Dialog Imajiner para filsuf pas diajak buka bersama

Oleh : Kurnia Fajar*

Menjelang waktu berbuka, pikiran saya melayang, membayangkan bahwa saya memiliki sebuah group WA yang isinya para filsuf dunia, saya mencoba memasuki alam pikir mereka dengan mengajukan sebuah pertanyaan, Wahai para Filsuf kita buka bersama yuk? Lalu mereka membalas pertanyaan saya dengan jawaban-jawaban sebagai berikut : saya akan mulai dengan Albert Camus filsuf Prancis yang memenangkan Nobel Sastra pada tahun 1957. Camus me-reply “oke min, aku ikut bukber kalo di rumah makan padang karena takjil dan teh tawarnya gratis. Kemurahan hati yang sejati terhadap masa depan terletak pada memberikan segalanya pada saat ini.” Kemudian Tan Malaka sang Bapak Republik menimpali “aku akan ikut bukber dengan catatan haruslah memasak dari awal karena sebetulnya cara mendapatkan hasil itulah yang lebih penting daripada hasil sendiri”. Kemudian Karl Marx ikutan jawab ” Apakah ini buka bersama atau eksploitasi buruh restoran yang bekerja tanpa upah layak? Aku akan hadir jika semua orang mendapatkan makanan secara setara dan tidak ada kapitalis yang mengambil untung dari acara ini. Wow, tampaknya mulai keras statement dari Marx. Lamat-lamat aku perhatikan Hegel terlihat sedang typing namun tak kunjung terkirim, aku penasaran, aku penasaran apa yang sedang ditulisnya

Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Filsuf asal Jerman ini akhirnya menulis ” Buka puasa bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang dialektika antara kebutuhan individu dan ruh absolut dalam kehidupan sosial. Aku akan datang, sebab hanya dalam interaksi konkrit kita akan memahami hakikat kebersamaan. Tan Malaka, Karl Mark dan Albert Camus langsung memberikan tanda jempol pada pernyataan Hegel sebagai tanda setuju. Aku sebagai Admin Group Whatsapp bertanya lagi, silakan yang lain yang akan hadir dan bergabung siapa lagi. Tampak Nietszhe mulai typing dan terlihat menggebu-gebu, begini katanya ” buka puasa hanyalah manifestasi dari mentalitas budak yang tunduk pada hukum eksternal. Namun jika ada steak dan anggur yang lezat aku akan hadir. Baru saja Nietszhe selesai bicara Rumi terlihat risau dan ingin menyampaikan uneg-unegnya. “Bersikaplah baik pada dirimu sendiri, sayang–terhadap kesalahan polos kita. Lupakan suara atau sentuhan yang tidak membantumu menari. Kamu akan melihat bahwa semuanya membawa kita untuk berkembang. Untuk menghormati dan berkembangnya diri, maka aku akan hadir” demikian tandas Rumi. Kierkegaard filsuf pendiam akhirnya malu-malu mulai menulis begini katanya “apakah buka puasa ini akan membawa manusia lebih dekat kepada Tuhan atau hanya menjadi perayaan sosial yang hampa? Aku mungkin datang, namun jiwaku akan tetap gelisah mencari makna sejati dari persahabatan”. Tiba-tiba Nietszhe menyela “Tuhan sudah mati!” Pernyataan ini dibalas dengan emoticon jempol oleh Marx dan emoticon tertawa terbahak-bahak oleh Camus.

Sesaat group whatsapp sepi, tiba-tiba Diogenes mulai menulis “Apakah dalam buka puasa nanti disediakan umbi, jika ada, ya aku akan datang karena mereka yang hidup dari makan umbi, tidak akan menjilat penguasa”. Isaac Newton tiba-tiba mengirim emoticon tertawa sampai keluar air mata menanggapi pesan yang dikirimkan oleh Diogenes. Kemudian terlihat dia mulai typing. “Aku setuju dengan Camus, kita berbuka di rumah makan padang Sederhana saja karena Kebenaran selalu ditemukan dalam kesederhanaan, bukan dalam keragaman dan kebingungan”. Sekarang giliran Hegel yang ngakak guling-guling mendengarkan penuturan Newton. “Baiklah aku setuju, kita ke rumah makan padang Sederhana saja”. Sekarang giliran Tan Malaka yang merasa tersanjung dengan keputusan ini. “Tarimo kasih dunsanak sadonyo”. Giliran aku selaku admin group bicara, tapi ngomong-ngomong sesepuh kita ayahanda Socrates, Rene Descartes, Aristoteles dan Ramanda Plato kok belum muncul ya? Rumi menyela “mohon maklum, namanya juga aki-aki ngetiknya lama, nanti juga muncul”. Malahan Spinoza yang tampaknya mulai typing bergantian dengan Emanuel Kant yang juga mulai typing “Semua hal adalah bukti eksistensi Tuhan maka dari itu aku akan hadir berbuka puasa bersama kalian”. Demikian Spinoza memberi pernyataan. Selesai menyampaikan pernyataan Nietszhe langsung menyela dengan emoticon menjulurkan lidah diikuti marx yang memberi emoticon manyun dengan gambar hati.

Dilanjutkan dengan pernyataan Kant “saya setuju dengan berbuka puasa di rumah makan padang sederhana, masakan padang adalah puncak peradaban manusia, bercampurnya budi luhur manusia dalam bentuk makanan. Dalam semua penilaian yang kami gambarkan sebagai sesuatu yang indah, kami tidak mengizinkan siapa pun untuk berpendapat lain”. Lagi-lagi Tan Malaka kegirangan dengan pujian Kant, ia memberikan emoticon jempol bahkan tidak tanggung-tanggung ia berikan 5 jempol. Akhirnya para sesepuh filsuf mulai berdatangan, Plato berucap “saya menemukan cinta dalam group Whatsapp ini. Cinta adalah sebutan bagi pengejaran kita akan kesempurnaan, bagi keinginan kita untuk menjadi lengkap”. Socrates menimpali “kami yang tua-tua ini ngikut aja mau makan dimana tapi yang sehat ya, karena kami ingin berumur panjang karena satu-satunya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui bahwa Anda tidak tahu apa-apa.” Descartes yang paling akhir cuma nulis Cogito ergo sum! Itupun bentuknya sticker. Males banget begitu pikirku. Tiba-tiba aku tersadar, Ooh pantesan dia gak nulis panjang-panjang karena dia sedang mikir, pernyataan itupun sekaligus menegaskan bahwa ia akan hadir. Baiklah bapak-bapak Filsuf yang baik hati. Sampai jumpa nanti sore di rumah makan padang. Tabik!

*) Gerilyawan Selatan, Pengamat ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar