Aku tersenyum, tapi…
di balik lengkung bibir ini
ada celah yang tak bisa kau lihat
seperti rumah, yang tampak utuh
namun segera rubuh.
Aku berkata, “baik-baik saja,”
sedang di dalam ada riuh
yang tak pernah reda
seperti gelombang yang menghantam karang berulang kali,
hingga lelah, tanpa sempat terhenti.
Aku berjalan di antara
orang-orang yang tertawa,
seperti melangkah di atas pecahan gelas kaca. Setiap pijakan adalah rasa sakit, setiap tujuan terasa jauh.
Malam-malamku adalah ruang hampa di mana aku mencoba kumpulkan serpihan diri yang kususun lagi dan lagi.
sedang ada yang hilang, dan tak pernah
kutemukan.
Aku tidak pernah benar-benar baik-baik saja. terus berpura-pura,
agar dunia yang terlalu sibuk itu
berhenti bertanya-tanya.
aku hanya diam meski kau bertanya bukan tak ingin jawab tapi aku sendiri
tak tahu bagaimana mengurai benang kusut ini.
Aku tidak pernah benar-benar baik-baik saja, meski masih di sini, menyusuri hari dengan harap kecil
bahwa suatu saat kembali kuat.