikpun, bahwa malaikat mencatat semua perkataan dan perbuatan kita, lengkap setiap hurufnya. Lebih baik diam bila perkataan hanya menyakitkan orang lain. Bila tiada manfaatnya dan malah melahirkan argumentasi. Aku menjadi saksi suatu bentuk kesepian yang tidak seorang pun dapat mengisi kekosongan itu, selain masa lalunya yang sudah tak ada. Orangtua.. kekasih.. anak-anaknya ketika kecil.. dan kejayaan masa lalu hidupnya. Rasa frustasi sekaligus sadar bahwa semua itu tak ada lagi sehingga membuatnya tak berdaya dan meluluhlantakkan setiap pijar dalam relung hatinya yang terdalam.
Dua orang yang saling mencintai memilih menghindari percakapan bukan karena rasa itu telah pergi. Tapi supaya tak ada yang terlukai. Tapi ya tetap menghibur. Setidaknya kita tahu laki-laki yang tak pernah menceritakan kehilangannya adalah laki-laki yang menanggung batu besar di pundaknya. Bagi laki-laki, diam adalah pertahanan terbaik. Menimbun luka. Broken inside katanyah! Sedangkan perempuan akan berimajinasi. Perempuan punya batas-batas imajinasi sampai dia bilang we need to talk. Aku, kamu, kita, akan berada dalam titik itu. In the end, it is not between you and them, but between you and God.
*) Gerilyawan Selatan, Pemerhati Ikan di dalam kolam