Selamat jalan sahabatku Bung Andi Temar…

Oleh : Kurnia Fajar*

Selepas shalat dhuhur tadi, pesan text masuk ke dalam ponsel. Andi Temar, petugas satpam semasa saya sekolah SMP dulu wafat. Ingatan saya menerawang ke masa-masa sekolah dulu. Alih-alih bersahabat dengan guru. Saya justru bersahabat dengannya. hubungan emosional saya sangat dekat. Sebagai ABG yang mengalami krisis jati diri, bolos sekolah, suka kepada lawan jenis, sembunyi dari hukuman sekolah. Pos satpam adalah ruang pelarian dan tempat menenangkan diri. Berbeda dengan kios babeh yang selalu diisi dengan orang-orang. Pos satpam sepi, hanya Andi Temar saja. Dia selalu menolak dipanggil Pak, Bang, Mas, Paman, kami semua memanggilnya Andi. Mungkin karena dia ingin mengajarkan tentang egaliter sejak dini. Atau itu sebuah sarkasme? Beberapa kali saya menepi dan menyepi di dalam pos satpamnya. Ia selalu mengatakan bahwa tantangan kehidupan selalu ada. Tidak ada pilihan lain kecuali menghadapinya. Menang atau kalah semuanya akan jadi pengalaman hidup berharga untuk kamu. Entah darimana tiba-tiba saya teringat nasehatnya. Sambil menunaikan shalat sunah setelah dhuhur saya mendoakan Andi Temar, laki-laki Ambon yang bertekad pergi dari kampungnya untuk menghadapi tantangan hidup. Dia jarang bahkan hampir tidak pernah bercerita tentang keluarganya. Andi memilih untuk menempuh jalan sunyi.

Setidaknya ada tiga peristiwa yang cukup membuat saya tidak pernah lupa sama Andi. Yang pertama adalah melindungi dan menyelundupkan saya masuk ke dalam kelas ketika waktu sekolah sudah berjalan. Seringkali saya bolos sekolah dan baru masuk pada saat istirahat pertama. Rute saya adalah sanggar pramuka, kelas 3-1 terus turun ke lapangan basket dan masuk ke kelas saya di 3-10. “Naha kamu teh bolos wae? Karunya atuh ka kolot”. Saya tidak menjawab dan langsung melengos aja langsung masuk ke dalam sekolah. Kedua adalah peristiwa ketika “crush” saya ulang tahun. Saya perlu menciptakan momen. Saya gunakan pos satpam-nya untuk menciptakan momen itu. Barangkali momen ini cukup membekas karena pos satpamnya adalah perlintasan orang-orang pulang dari sekolah. Ketiga, pos satpam-nya adalah tempat penitipan barang-barang. Pernah satu ketika saya menitipkan tas sekolah saya berhari-hari. Semua buku-buku saya taruh di pos satpamnya. Andi yang baik hati. “Geus ari moal balik ka imah mah, simpen didieu we bukuna. Kan isuk ka sakola deui”. Selalu menyenangkan dia berbicara sunda. Mengingat dia adalah suku Ambon.

“Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyah, fadhulii fi ‘ibadi wadhuli jannati”. 
“wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi-Nya dan masuklah ke dalam surgaku”. Dalam diam saya berdoa semoga Andi masuk ke dalam golongan orang-orang yang tenang jiwanya. Tiap-tiap peristiwa kematian pastilah meninggalkan nasehat terbaik bagi mereka yang masih hidup. Bahkan ada sebuah lagu yang pasti membuat kita tersadar, bahwa hidup ini sejatinya adalah tempat menunggu. Orang kaya mati, Orang miskin mati, Raja-raja mati, Rakyat biasa mati. Lagu ini menemukan momentumnya. Jika laki-laki tidak bercerita. Maka kepada Andi-lah saya ceritakan semua kisah saya. Ketakutan-ketakutan. Ketidak beranian saya menyatakan cinta, memendam saja kemudian rindu,, pas ditinggalin jejeritan. Cinta harus dinyatakan, diucapkan. Supaya diam tak disangka nahan kentut. Demikian Andi menasehati saya. Setelah saya dewasa, beberapa kali saya menemuinya khususnya kalau sedang bosan perkara-perkara dunia, pos Andi rasa-rasanya menjadi tempat saya pulang. atau melarikan diri dari penat. atau semacam itu. Memeluk hangat dan menyalaminya.

Ia tetap begitu saja bersahaja. Kecuali saya dapatkan giginya yang mulai menghilang ditelan waktu. Nu penting mah sehat, Andi masih bisa ketemu dan minta uang buat beli rokok”. Demikian ia menyapa saya sambil terkekeh terlihat giginya yang sudah jarang itu. Saya senang bertemu dengannya, pembicaraan kami monoton dan itu-itu saja. Karena hidupnya sepi. Saya berimajinasi dengan nasehat-nasehatnya dalam bahasa pujangga. Bila kematian adalah pergi, dari sisi kita, bukankah dari sisi mereka kitalah yg belum pulang? Kita tak bisa memilih kematian, tapi kita bisa merayakan kehidupan. Bayangkan Andi mengucapkan kata-kata seperti itu. Bukankah kata pulang yang sering Andi ucapkan pada kita semua? Naha can pulang? Can dijemput? Sini duduk di pos Andi aja nunggu-nya. Pos Andi adalah monumen persinggahan seribu kisah di dalamnya. Dengan segala dinamikanya. Tiap-tiap orang ingin kembali ke tempat dari mana dia pergi. Dan kita menyebutnya pulang. Sampai akhirnya hari ini dia yang duluan pamit meninggalkan pos satpamnya. Dalam dialog imajiner saya katakan : Ndi, tuh udah dijemput. Iya atuh Andi pulang dulu nya. Selamat pulang sahabat saya. Bung Andi Temar!

*) Alumni SMP 2 angk. 1995

Tinggalkan komentar