Oleh : Kurnia Fajar*
“Sesungguhnya ruh jiwa ini akan selalu bersedih selamanya, apapun yang dimiliki olehnya, sebab dunia ini bukanlah tempat tinggalnya.”
(Maulana Jalaluddin Rumi)

Nasehat simbah, hati-hati sama orang yang mengalah. Orang yang disuwarani kepiye mung meneng. Dibong gak kobong, dikum ga teles. Gak bahas. Gak bales. Tenang dan nyegoro. Hati-hati.Orang mengalah bukan tidak berdaya. Orang mengalah itu sedang Neng, Ning, Nung, Nang. Neng itu meneng. Berdiam agar diri menemukan ketenangan. Ning itu wening agar hati menjadi bening. Nung itu merenung dan
Nang itu menang. Sebab yang bekerja bukan dirinya, tapi doanya. Puja pintanya. Poro pinisepuh selalu mengajarkan kita, ngalah itu bukan kalah. Ngalah adalah Nga-Allah; Menyerahkan dan mengembalikan segala sesuatunya kepada Gusti Allah. Dalam Islam, ngalah ini adalah ciri-ciri ketakwaan. Dalam QS Ali Imran ayat 133-134 dikatakan : Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Mari kita elaborasi ciri-ciri ketakwaan itu sebagai berikut
Berinfaq di waktu luang dan sempit. Esensinya adalah kita gak boleh pelit. Jika sedang lapang, rasanya tidak sulit untuk memenuhi perintah ini. Namun ketika dalam keadaan sempit? Ajari saya untuk memahami perintah ini. Sejauh saya belajar ketika sempit yang bisa kita berikan adalah ilmu dan pengetahuan yang kita miliki, tenaga, mungkin senyum dan juga menghibur orang lain. Kemudian ciri yang kedua adalah mampu mengendalikan dan mengelola amarah atau hawa nafsu di dalam diri. Ini berkaitan dengan ego, metodologi yang paling pas adalah melalui puasa. Tuhan menggambarkan rahasia-rahasia mengelola ego melalui puasa. Yang kita inginkan banyak, yang bisa kita muat secukupnya saja. Yang kita tunggu waktu berbuka, yang menyenangkan waktu jelang berbuka. Beragam makanan memenuhi kepala kita. Semuanya kita mau. Ketika buka datang sepotong kue dan segelas air sudah cukup. Tuhan itu pemalu. Dia menampakkan sebagian dariNya dan merahasikan sisanya. Lalu kita menyebutnya keajaiban. Kemudian ciri yang ketiga adalah pandai memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan orang lain ini membutuhkan ketrampilan atau skill, apa itu? Pertama gak pelit dan yang kedua adalah kemampuan mengelola ego. Jika kita sudah mampu memaafkan orang lain, rasanya paripurna. Bagaimana itu?
Jika kita sudah bisa memaafkan orang lain maka kita akan terbiasa dan terlatih untuk mengalah. Dan kemenangan sudah sedikit lagi. Terlalu sesak ruang kita diisi oleh aku, kamu, dan ego kita. Salah-satu harus cukup rendah hati untuk mengalah. Sing waras ngalah. Gitu kata simbah. Mereka yang memaafkan percaya bahwa luka akan sembuh oleh waktu. Sementara yang tak percaya mengatakan bahwa rasa respect akan hilang. Barangkali teladan memaafkan di Abad ini adalah Nelson Mandela. Perjuangannya menjadi kecil dibandingkan kemampuannya memaafkan musuh-musuhnya. Dari beliau kita Belajar untuk mengedepankan welas asih atas perlakuan orang lain atas dirimu. Berikan makan pada yang lapar, tawarkan istirahat pada yang lelah, berikan obat pada yang sakit. Jadi, ketika ditanya, “Kamu sudah memaafkan dia yang mematahkan hatimu?”, lalu kita jawab bahkan lantang, “Iya, aku sudah memaafkannya”. Itu barangkali tanda kamu belum benar-benar memaafkan. Memaafkan itu berkurangnya ego. Ketika mengatakan aku sudah memaafkan itu berarti masih ada ego-keakuan. “Hidup itu tentang belajar, gagal, dan bangkit lagi.” Hidup adalah perjalanan belajar tanpa akhir,kadang kita melukai,kadang kita terluka. Semua orang pernah salah langkah, keliru mengambil keputusan, atau gagal memahami sudut pandang orang lain.
Akhirnya pada jiwa ini kita mencoba untuk tiwikrama berjanji untuk bertahan dan juga mencapai takwa seperti kata ayat Ali Imran di atas tadi. Tetaplah bertahan ya, apapun yang kamu rasakan hari ini, bagaimanapun hidup membenturmu kali ini, berapapun sakit yang kamu terima saat ini. Karena akan selalu ada alasan kenapa kamu harus tetap bertahan. Jangan biarkan omong kosong yang ada di kepalamu menghancurkanmu. Percayalah bahwa melanjutkan hidup itu lebih baik. Lihatlah hal-hal kecil di sekelilingmu, jika tidak bisa bertahan untuk orang lain, setidaknya bertahanlah untuk dirimu sendiri untuk alasan sekecil apapun. Untuk bertemu musim hujan selanjutnya, untuk indomie di jam 2 pagi, untuk musik kesukaanmu yang selalu kamu putar, untuk langit biru yang selalu menarik perhatianmu, untuk tempat-tempat indah yang belum pernah kamu kunjungi, untuk makanan-makanan enak yang belum pernah kamu cicipi, atau untuk senyum tulus yang selalu kamu lihat dari orang yang kamu sayangi. Kamu harus yakin bahwa rencana Tuhan dan pertolongan-Nya jauh lebih luas dari kesakitan ini. Aku, kamu, dan janji kita untuk tak menyerah. Bagaimana cinta bisa sekuat itu? Nyalakan harapanmu.
*) Gerilyawan selatan, pengamat ikan di dalam kolam