Oleh : Kurnia Fajar*

Benar, ada sebagian orang yang menggunakan kata shalat dan sembahyang untuk menyebut shalat, tapi baik shalat maupun sembahyang masih memiliki relasi makna. Sembahyang misalnya, berasal dari dua kata “sembah” dan “hyang” yang berarti menyembah Tuhan (Allah). Kata itu tampaknya sengaja diserap dan kemudian digunakan oleh para penyebar Islam di Nusantara sebagai pendekatan kepada penganut Hindu yang telanjur datang terlebih dahulu ke Indonesia. Melalui pendekatan kata tersebut, makna kata “shalat” juga tak berkurang dari makna awalnya yaitu sebagai sebuah perbuatan untuk menyembah Allah, dan itu berbeda dengan “puasa”. Sama dengan kata “sembahyang”, “puasa” berasal dari Bahasa Sansekerta “upa” yang berarti dekat dan “wasa” yang berarti Yang Kuasa. Makna kata “puasa” yang asli adalah dekat kepada Tuhan yang kuasa. “Upawasa” atau yang kemudian diserap dan dilafalkan menjadi kata “puasa” di dalam Bahasa Indonesia tidak lain adalah sebuah perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan batasan itu, kata “puasa” sebetulnya tak berhubungan secara langsung dengan makna asli dari kata “shiyam” yang dikehendaki dalam Bahasa Arab, yaitu menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan, dan tidak berbicara.
Tidak lalu, kata “puasa” menjadi kehilangan makna. Secara kelaziman, orang yang berhenti untuk makan, untuk minum, untuk berhubungan badan, dan untuk bicara; seharusnya memang dekat kepada Tuhan [berpuasa itu]. Apalagi dalam perkembangannya, makna dari kata “puasa” juga sudah berubah. Dari semula sebagai dekat kepada Tuhan menjadi menghindari makan dan minum dengan sengaja. Paling tidak, begitulah tafsir tentang kata puasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hal yang kurang-lebih sama juga terjadi pada Bahasa Inggris. Bahasa itu sebenarnya tak memiliki kata khusus untuk mengganti kata “shiyam.” Kata “fasting” yang dianggap mewakili makna puasa, bila digunakan untuk menjelaskan sebuah perbuatan yang sengaja tidak makan dan tidak minum, akan sulit dicerna oleh mereka yang dalam kesehariannya berbahasa Inggris [orang Barat]. Masalahnya: pada mereka tidak lazim untuk melakukan “fasting” sehingga kata itu sangat jarang digunakan dan terabaikan. Sebaliknya, kata “fasting” akan mudah dipahami jika terutama disertai konteks tentang Ramadan. Singkat kata, bagi mereka yang berbahasa Inggris [orang Barat itu], “fasting” baru bisa bermakna jika terutama disertai dengan kata “Ramadhan.”
Saya jika ditanya oleh orang, siapa kamu? Saya sering menjawab bahwa saya ini seorang ronin dan avonturir. Bahkan musisi Ferry Curtis juga membuat pengakuan bahwa saya seorang avonturir. Sebagai Ronin yang avonturir tentu saja saya tidak memiliki rumah. Saya berjalan terus dari satu persinggahan ke persinggahan lainnya. Saya memiliki atau diberikan rumah ketika saya menjadi samurai dan menemukan shogun. Dalam perjalanan setiap tahun menapaki ramadan, saya sering termenung dan bertanya, kemana ini semua menuju? Biasanya Ramadan tidak pernah gagal memberikan saya jawaban. Ramadan selalu mampu mencukupi rasa haus saya akan pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Pernah satu masa selepas kanak-kanak saya tak pernah buka di rumah. Selalu di luar. Sendiri ataupun bersama kawan-kawan. Setiap ujung wilayah saya sambangi. Saya serap energi dan vibrasinya. Sadar atau tidak setiap daerah memiliki festival ramadan-nya sendiri-sendiri. Saya menikmati itu semua. Sampai satu ketika saya tiba di satu masa. Saya lelah. Kebisingan dunia telah mengalahkan jiwa. Pada akhirnya kita mencari kedamaian. Tempat buka terbaik itu adalah di rumah. Sholat berjamaah terbaik adalah di mesjid terdekat dari rumah. Apa itu rumah? Ia adalah tempat kamu kembali, tempat dimana orang-orang yang mencintai dan dicintai olehmu berada. Ia bukanlah bangunan fisik. Dimanapun berada sepanjang jiwamu hidup dan merasa tenang. Itulah rumah.
Situasi Ekonomi sedang berat. PHK dimana-mana. Ketidakberdayaan sosial terjadi dimana-mana. Sering saya berfikir pada saat-saat seperti ini apa yang harus saya lakukan? Kata Rasullullah hidup itu hijrah dan hijrah sudah pasti perjalanan. Mau perjalanan fisik maupun perjalanan batin. Ronin ya begitu, dia terus berjalan dan klandestin. Siapa lawan terberatnya? Ya dirimu sendiri cuk! Takut, cemas dan gelisah. Restorasi meiji menggusur para ronin. Tapi ronin ga pernah kalah sama meiji. Ronin kalah sama tagihan perbankan, pinjol dan leasing. Jika debt coll sudah di depan pintu rumah, filsafat udah ga ada artinya. Semuanya tentang survival at the fittest. Puasa pertama-tama haruslah tentang niat. Laku yg hening, makrifat. Pada level yang paling remeh, puasa Ramadan adalah menunggu waktu berbuka. Mengenyangkan perut. Sudah itu saja. Pada level kedua ini tentang memenangkan pertengkaran. Melawan diri sendiri. Tapi ini berlaku di saya. Di kalian, levelnya pasti sudah lebih makrifat. Sudah lebih tinggi. Jalan sunyi. Ada banyak saya kira filsafat Jawa, dan mereka wajib berbagi. Sugih tanpa banda, apa mungkin? Bayar pajaknya gimana? Ini level newbie pemahamannya. Naik ke atas sudah tidak memahami lagi secara tekstual. Kitu ceunah. Orang kalau sudah mumpuni ilmunya, surut ke belakang pun tak masalah. Dia ada dalam ketidak-adaannya. pernah dalam satu masa, kita merasa dia tidak ada, belakangan baru tahu kalau ternyata beliau sedang bekerja. pendiam yg pekerja. Inilah makrifat.
Saya mau ke titik sana, tapi ilmu saya cetek. Ramadan mengajarkan satu hal penting dalam hidup. Yaitu sabar. Perkara yang tidak pernah selesai saya kira. Dalam sabar ada gelisah, cemas, merintih dan mengerang, meminta segera. itu tahapannya makrifat. Bagaimana kita bisa berdamai dengan batas-batas itu sambil tetap khusyuk menghamba pada Nya. Jadi, dengan mencerna situasi makro dan situasi mikro di dalam diri, sebagai avonturir tadi. Rasanya pilihan menapaki jalan sunyi ramadan adalah yang paling tepat. Seiring pertambahan usia. Kita semakin mengerti bahwa akhirnya menemukan Tuhan adanya dalam keheningan. Selamat berpuasa!
*) Gerilyawan Selatan, pengamat ikan di dalam kolam