Oleh : Kurnia Fajar*

Kita hidup di era di mana kekayaan, jabatan, dan gelar jadi ukuran, sementara integritas, idealisme, dan prinsip dianggap basi. Seminggu yang lalu, Eep Saefullah Fatah dalam podcast-nya bersama Sukidi, Rocky Gerung dan Anies Baswedan. Diskusi yang menarik dan mencerahkan. Ada kalimat menarik dari Anies. Bahwa karakter pemimpin akan bersenyawa dengan programnya. Singkatnya begini, jika seorang empati kepada kemiskinan, maka programnya akan kesana. Kecenderungan seorang manusia akan menutupi dan menyembuhkan luka batinnya. Dalam tayangan-tayangan youtube Dedi Mulyadi sudah bisa menggambarkan apa saja yang menjadi keinginan-nya. Tinggal dilihat apa programnya selaras. Dalam situasi ini, dalam bahasa yang sederhana adalah kita memerlukan pemimpin yang bisa bersenyawa dengan kemiskinan. Saya percaya, soal kemiskinan tak selalu bisa diungkap dengan angka dan kemudian dikatakan dengan statistik. Ia adalah sesuatu yang semestinya harus dirasakan ketika angka dan data kemiskinan hendak diungkapkan. Lalu bayangkanlah orang-orang yang kelaparan, orang-orang yang bahkan hanya untuk membeli tempe dan tahu sudah tak sanggup apalagi untuk membayar ongkos sekolah anak dan rekening listrik. Mereka ada di sekitar kita, menjadi tetangga, dan jumlahnya tak sesederhana hanya menyangkut soal angka dan data seperti yang diributkan oleh Presiden dan para menterinya, para ekonom dan anggota DPR dan juga para pendakwah.
Karena soal rasa, hal ini akan menyejarah sebagai pengalaman hidup. Akan mewarnai dan mendominasi manusia dalam hal mengambil keputusan. Beberapa hari lalu ada video orang menabrakkan diri kepada kereta api. Kemudian seorang kawan mengirimiku pesan text via WA “Karena sejak lahir tinggal di tepi rel. Saya nggak kaget dengan potongan tubuh manusia yang nabrakin diri ke kereta api. Tapi saya selalu ingin tahu, ketakutan apa yang lebih besar dari ketakutan dihantam lokomotif yang sedang melaju? Saya selalu sedih membayangkannya. Ketakutan akan hidup itu kan ada karena harapan sirna. Padahal berhadapan dengan orang miskin itu cukup dengan menjual harapan. Ketika harapan direnggut. Maka kemana lagi seorang warga negara akan berlindung? Betapa hina-nya negara ketika tidak mampu lagi menyediakan harapan bagi warga negaranya. Boro-boro melindungi, sesuai amanat konstitusi sekedar memberi harapan saja gagal. Kemiskinan tidak akan pernah hilang di tengah masyarakat yang para pemimpinnya tamak. Ketamakan akan mendorong pemimpin untuk merampok anggaran yang harusnya untuk kemiskinan.
Sebagai umat islam, barangkali contoh pemimpin yang bersenyawa dengan kemiskinan adalah nabi kita Rasullullah SAW. Rasulullah SAW melindungi orang miskin dengan cara memperlakukan mereka dengan baik, berempati, dan memberi apa yang bisa beliau berikan. Rasulullah juga mengajarkan para sahabatnya untuk berbelas kasihan kepada orang miskin. Mencintai orang miskin termasuk dalam wasiat beliau. Dekat dengan orang miskin berarti semakin dekat dengan Allah pada hari kiamat. Memperjuangkan kehidupan orang miskin termasuk jihad di jalan Allah (fisabilillah). Membantu orang miskin mendatangkan rezeki. Membantu orang susah akan terhindar dari kesusahan dunia akhirat. Al Quran memerintahkan kita untuk mencintai orang-orang fakir miskin dan anak yatim. Empat sahabat yang memerintah sepeninggal Nabi juga melakukan hal yang sama. Ketika diangkat menjadi amirul mukminin dan khalifah yang pertama, Abu Bakar menegaskan posisinya sebagai pemimpin adalah tempat perlindungan bagi mereka yang tak berdaya, dan sebaliknya merupakan ancaman bagi para pesohor dunia. Dia lebih lapar dari orang yang miskin yang kelaparan, lebih beriman daripada umatnya yang beriman.
Kemudian khalifah kedua Umar Bin Khathab bagaimana Umar mengambil sikap untuk memanggul gandum karena dia alpa ada rakyatnya yang tidak makan dan kelaparan. Bahkan ketika pengawalnya hendak memanggul gandum, Umar menghardiknya “apakah kamu mau memikul dosaku karena kealpaan-ku ini? Apa engkau mau menanggung azabnya hah? Pengawalnya terdiam dan hanya mengiringi Umar yang memanggul gandum. Kemudian khalifah ketiga Ustman bin Affan yang bernegosiasi dengan Yahudi perihal sumur. Pada masa Rasulullah, di Madinah hanya ada satu sumur yang mengeluarkan air, yang dimiliki oleh seorang Yahudi. Yahudi tersebut menjual airnya kepada umat Islam dengan harga yang tinggi.Utsman mendatangi pemilik sumur tersebut dan melakukan negosiasi. Setelah berdiskusi panjang, pihak Yahudi bersedia menjual sumur tersebut dengan harga 12.000 dirham, tetapi hanya untuk separuh kepemilikan. Utsman mengeluarkan 8.000 dirham lagi dari kantongnya untuk melunasi harga sumur tersebut. Utsman mewakafkan Sumur, sehingga umat Islam bebas mengambil air kapan pun mereka butuh. Para ulama yang memimpin umat sebaiknya juga demikian perilakunya. Jangam sebaliknya ngasih statement kayak gini “Orang Indonesia sudah terbiasa susah. Lagian kalau semua miskin, kan jadi gak ada yang miskin”.
*) Gerilyawan Selatan, Pengamat ikan di dalam kolam