Oleh : Kurnia Fajar*

Tadi dini hari sambil menikmati makan sahur, salah satu WA group berbunyi dan mengabarkan bahwa aktor Mat Solar pemeran Bajuri dalam sinetron Bajaj Bajuri wafat. Kemudian saya lihat dalam postingan akun medsos Rieke Diah Pitaloka yang juga mengabarkan hal yang sama, Bajuri dan Oneng adalah legenda. Ia mewakili jeritan kaum miskin perkotaan, kaum urban yang tinggal di kota. Dalam postingan duka-nya Rieke Diah menulis “Abang, maafin Oneng belum bisa perjuangin hak Abang”. Bahkan hingga akhir usianya pun Bajuri tetap memperlihatkan sosok manusia termajinalkan yang hak-haknya direnggut oleh negara. Setiap teringat Bajaj Bajuri saya selalu teringat dengan suasana puasa. Adegan-adegan satire tersaji, dimana Bajuri terlambat sahur dan dibilang sebagai barokah. Atau adegan pas di pangkalan bajaj ketika membuktikan puasa dengan menyemburkan bau mulut. Ada semacam suasana bahwa jika puasa ya harus ada Bajaj Bajuri. Meskipun kehadirannya kemudian tergantikan oleh Para pencari Tuhan namun Bajuri dan oneng tetap punya tempat dalam sanubari masyarakat. Akhirnya Bajaj bajuri mewakili suara kaum marjinal yang teramat sulit untuk keluar dari lingkaran kemiskinannya. Seolah kekayaannya hanyalah ilusi semata.
Belum selesai kaget dengan wafatnya mat Solar, keadaan ekonomi yang sedang tidak baik-baik aja membuat Ramadan kali ini begitu berbeda. Indeks harga saham gabungan yang jatuh. Pedagang takjil dan juga penganan puasa yang menurun omzetnya. Tanah abang dan pasar baru bandung juga turun kata istri saya. Survei IQ Nielsen tengah tahun lalu untuk outlook 2025 menyebutkan orang kuatir pada 2 hal. Harga makanan naik. Kedua ketidakpastian ekonomi. Ini menyebabkan orang menahan diri untuk belanja. Ini buat yang msh ada duit ya. Yang sudah tidak memegang uang ya emang udah nahan dari sejak pandemi covid. Harga makanan naik sebenarnya tidak terjadi. Negara bagus menjaga inflasi. Tapi kadang tetap ada aja yang merasa harga mahal karena kemampuan ekonominya sudah menurun. Yang jadi PR adalah perasaan ketakutan pada ekonomi turun. Ketidakpastian ekonomi. Ini soal persepsi. Pertamax mungkin menyumbang di sini. Belum berita-berita lain yang ada di sosmed. Kurang gairah ekonomi. Akibatnya menahan diri belanja. Pun dari akhir pandemi, konsumen sudah mencari produk yang lebih ekonomis. Loyalty pada brand sudah tidak tinggi lagi. Makanya banyak brand (makanan terutama), mulai ketar ketir. Orang lebih mencari yang lebih murah. Atau generic brand aja.
Belum lagi penurunan jumlah kelas menengah. Padahal kelas menengah ini kunci konsumsi rumah tangga nasional. Mereka secara jumlah 17%, tp kontribusi 37%. Mereka nahan belanja saja akan menyebabkan kelesuan pada konsumsi nasional. Dan konsumsi kontribusinya 54% thd total GDP. Apakah THR yang akan dibagikan akan menyelamatkan ini? Saya berharap iya. Tapi kalau persepsi ketidakpastian ekonomi tidak berubah. Orang akan berhati-hati alias pelit dalam membelanjakan THR. Pemerintah dan juga pelaku bisnis harus meyakinka warga kalo ekonomi baik-baik saja. Tapi bukan sekedar ngomong-ngomong, teriak-teriak dan hormat militer. Harus dengan aksi-aksi nyata. Kebijakan yg diterima akal sehat warga. Balik lagi pada kondisi masyarakat yang sudah kepayahan ini akan menunggu momentum bangkit atau terpuruk.Barusan baca survey LPEM soal kondisi ekonomi sekarang Hasilnya, economic growth, labour market, business environment saat ini memburuk dibanding 3 bulan lalu dan akan lebih buruk lagi ke depan. Ngerinya, responden survey tersebut adalah expert dan ekonom. Menyeramkan. Soal kebijakan, menurut mayoritas responden pun, kebijakan moneter, fiskal, dan sektor keuangan tidak memberikan efek apapun terhadap stabilitas ekonomi dan growth.
Mayoritas mengatakan kebijakan sekarang itu tidak efektif terhadap labour market. Intinya, evaluasi kinerja 100 hari pemerintahan baru dinilai tidak efektif, terutama soal inklusifitas dan mengurangi kesenjangan. Kebijakan yang menurut mereka betul-betul efektif cuma diskon listrik. Faktanya memang perekonomian kita 5 tahun terakhir itu pro elit bukan pekerja. Real wage growth di bawah GDP growth. Artinya growthnya lari ke elit. Terasa sekali di periode kedua pemerintahan jokowi. Alhasil kita mengalami immiserising growth (perekonomian tumbuh tp kesejahteraan masyarakat menurun). Itu ditandai dgn menurunnya kelas menengah.
Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperkuat Taqwa. Semoga kita bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Siang dan malan diisi kebaikan, memperbanyak membaca Al-Qur’an. Agar jadi penerang hati yang mulai kelabu. Ramadan bukan hanya tentang puasa, itu juga menjadi pembelajaran bagi kita untuk menjaga diri dari hawa nafsu dan dosa. Semoga kita senantiasa mengingat dan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jika kita merunut kepada “membaca pertanda” nya orang Jawa, wafatnya Bajuri, Ramadan dan ekonomi lesu, rasanya kita harus bertanya. Apakah ini yang dicita-citakan para pendiri bangsa? Semua murung! Tabik!
*)Gerilyawan Selatan, pengamat ikan di dalam kolam