Lebaran, Mudik dan Hakikat Rezeki

Oleh : Kurnia Fajar*

Dalam hitungan hari, Ramadan akan berlalu. Kita masuk idul fitri, hari kemenangan. Di Indonesia ada peristiwa budaya, namanya Lebaran. Dan semua merayakannya. Indonesia memasuki waktu yang sedih. PHK dimana-mana. Daya beli masyarakat rontok ke titik nadir. Saya kira, semua orang cemas dan gelisah hari-hari ini. Saya ingin bicara dalam prespektif lain. Soal rizki manusia. Sebagian besar kita berpendapat bahwa pangkat, jabatan, uang itu termasuk rizki. Saya kira itu tak keliru juga. Tapi sebetulnya ada rizki yang paling besar: memiliki keinginan untuk dekat dengan Allah, Tuhan seru sekalian alam. Suatu waktu saya punya jabatan publik dan bisnis sampingan dengan income bulanan yang tetap, setidaknya 100 juta per bulan. Namun hidup bisa sangat kejam. Hanya dalam hitungan bulan, saya dicopot dari direktur utama sebuah perusahaan plat merah, kehilangan income, teman-teman menjauh, tak lagi mau mengangkat telepon. Bahkan WA pun tak berbalas. Saya juga menjalani fitnah dan pembusukan karakter. Makin banyak teman yang menjauh. Meskipun ada beberapa teman sejati tetap datang. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Apakah dengan kondisi itu rizki yang menjadi jatah keluarga saya berkurang ? Ternyata sama sekali tidak. Anak-anak saya tetap bersekolah meski terseok-seok, bergembira, dan berlebaran seperti biasa.

Lebaran, saya kira, adalah melebarkan hidup anak yatim. Tidak bisa lain dari itu. Saya teringat pesan Guru Bakhiet dari Barabai, Kalimantan Selatan: rizki terpenting itu bukanlah harta, melainkan keinginan untuk berdekatan dengan Sang Khalik. Dan jangan lupa, pangkat dan uang, tak melulu karunia. Bisa jadi itu justru istidraj! Ada hal lain. Dulu, dengan sederet jabatan itu, anak-anak saya sering ‘bermasalah’. Semuanya. Yang paling kasat mata yakni Si hampir Bungsu anak saya yang ketiga kerap dilakukan perawatan dan observasi. Tapi kini hampir tak pernah. Alhamdulillah! Ada lagi rizki yang lain. [Semoga ini bukan bermaksud riya’, hanya ingin berbagi kisah]. Dulu saya gemar berkumpul dengan para ahli maksiat. Banyak orang di sekitar saya yang gemar melakukannya. Ada juga yang masih menjalankan salat yang lima itu, tapi ‘molimo’ pun jalan juga. Saya kini [setidaknya berupaya keras] menjauhi itu semua. Salah satu momen terindah dalam Idul Fitri adalah ketika istri dan anak-anak sungkem cium tangan. Saya teringat kata-katanya Khalil Gibran “karena cinta, apabila kau telah dipilihnya, akan menentukan perjalanan hidupnya”. Keluarga apapun itu adalah harta dan Rejeki terbaik yang pernah ada.

Saat lebaran kita memamerkan apa yang kita punya pada keluarga, tanpa sedikitpun berfikir bahwa ada kepala keluarga yang bingung ketika anaknya bertanya, “besok kita makan apa, pak ?” Dan setiap tahun, saya selalu merasa kalah. Kalah oleh kemunafikan saya. Tidak ada sedikitpun yang saya bisa banggakan sebagai kemenangan…” Perkataan temanku yang beruntun itu seperti mengingatkanku kembali akan makna berpuasa, yang hanya terdengar dalam mimbar-mimbar ceramah dan hilang ketika kaki melangkah pulang. Manusia selalu menghibur dirinya bahwa ia sudah melakukan ibadah, padahal ia sejatinya hanya menjalankan kewajiban belaka. Tanpa ada perintah, bisa jadi manusia akan selalu lupa fungsi dirinya di dunia. Karena kita sedang berpura-pura menjadi mereka, tanpa sedikitpun menjadi mereka. Kita berbuka dengan kemewahan, sedang mereka tetap seperti apa adanya. Kita punya hari kemenangan, sedangkan mereka setiap hari merasakan kalah. Kita hanya menjalankan perintah, sedangkan mereka menjalani hidupnya. Kita hanya menunda lapar kita, sedangkan lapar ada dalam setiap tarikan nafas mereka. Melindungi fakir miskin harusnya tanpa batasan waktu. Bukankah itu makna sejati yang diajarkan oleh Rasullullah Muhammad SAW?

Mudik akan diinginkan oleh semua orang karena fitrah manusia itu mencintai sumbernya atau asal-usulnya.
Manusia akan berusaha untuk mengingat perjalanan hidupnya, dan selanjutnya bisa berterima kasih dan mensyukuri segala sesuatu yang berhubungan dengan sumber “hidup” nya. Ibu adalah sumber pertama, dimana rahimnya itu jadi tempat tinggal pertama, air ketubannya jadi teman bermain pertama, bahkan darahnya pun jadi teman pertamanya yang mengantar ke alam dunia. Dan selanjutnya pengisian memori pikiran awal dalam pembentukan pribadi pun dimulai, apakah itu terkait manusia (orang tua, saudara, teman, dsb); terkait sifat (kedekatan, ketergantungan, dsb); terkait lingkungan (tempat tinggal, tempat main, dsb); dan juga terkait ilmu/pengetahuan (sekolah, ngaji, dsb). Ingatan adalah bagian dari Akal yang “ditanam” dalam Fitrah. Dan “ingatan” inipun yang mendorong para pemudik melakukan perjalanan, sejauh dan seberat apapun. Begitupun dalam hubungan makhluk dengan Tuhannya, meskipun “ingatan” pertemuan di Awal Penciptaan sewaktu di alam lahut (alam ruh) “ditutup”, tetapi fitrahnya akan selalu “mendorong” untuk mendekati dan mengenali Tuhannya. Dalam hal ini agama menjadi salah satu sarananya.

Tuhan menyuruh makhluk-Nya sebagai seorang “salik” untuk “napak tilas” ke Awal Penciptaannya (wushul, kembali). Makhluk-Nya diwajibkan memenuhi janjinya ketika di alam lahut untuk menemui-Nya kembali dalam kondisi terbaiknya yaitu ruh qudsi-nya. “Bukankah Aku ini Tuhanmu..? Mereka menjawab: ‘Betul, Engkau Tuhan kami, kami menjadi Saksi’.” (Alastu bi Rabbikum.. Bala Syahidna – QS. al-A’raf 172). Perjanjian di Awal Penciptaan ini merupakan kewajiban makhluk-Nya supaya bisa menemui-Nya dan mengenal-Nya kembali selama perjalanan hidupnya di dunia, yang tanpa disadari semakin memperbanyak hijab atau penutupnya. Seperti halnya perjalanan mudik lebaran yang membutuhkan kondisi tubuh sehat, kendaraan prima, rute yang baik dan bekal yang cukup, begitupun perjalanan wushul dalam mengenal-Nya, akan membutuhkan niat/riyadhoh yang kuat, waliyyam mursyida (pembimbing ruhani) yang ridha, “jalan” yang baik/lurus, dan dzikir yang banyak. Keselamatan lahir batin adalah segalanya. Dan seperti itulah Mudik yang hakiki.

*) Gerilyawan Selatan, Pengamat ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar