Homo deus, Homo socius and homo consumens

Oleh : Kurnia Fajar*

Sudah berhari-hari kita dijejali berita seorang figur publik — yang dinarasikan jatuh miskin karena selalu menolong keluarga besarnya. Awalnya saya acuh dengan berita itu. Tapi malam ini saya putuskan untuk sekadar menulis status tak penting ini. Karena banyak pesohor yang menggiring opini bahwa menolong saudara itu penyebab kemiskinan. Begini. Sebagai Muslim saya percaya 1000℅ Qur’an itu kalam Tuhan. Pasti benar. Ada satu ayat favorit saya: Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula [QS 55 : 60]. Dengan nash pendek ini mustahil kebaikan akan berbuah keburukan. Titik. Tanpa koma, tanpa debat ini itu. Lantas mengapa si pesohor disebut jatuh miskin karena menolong keluarga besarnya? Nah, di sini kita harus agak relax sedikit. Secara filosofis, kita harus mendefinisikan dahulu apa itu ‘miskin’, dan apa itu ‘kaya’. Okelah, mungkin kita coba berpikir jernih. Kita coba sepakati apa itu ‘kaya’. Sebagian besar orang mungkin mendefinisikan kaya adalah uang, harta, dan aset. Sesimpel itu. Tentu itu tidak keliru. Tapi itu tak sepenuhnya benar. Guru-guru saya mengajarkan kekayaan terpenting adalah rasa senang untuk bersujud pada Tuhan — terlebih di sepertiga malam terakhir. Dan banyak kekayaan lain yang lebih penting ketimbang uang. Antara lain: waktu luang, keluarga yang baik, pasangan yang selalu support, kesehatan, lingkungan, nama baik, kebebasan, keamanan dan lain-lain.

Mengapa orang menjadi bangkrut (secara finansial)? Ada banyak penyebab. Secara umum kita pasti bangkrut karena harta kita bisa jadi tak berkah. Coba cek, bagaimana cara kita mendapatkannya. Tanyalah pada lubuk hati kita terdalam. Hal lain yang patut kita pertanyakan, apakah kemudian nikmat rezeki itu digunakan dengan benar, jauh dari maksiat? Tentu masing-masing kita yang bisa menjawab. Secara natural kita mahluk pendosa. Tapi kita selalu punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Tak berlama-lama dalam kubangan maksiat. Kita ini hanyalah hamba Tuhan. Tugas seorang hamba tentu merutinkan semua kewajiban yang diberikan — semampu, sekuat tenaga. Mustahil Tuhan abai pada mahluk-mahluk yang bersungguh-sungguh menjalani koridor langit. Jika ada manusia yang selalu merasa sempit, bisa dipastikan hubungan dengan Tuhannya tak oke. Saya kira kisah di atas adalah satu simulasi lengkap bahwa manusia adalah Homodeus, Homo Socious dan Homo consumens.

Manusia sejatinya adalah makhluk sosial, atau dalam ilmu sosial sering diistilahkan Homo Socius. Sudah menjadi fitrah manusia untuk saling berhubungan satu sama lain untuk keberlangsungan hidupnya. Dalam dunia filsafat eksistensialisme ada kalimat sadis L’Enfer, c’est les autres yang ditulis oleh Jean Paul Sartre dalam naskah drama-nya Huis Clos tahun 1944. Kalimat ini sering disalahpahami sebagai pernyataan sinis bahwa interaksi dengan orang lain adalah siksaan. Namun Sartre tidak sekedar menyatakan bahwa manusia lain adalah sumber penderitaan. Melainkan juga mengungkap paradoks keberadaan kita dalam dunia sosial. Hakekatnya manusia itu Homo Deus, Homo Socius dan Homo consumens. Karena ketidaktahuannya, manusia memerlukan Tuhan. Setidaknya itulah menurut Harari. Sedangkan Erich Fromm menyampaikan manusia adalah Homo consumens. “sebagai manusia, kita tidak punya tujuan kecuali memproduksi dan mengkonsumsi terus menerus”. Dalam dunia yang semakin transparan dan penuh ekspektasi, pertanyaan besar yang harus kita jawab bukanlah bagaimana kita bisa melepaskan diri dari tatapan orang lain, tetapi bagaimana kita bisa tetap menjadi diri sendiri di tengah neraka sosial yang mengintai. Untuk itulah sikap Ketuhanan, sikap Sosial dan sikap kita memproduksi dan mengkonsumsi sesuatu akan menentukan jiwa survival di jaman serba cepat ini.

Huis Clos, sebuah kisah tentang tiga individu yang terjebak dalam sebuah ruangan setelah kematian. Tidak ada api neraka, tidak ada penyiksaan fisik. Hanya keberadaan mereka yang tidak bisa dihindari satu sama lain. Seiring waktu mereka semakin menyadari bahwa penyiksaan terbesar bukan dari api neraka atau dari Tuhan melainkan dari pandangan sesama. Sartre juga menjelaskan bahwa kesadaran diri tidak hanya ditentukan oleh pemikiran kita sendri melainkan juga oleh bagaimana kita dilihat oleh orang lain. Meskipun pemikiran sartre ini lahir pada awal abad ke 20, namun kelihatannya sangat relevan dengan situasi saat ini yaitu suatu neraka yang namanya media sosial. Kita hidup dalam sebuah ruang yang selalu diawasi, dinilai dan dikomentari. Medsos adalah ruang eksistensi baru dimana kita bukan saja objek tetapi juga sebagai subjek harus di rekontruksi sesuai ekspektasi sosial. Sartre menekankan bahwa ketika menjadi objek bagi orang lain, kita kehilangan kendali atas identitas diri sendiri. Kita terjebak dalam persepsi yang tidak bisa kita kendalikan. Menjadikan medsos sebagai cermin yang memantulkan penghakiman dan validasi. Ini sejalan dengan Ide Yuval Noah Harari dalam Homo Deus beliau menuliskan ada 3 cita-cita besar umat manusia yaitu Kebahagiaan, Keabadian dan (belajar) menjadi Tuhan. Manifestasi nya ya melalui media sosial tersebut.

*) Gerilyawan Selatan, pengamat ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar