Oleh : Kurnia Fajar*

Kebudayaan Jawa khususnya di Ndalem kasunanan, Kasultanan, Kabupaten dan Kadipaten sangatlah Feodal dan Patriarki. Bentuk yang konkrit biasanya disematkan kepada nama dan gelarnya sebagai penguasa gelarnya adalah susuhunan senapati. Sebagai kepala pemerintah gelarnya kawula tanah jawi. Sebagai pemimpin agama gelarnya sayyidin panatagama. Ada Falsafah jawa tentang dipangku raja mati ini asalnya dari huruf dalam aksara jawa, dengan filosofi “sandhanganpangkon”, yang fungsinya mematikan huruf. Disimpan diakhir kata. “Wong Jawa bakal mati yen dipangku” — ini artinya: manusia akan jinak kalau diberi kebaikan. Raja pun akan tunduk kalau disantuni. Hakekat dipangku menimbulkan rasa ketenangan dan ketentraman. Sehingga itulah kenapa perempuan senang dipangku, karena dalam alam bawah sadarnya ia memerlukan keamanan, perlindungan dan ketenangan finansial. Rasa aman dan nyaman karena dipangku itu melahirkan suatu kewajiban namanya Bhakti. Dalam tataran yang agung dinamakan dharma bakti. Bakti adalah sikap melayani dan mengikuti segala urusan tanpa hak untuk bertanya ataupun protes. Konsep ini berlangsung berabad-abad dan kita menyebutnya patriarki. Bahkan sistem patriarki ini dilestarikan untuk mengendalikan pikiran dan menghindari perlawanan baik dari masyarakat di level bawah maupun dari perempuan-perempuan yang ingin berfikiran maju, setara atau kita menyebutnya Emansipasi dan mereka yang mengusungnya kita sebut dengan Feminis.
Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama. Dalam sistem ini, laki-laki mendominasi dalam berbagai aspek kehidupan, seperti politik, moral, sosial, dan properti. Ciri-ciri patriarki : Laki-laki dianggap lebih tinggi kedudukannya daripada perempuan ; Perempuan harus dikuasai oleh laki-laki ; Laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama, sementara perempuan mengurus rumah tangga dan merawat anak. Sedangkan Matriarki adalah sistem sosial di mana perempuan memiliki kekuasaan tertinggi dalam keluarga. Dalam sistem ini, perempuan memiliki hak istimewa, otoritas moral, dan kendali atas properti. Ciri-ciri matriarki : Ibu atau wanita dewasa memiliki kekuasaan mutlak dalam keluarga ; Perempuan memiliki kekuasaan untuk memilih pasangannya ; Anak-anak akan mengambil nama keluarga dari ibu mereka dan warisan diwariskan melalui garis keturunan ibu. Barangkali kita bisa melihat masyarakat minang yang mengambil jalan ini. Saya berpendapat, Patriarki yang berlebihan jelas melanggar HAM, pun sebaliknya Feminisme yang berlebihan melanggar HAM. Lalu yang seperti apa hubungan terbaik antara laki-laki dengan perempuan? Tidak ada yang ideal karena dinamikanya sangat rumit.
Dipangku Raja mati punya beberapa makna misalnya : Nek dipangku, Mati. Dipangku diartikan sebagai Simbol Kekuasaan, dan mati diartikan sebagai tidak memiliki kekuasaannya. Ini misi penjajah bahwa, Bangsa Nusantara, jangan jadi pemimpin, yang memimpin Aku saja (diartikan Belanda). Seandainya ada pemimpin dari Bangsa Nusantara, dicarikan Pemimpin yang lemah. Seandainya ada yang kuat, maka diperangi, untuk diganti yang tunduk dengan belanda, lewat tangan-tangan bangsanya sendiri. Makna kedua adalah siapapun yang menjadi raja harus dipangku alias dipuja-puji sehingga bisa dikendalikan alias mati. Ini mirip Mati yen dipangku” kemudian dianggap menjadi salah satu bagian dari manajemen kepemimpinan Jawa. Sebagai penerapan dalam gaya kepemimpinannya, jika saat memimpin ada orang yang dianggap sebagai ancaman, bahkan musuh, sebaiknya jangan dimusuhi. Dekatilah dia, kalau perlu berikanlah kedudukan atau jabatan yang layak sehingga akan merasa berhutang budi, dan dengan begitu niscaya akan mendukung yang memimpin. Tafsir atas dipangku raja ini dinamis sesuai dengan posisi kita dalam masyarakat. Namun dalam kenyataan ini sebuah metode yang ampuh dan benar.
Kekuasaan dan melayani adalah dua kata yang sering bersinggungan misal kita lekatkan pada Pemerintah, kita bertanya itu melayani atau berkuasa? Dalam Republik demokrasi, negara adalah representasi kekuasaan yang membentuk pemerintah untuk melayani. Jadi kita menitipkan kekuasaan pada negara dan negara membentuk pemerintahan yang melayani kita sebagai pembayar pajak. Kebutuhan akan rasa aman, nyaman, tenang. Diberikan jaminan sosial, jaminan memiliki pekerjaan. Apakah pemerintahmu sudah melayani atau malah berkuasa?
*) Gerilyawan selatan, pengamat ikan di dalam kolam