Oleh : Kurnia Fajar*

“Di dalam cinta, mimpi adalah kenyataan”. -Sudjiwo Tedjo.
Pernahkah anda memiliki sahabat, saudara, pacar, istri, kerabat, teman yang mendekat kepadamu ketika tak berdaya seperti “lame duck” kepayahan dan tak mampu mengangkat kepalamu sendiri. Di saat itu terjadi barulah engkau akan sadar bahwa ketulusan adalah sesuatu yang mahal, kesetiaan adalah sesuatu yang mewah. Dan jika kita menengok ke belakang, ke dalam perjalanan hidup barulah kita akan sadar dan mengerti bahwa yang tulus menghormati, menghargai dan mencintai keberadaan diri ini ternyata masih kurang dari jumlah jari di tangan. Sejatinya persahabatan ada karena kesamaan. Persaudaraan terjadi karena kepentingan, seperti yang pernah dikatakan oleh tokoh Norwegia. Aku percaya bahwa Tuhan telah menciptakan hari dimana orang lain akan bertepuk tangan atas apa yang kita kerjakan. Entah hal baik atau buruk mereka tetap akan bertepuk tangan dalam diksi pujian atau cemooh akan terasa menghujam ke dalam dada. Empati? Jangan harap itu akan terjadi. Ketika engkau punya masalah 20% tidak akan peduli dan sisanya 80% akan senang kau mendapatkan masalah. Begitulah dunia berjalan. Sadis ya? Tapi begitulah, don’t be Naif!
Kesadaran akan hal itu biasanya muncul di saat-saat hampa. Sutradara dan aktor Amerika Serikat Orson Welles menulis “Friends creates only the illusion of not being alone”. Ketulusan dan kesetiaan itu soal rasa, ia boleh ditafsirkan bebas baik oleh obyek maupun subyeknya. Namun seberapa hebat anda menafsir. Waktu jua-lah yang akan menemukan kebenarannya. Jadi, ketulusan dan kesetiaan baru akan diketahui setelah peristiwanya berlalu, ia ibarat kenangan. Menetap dalam diri selamanya. Seperti kisah cinta segitiga antara Rahwana, Rama dan Shinta dalam mitologi Ramayana. Tafsiran umum kisah Ramayana akan menyatakan bahwa kisah cinta sejati antara Rama dan Shinta. Sementara Rahwana adalah tokoh antagonis yang merebut istri Rama secara tidak sah! Namun jika kita telusuri lebih mendalam, maka sesungguhnya yang dilakukan oleh Rahwana adalah sebuah peristiwa cinta yang penuh dengan ketulusan. Berikut saya coba tafsirkan ramayana untuk memberikan gambaran utuh betapa ketulusan Rahwana harus dibayar dengan kehilangan kekuasaan dan bahkan nyawa-nya pun ikut hilang
Berabad-abad kita mengenali mitologi Ramayana melalui kebesaran Sri Rama dan kesucian Sinta, baik yang dituturkan para dalang maupun yang dituliskan para pujangga. Kondisi ini membuat kita tak sempat merenungkan perilaku para tokoh dalam mitologi besar ini. Menyebabkan kita merasa apapun yang terkabar dalam mitologi Ramayana adalah baku, pakem, sakral, dan kebenaran mutlak belaka. Rahwana selalu digambarkan sebagai tokoh yang kuasanya berlebihan, tanpa batas, serakah, pemarah, dan sangat jahat, atau Sri Rama yang selalu digambarkan sebagai tokoh kebenaran yang menjadi korban kebengisan Rahwana. Penggambaran karakter sedemikian itu, terlalu baik dan terlalu jahat, memposisikan mereka menjadi sekedar dongeng belaka dan terjauhkan dari nilai kemanusiaan. Diperlukan sebuah cerita baru berupa review, refleksi, dan antitesis kepada kondisi beku seperti tertulis di atas. Ketika tafsir baru lahir menggugat konvensi yang tertanam ratusan tahun silam, seperti Ramayana, adalah kesempatan emas untuk terjadinya dialektika dan perang gagasan yang akan memperkuat nilai dan rasa kebanggaan Negara yang berbudaya.
Pada saat Rama dan istrinya Shinta serta adiknya lesmana berburu sampai jauh ke Hutan dan sudah masuk Hutan Alengka yang dikuasai Rahwana. Seketika CCTV dan alarm di kerajaan berbunyi, lalu diperintahlah punggawa dan telik sandi-nya untuk memeriksa siapa yang sudah melanggar wilayah kedaulatannya. Namun dari CCTV istana Rahwana melihat ada perempuan cantik sekali. Rama, Shinta dan Lesmana berjalan di hutan, Shinta melihat seekor kijang yang cantik. Shinta lalu meminta Rama memburu kijang itu. Rama pun menuruti permintaan kekasihnya. Lama tak kembali, Lesmana yang khawatir terhadap kondisi kakaknya, Rama, lalu pergi menyusul dan membuat lingkaran sakti untuk melindungi Shinta. Tapi ternyata, kijang tersebut merupakan jebakan. Dia merupakan penjelmaan salah seorang anak buah Rahwana. Rahwana ingin menculik Shinta karena menurutnya Shinta merupakan titisan Dewi Widowati, wanita yang sangat dicintainya. Ketika Rama dan Lesmana sudah jauh, Rahwana incognito langsung menemui Shinta dan berkata “kamu siapa? Lagi ngapain di wilayah kedaulatanku tanpa visa dan clearance dari Imigrasi Hah?” Rahwana berkata dengan tegas dan keras. Aku adalah Shinta, istri Rama dari kerajaan ayodya. Shinta menjawab tak kalah tegas. “Shinta kamu cantik sekali, hatiku tiba-tiba lumer.
“Selain membawa dan menawan Sinta, istri Rama, Rahwana dalam beberapa keterangan dikenal sebagai Raja Alengka dari Dinasti Matahari keturunan Raksasa/Raksha/ Pelindung/Penjaga, berdarah Brahmana dan Dewa, seorang Buddhis Mahayana pemuja taat Dewa Siwa, Mandraguna penakluk tiga dunia, terpelajar, seniman pencipta alat musik Ravanahatta dan Nyanyian/Tarian Siwa, penemu ramuan ayuvedic, ahli strategi perang, pemimpin dari peradaban dan teknologi paling tinggi di masanya yang begitu dikenang serta dipuja banyak orang termasuk wanita, terutama di negerinya. Ini hal yang menarik untuk dikaji tentang mengapa nasib Rahwana yang musuh-musuhnya menghukum dia dengan dihapus semua warna putih dirinya, hanya karena perasaan cinta yang tak tertahankan kepada Sinta, yang dia sendiri tidak mampu melawannya. Kemudian dia dinyatakan kalah dalam perang melawan Rama. Dia akhirnya jatuh dalam hasrat, jatuh dalam asmara, jatuh dalam cinta, juga jatuh kariernya sebagai manusia dan maharaja. Seiring dengan itu, seakan citranya pun menghitam bersatu dengan kekalahannya dan dikabarkan ke seantero jagat oleh Rama/Para Pemenang Perang/Musuh-musuhnya, sambil memberi julukan kepada Maharaja Alengka itu: Sang Angkara! Ini adalah refleksi bahwa hakekatnya tidak ada kepribadian hitam atau putih yang sempurna dalam diri seseorang. Hitam dan putih adalah satu balutan. Dan di antara itu selalu ada beberapa bagian yang abu-abu yang kadang kita menerimanya dengan alasan agar hitam dan putih itu tetap stabil.
Karena itu, jika cintamu melampaui batas pikiran dan kekuasaan, dianggap melanggar tatanan yang sudah jadi bagi sekelompok orang, membuatmu kalah di dalam kemenangan, apa yang mesti ditakutkan? Biarlah terjadi keonaran. Biarlah, meski sejarah akan dicatat oleh para pemenang, seperti Rahwana yang kalah karena cintanya sendiri.” Bagaimana ketika cinta harus berhadapan dengan hegemoni kekuasaan dan politik pencitraan, yang berakhir dengan peperangan, maka kita akan dihadapkan pada kerumitan kesimpulan siapa yang pantas diberi predikat yang benar siapa yang bersalah, dan siapa yang abu-abu.
Begitupun latar belakang dari terjadinya perang besar antara Alengka melawan Rama dan balatentaranya. Rahwana, Maharaja Alengka oleh banyak orang diklaim sebagai tokoh yang paling bertanggung jawab atas meletusnya tragedi itu, karena cintanya yang tak tertahankannya sehingga dia membawa dan menawan Sinta, istri Rama, dari hutan Dandaka ke taman Argasoka Alengka. Padahal Rama, suami Sinta, selain untuk membawa kembali isterinya, diapun berniat untuk membumi hanguskan seluruh klan Alengka, sehingga jalan peperangan dipilihnya sebagai solusi untuk menyelesaikan dua perkara ini sekaligus.
Namun di tengah persiapan selama 3 (tiga) tahun Rama menyerbu Alengka, ada yang luput dari perhatian banyak orang, yaitu apa yang terjadi di antara Rahwana dan Sinta ketika sama-sama mereka menunggu kedatangan Rama yang cukup lama? Bukankah tiga tahun adalah waktu yang tidak sebentar? Bukankah situasi penawanan bisa menumbuhkan benih-benih cinta karena seringnya perjumpaan, atau rasa frustasi karena merasa diabaikan dan merasa tidak dibuat berarti?
*) Gerilyawan Selatan, Pengamat ikan di dalam kolam