Harta yang paling berharga adalah Keluarga

Oleh : Kurnia Fajar*

Tahu gak rasanya duduk sendirian habis buka puasa, lihat-lihat ponsel, nungguin sesuatu yang sebenernya kamu sendiri juga gak tahu itu apa? Mungkin nunggu seseorang yang bisa saja itu keluarga, istri, anak, sahabat,  yang tiba-tiba mengirimkan pesan teks, mungkin nunggu suara yang bisa bikin kamu merasa lebih dekat sama rumah. Alih-alih dapet chat malah dapetnya notifikasi berita, promo makanan, tulisan-tulisan inspirasi atau kisah pilu kehidupan. Gak ada hubungannya dengan rasa sepi dan rindu yang sesak di dalam dada. Padahal, kalau di kampung, habis tarawih kamu tidak akan merasa sepi dan sunyi. Selalu ada teman yang ngajak nongkrong, sekadar cari angin atau becanda gak jelas.  Selalu ada suara anak kecil main petasan, bikin orang tua teriak kesel tapi besoknya tetap mereka lakukan lagi.  Ada aroma masakan dari dapur rumah tetangga, ada jalanan yang kamu kenal luar kepala, ada masjid yang sejak kecil jadi saksi tumbuhnya kamu dan teman-teman kamu. Sekarang? Kita berada di lingkungan yang segalanya asing. Masjid yang kita datangi terasa terlalu formal, gak ada yang kita kenal, gak ada yang tiba-tiba manggil nama kita dari kejauhan. Waktu begitu bengis membunuh semua momen-momen itu.

Nasi goreng langganan depan gang udah nggak jualan, jalanan yang dulu sepi sekarang ramai, dan orang-orang yang dulu selalu ada, satu per satu mulai pergi. Buka puasa rasanya lebih sepi, lebih sunyi, lebih banyak jeda buat kita untuk berfikir : Kenapa ya, sesuatu yang dulu kita anggap biasa, sekarang jadi hal yang paling kita rindukan? Betapa Tuhan memberikan pesan bahwa mencari bahagia itu sederhana. Bisa berkumpul dengan orang-orang tercinta, hati yang bertaut jauh lebih berharga dari segudang kekayaan yang kita miliki. Dan kesadaran itu semua selalu datang terlambat. Terus tiba-tiba teman kita ada yang mengirimi pesan “Woy kapan pulang? Ramadan kok malah jauh.” Dan kita hanya bisa diam, merasa ada sesuatu yang narik kita untuk pulang. Tapi pada akhirnya kita sadar, bahwa pulang bukan cuma perkara tempat. Kita bisa balik ke kampung, tapi waktu gak bakal kembali ke cara yang sama. Ramadan yang kita kangenin itu bukan sekadar suasana, tapi kenangan. Dan kenangan itu, sekuat apa pun kita genggam, akan tetap jadi sesuatu yang ada di belakang. Ia menetap di pikiran. “Kamu bisa melupakan orang yang tertawa bersamamu, tapi kamu tidak akan pernah melupakan orang yang menangis bersamamu.” kalimat Bahlil Gibran di atas, duh salah maksudnya Khalil Gibran sangat cocok menemani dalam hening dan sunyi-nya Ramadan ini. Sampai pada suatu titik kesadaran, ternyata kita bukan banyak teman. Hanya banyak mengenal orang. Dulu masih pada susah, ngobrol sms seru banget pdhl 350/SMS. Sekarang seharian WA kosong. Cuma informasi-informasi yang kadang-kadang hanya jadi sampah. Tidak ada lagi keintiman.

Keintiman hanya menjadi ilusi di ruang-ruang imajinasi. Kerinduan dipanggil sahur sama Ibu atau sama Nenek hanya menjadi ciptaan imajinasi belaka. Berpeluh-peluh, terbahak-bahak dalam tongkrongan kini telah usai. Ngobrol sama istri dan anak-anak dalam satu meja makan adalah fatamorgana. Kata seorang senior yang sudah berbilang tahun sendiri “udah terima aja… semakin kamu gak terima, semakin perih rasanya”. Acceptance is the key! Memang perjalanan hidup ini penuh misteri. Seperti mendaki bukit usia. Di setiap etape dinamis sekali rintangannya. Jonathan Rauch di The Happiness Curve bilang kalau rasa kangen rumah bisa jadi motivasi, bukan buat mundur, tapi buat menemukan makna di tempat kita sekarang. Karena kenyataannya, yang kita cari bukan sekadar rumah dalam bentuk bangunan, tapi perasaan tentang rumah itu sendiri, rasa aman, rasa tenang, rasa punya tempat untuk pulang, meskipun bukan di tempat yang sama lagi. Maka tak salah jika dikatakan bahwa harta yang paling berharga adalah Keluarga. Dan definisi keluarga terbaik adalah Rumah!

Manusia, sebenarnya, punya hubungan yang dalam dengan tempat yang mereka anggap sebagai rumah. Di bukunya The Power of Home, John S. Allen bilang kalau otak kita menyimpan kenangan tentang rumah bukan cuma sebagai lokasi fisik, tapi juga sebagai tempat yang penuh makna emosional. Makanya, meskipun udah pergi jauh, ada bagian dari diri kita yang tetap tertinggal di sana. Kadang, rindu rumah itu datang bukan cuma karena kita ingin pulang, tapi karena kita sedang capek. Dunia luar memang seru, penuh pengalaman baru, tapi juga keras. Kita dituntut untuk mandiri, untuk bisa sendiri, untuk kelihatan kuat meskipun sebenarnya nggak selalu sanggup. Dan di saat seperti itu, rumah terasa seperti satu-satunya tempat yang aman untuk kembali. Di buku Nostalgia: A Psychological Resource, Constantine Sedikides dan Tim Wildschut bilang kalau nostalgia itu sebenarnya adalah cara otak kita buat ngasih rasa nyaman di tengah ketidakpastian. Makanya, di saat-saat sulit, kita sering teringat hal-hal kecil yang dulu bikin bahagia, karena itu satu-satunya pegangan yang kita punya ketika dunia terasa nggak menentu. Tapi perasaan ini juga bukan cuma tentang ingin kembali, tapi juga tentang belajar menerima. Jadi kalau malam ini kamu kepikiran rumah, nggak apa-apa. Itu bukan kelemahan. Itu cuma bukti kalau kamu pernah punya tempat yang berarti. Dan itu, lebih dari apa pun, adalah sesuatu yang harus disyukuri. Tabik!

*) Gerilyawan Selatan, pengamat ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar