Oleh : Kurnia Fajar*

Akhir-akhir berbagai peristiwa memprihatinkan terjadi di masyarakat. Mulai dari Viral video sejumlah warga berebut dan menjarah telur yang tercecer setelah kecelakaan mobil pikap vs truk. Mobil pengangkut telur itu bertabrakan dengan truk di Desa Aek Batu, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), Sumatera Utara, Minggu (2/3/2025) pagi. Kernet pikap, Andre Hasudungan Manalu, mengalami luka berat dan meninggal dunia di rumah sakit. Selain telur yang diambil warga, keluarga korban melaporkan kehilangan barang berharga milik Andre, termasuk ponsel, dompet, KTP, dan jam tangan. Peristiwa ini seakan pertanda bahwa telah terjadi kemerosotan empati dalam masyarakat. Padahal satu-satunya modal sosial kita bernegara adalah kesetiakawanan sosial. Saya pernah menulis dan membahasnya di blog ini sekitar 10 tahun yang lalu. Dalam tautan ini ( https://kurfanet.wordpress.com/2016/10/24/distrust-society/) peristiwa ini adalah kegagalan membumikan sikap hidup berpancasila. Pimpinan MPR harus malu. Presiden harus malu. Kita semua harus malu. Para dai dan ustadz juga mesti malu, karena ummatnya kok bisa berbuat nekad begini Di lain sisi ini adalah realitas bahwa kesenjangan sangatlah tinggi, masyarakat sudah sampai titik klimaks tidak bisa bertahan. Harga telur yang mahal dan mereka butuh untuk makan dan sekedar bertahan hidup.
Di sektor lain penguasaan atas alat produksi dan tanah juga terjadi, kasus pagar laut misalnya, ini jika tidak disikapi dengan bijak akan memicu pemberontakan rakyat. Seperti kita ketahui, ketika Kerajaan Belanda masih menguasai Pemerintahan di nusantara alias Hindia Belanda, banyak sekali peristiwa-peristiwa pemberontakan yang terjadi, diantaranya pemberontakan Sarikat Islam yang dipimpin oleh sultan Ibrahim choliludin tahun 1915-1916 di kalimantan. kemudian juga pemberontakan PKI tahun 1926 dan yang terkenal adalah pemberontakan rakyat banten yang juga terjadi di tahun 1926. Kalau baca penelitiannya C Williams tentang Pemberontakan Banten 1926, laporan-laporan pemerintah kolonial menunjukan betapa cemasnya mereka pada gerakan pemberontakan Banten 1926. Williams menulis bahwa tokoh Gerakan Pemberontakan 1926 memiliki hubungan darah dan persekutuan kampung dengan Pemberontakan Petani Banten 1888. Syekh Asnawi Caringin mengumumkan agar rakyat Banten menunda naik haji, sinyalemen agar bersiap siaga. Kemudian terjadi pembelian kain putih besar-besaran. Seorang lintah darat mati di pinggir jalan di daerah Petir, dan dibiarkan saja tergeletak mayatnya. Kalo sekarang mungkin mirip dengan debt collector pinjol. Gerakan senyap jawara yang merobohkan pohon-pohon besar di rumah-rumah pejabat kolonial.
Kata “ngacaprak” yang disampaikan dalam sebuah dokumentasi video bisa diartikan “amoek” dalam sejarah masa bersiap di Indonesia. Yang lebih unik adalah pemberontakan Banten 1926 itu kombinasi antara Ulama, Jawara dan Komunis-priyayi. Disebut Pemberontakan Komunis, tapi semua petani yang terlibat, yang berhasil diwawancarai, mengaku tidak faham komunis. Pada sisi lain disebut gerakan Islam modern juga kurang memadai, karena hampir semua organisasi Islam modern pada masa pergerakan sulit berkembang di Banten masa itu. Williams hanya memastikan satu hal, bahwa orang Banten punya “tradisi memberontak”. Seorang petani Banten pada saat audiensi ke DPR RI kemarin mengatakan “Kalau negara tidak mampu hadapi Aguan, maka jadikan Banten zona bebas hukum biar kami tangani Aguan sendiri”. Jadi inilah yang dikatakan oleh William dalam bukunya. Belum lagi perlawanan Diponegoro terhadap pemerintah, perlawanan rakyat jawa barat yang terkenal dengan peristiwa cimareme 1919 adalah perlawanan rakyat Garut terhadap kezaliman pajak pemerintah kolonial. Peristiwa ini dipimpin oleh KH Hasan Arif, seorang juragan tembakau asal Garut.
Apakah sejarah selalu berulang? Philip Guedalla (1889-1944) yang dikenal sebagai sejarawan dan esais, seorang pop kultur asal Inggris, jauh jauh tahun sudah menjawab pertanyaan itu. Sejarawan kelahiran Maida Vale, London dari sebuah keluarga Yahudi keturunan Spanyol ini mengatakan, “Sejarah berulang dengan sendirinya. Sejarawan saling mengulang satu sama lain.” Karl Marx pernah mengatakan, “Sejarah berulang, pertama sebagai sebuah tragedi dan yang kedua kali sebagai sebuah peristiwa yang absurd”. Sementara itu, Arnold J. Toynbee, seorang sejarawan modern, membahas konsep pengulangan historis. Toynbee percaya bahwa sejarah berulang karena manusia memiliki kemampuan untuk membuat keputusan mereka sendiri. Dari kutipan para ahli di atas sesungguhnya bangsa ini sedang berjalan cepat menuju takdirnya. Jika ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dipertontonkan secara gamblang, maka kisah-kisah perlawanan rakyat ini rasanya akan menemukan puncaknya dalam waktu yang tidak lama lagi. Semoga saja hal itu tidak terjadi dan Tuhan yang maha kuasa melindungi bangsa ini. Sepertinya kita harus mengamini kalimat dari Perdana Menteri Inggris Winston Churchill yang terkenal itu “Mereka yang tidak bisa belajar dari sejarah ditakdirkan untuk mengulanginya.”
*) Gerilyawan Selatan, pengamat ikan di dalam kolam