Cinta bisa membingungkan

Oleh : Kurnia Fajar*

Hidup menimbun ingatan, merayakan yang ada dengan yang tak ada -Tokoh Jaya, dalam Film Surat dari praha-

Dari sudut kamar kami, tersebutlah sebuah keluarga yang akhirnya menjadi karib. Tetangga kami ini bertugas di Freeport. Lama di sana dua tahun sudah. Pagi ini dia pulang. Anaknya berlari menyambut, memeluk, menangis sampai bahunya terguncang. Dia rindu. Dia ciumi bapaknya, tak mau pisah lagi. Tuhan mengirimkan malaikat kepada kita, setiap hari. Menjaga, merawat, memelihara kita. Dan kita memanggilnya bapak. Pemandangan yang menyesakkan, tapi menenangkan. Rindu bisa sedahsyat itu. Tiap-tiap bapak, akan kembali ke tempat dari mana dia pergi, menemui pujaan hatinya, tempat di mana dia menitipkan separuh hidupnya: anaknya. Akhirnya, saya tiba di sini : bila cinta bisa semenyenangkan itu, dari mana datangnya bertengkar? Untuk apa?Bapak yang baik, yang menjemput rejeki sampai nun jauh ke sana, pulang menemui buah hatinya. Cinta itu sederhana.

Semalam, melalui jaringan film dan televisi vidio saya nonton film berjudul Surat dari Praha. Dibintangi dengan sangat ciamik oleh Tio Pakusadewo dan Julie Estelle. Film yang mengisahkan cinta seorang eksil dengan kekasihnya di Indonesia. Film ini mengingatkan saya akan perjuangan kehidupan kang Pipiet R. Kartawidjaja yang menjadi eksil dan hidup terasing di Jerman lebih dari 30 Tahun lamanya sampai akhirnya beliau bisa kembali setelah orde baru tumbang. Secara sederhana definisi eksil adalah mereka yang dianggap dan diduga pendukung PKI dan menentang orde baru. Konsekuensinya tentu, akan dipenjarakan jika kembali ke Indonesia. Sehingga mereka diasingkan di negara-negara Eropa tempat bersekolahnya. Film ini juga memberikan sebuah pesan tentang cinta sejati itu sebenarnya ada dan bisa jadi hidup di sekitar kita. Persis seperti quote yang ditulis oleh joko pinurbo “Jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan” Barangkali romansa ini juga satu frekuensi dengan quote-nya Sudjiwo Tejo yang mengatakan “Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu dapat berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa rencanakan cintamu untuk siapa“.

Tokoh Jaya yang diperankan oleh Tio Pakusadewo, seorang eksil yang harus berpisah dari pacarnya yaitu Sulastri diperankan Widyawati dan secara terus menerus mengirimkan surat. Ketika Sulastri meninggal, meninggalkan wasiat agar anaknya Larasati diperankan Julie Estelle menemui Jaya di Kota Praha, Ceko. Kemudian cerita mengalir. Saya terkesima atas Surat dari Praha. Kota yang dingin, hampa, dan mencemaskan. Orang-orang harus pergi, orang-orang yang pergi harus pulang. Rindu. Surat dari Praha setidaknya membuat saya mampu tak tidur. Tentang pencarian, filmis. Cara kita gundah memang tak cukup banyak. Saya suka cara sutradara Angga menuturkan. Runut. Bahwa pilihan kata verbatim, karena memang bahasa ujar kita kaku dan tak kaya. Angga juga cukup jeli dengan tokoh Jaya yang sudah bermetamorfosis menjadi orang Eropa. Politik bisa berubah, dunia berubah namun cinta dan musik tidak pernah berubah. Demikian menurut Jaya. Namun Laras berpandangan sebaliknya, Cinta juga bisa berubah. Malahan cinta menyakitkan jika datang terlambat. Bagi Laras, apa yang dilakukan Jaya sudah membuat ibunya dan juga dirinya menderita. Namun bagi Jaya, itu adalah pilihan hidupnya dan pilihan cintanya. Ia juga mengalami penderitaan hebat karena pilihannya. Jaya tidak dapat memaafkan dirinya sendiri karena gagal memenuhi janjinya pada Sulastri.

Dalam perjalanan hidup saya merasa sudah pernah dilemparkan ke neraka paling dalam, sampai anak dan istri kesulitan makan, dan bersekolah. Situasi ini membuat saya kesulitan memaafkan diri sendiri. Harapan yang tercerabut dari akar kehidupan. Cinta kami diuji. Seharusnya kami tidak saling menyalahkan, namun saling menguatkan. Namun itu tidak terjadi, emosi yang berubah amarah dengan kutub yang sama. Sehingga terjadi gaya tolak-menolak. Kemana perginya rasa cinta itu? Always remember Us this way itu perih. Mati rasa yang disampaikan dengan datar justru mematikan. Kita tak pandai nian menyampaikan lara. Tak cerdas secara emosional. Ujungnya mengeluh, cemas dan gelisah. I don’t wanna be just a memory itu kan memberontak, karena rasa cinta. Di kita malah ngambek. Tiap-tiap kepergian menyisakan rikuem, dan itu memedihkan. Tapi cara menyampaikannya bisa jadi pembeda, tanpa setetes air mata pun di pipi. Kita bahkan tak punya padanan kata yang pas untuk “numb”. Namun seburuk apapun laki-laki tidak boleh menangis. Haruslah seperti semboyan Marinir Amerika Serikat Semper Fi alias tetaplah setia. Seperti Jaya dalam film di atas.

Jaya sepertinya menjiwai quote-nya Tan Malaka “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki para pemuda”. Dia setia pada misinya meskipun akhirnya harus kehilangan cintanya. Saya tidak seperti Jaya, tapi barangkali saya adalah Jaya dalam universe yang lain. Ini tentang cinta saya kepada Istri dan kepada anak-anak. Saya tidak mau menjadi Jaya yang akhirnya kehilangan kesempatan. Duka mungkin terjemahan akhir dan ujung dari cinta. Kondisi ini adalah cara terakhir mencintai seseorang. Pada akhirnya kita menyadari bahwa duka itu takkan pernah berakhir.

*) Gerilyawan Selatan, Pengamat Ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar