Kembalinya Kerajaan Belanda ke pangkuan Republik

Oleh : Kurnia Fajar*

Kemenangan Tim nasional Indonesia atas Bahrain pada tanggal 25 Maret 2025 dapat menjadi momentum bersatunya Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda. Saya bingung harus sedih atau senang melihatnya. Sedih karena saya teringat Panglima Besar Jenderal Soedirman yang sakit-sakit terus berjalan bergerilya di atas tandu menghindari kejaran Belanda di bawah pimpinan Jenderal Simon Spoor. Tetapi hati saya yang lain juga senang karena akhirnya Indonesia membuka asa untuk bisa tampil pada putaran Final piala dunia tahun 2026 dengan bantuan dari Meneer-meneer yang masih berdarah Indonesia. Bahkan para Meneer tersebut menyanyikan lagu Indonesia Raya, sebuah hal yang tidak mungkin dilakukan 80 tahun silam. Sejarah kawin-mawin antara londo-londo dan pribumi-pribumi nusantara ini sudah berlangsung sejak lama, ratusan tahun yang lalu sejak VOC merapatkan kapalnya di pelabuhan Banten. Pramoedya Ananta Toer menuliskan kisah perjuangan anak-anak hasil kawin campuran ini dalam bukunya Bumi Manusia. Jika menilik bukunya, kisah hasil pernikahan antara meneer dengan pribumi itu sesungguhnya banyak yang menyedihkan. Di kalangan Pribumi mereka tidak diterima dengan sebutan Londo ireng. Sementara di kalangan Belanda mereka juga tidak diterima karena berdarah pribumi yang sering disejajarkan dengan Anjing. Di club-club societat ditulis pengumuman “Pribumi dan Anjing dilarang masuk”.

Ketika akhirnya Belanda dikalahkan Jepang dan memberikan kesempatan kepada aktivis-aktivis pergerakan untuk menyusun barisan, pada akhirnya Belanda tetap tidak rela dengan Proklamasi sepihak yang dilakukan oleh Soekarno. Belanda mengejar dan terus berusaha menghancurkan Republik. Dari negerinya di Eropa mereka mengirimkan lebih dari 100 ribu tentara melalui eerste divisie 7 Desember. Ditambah dengan anasir-anasir KNIL dari berbagai kesatuan di Indonesia. Alhasil dalam waktu 3 tahun sejak mereka kembali, Republik semakin sempit area pergerakannya. Kantung-kantung pergerakan Republik semakin kecil, bahkan sebagian orang sudah lelah dengan konflik bersenjata ini. Kaum priyayi mulai berkonsolidasi dan membentuk BFO Bijeenkomst voor Federaal Overleg) yang merupakan kumpulan negara federal. Dengan situasi ini dan adanya campur tangan dari PBB dan Amerika Serikat membawa Republik Indonesia, Kerajaan Belanda dan BFO kembali ke meja perundingan dengan kesepakatan negara berbentuk Republik tetapi serikat terdiri atas negara-negara bagian yang berdaulat. Namun perjalanan sejarah akhirnya membuktikan akhirnya Republik menjadi pemenang. Tan Malaka sang Bapak Republik boleh tersenyum lebar dari dalam kuburnya mengalahkan ide Federasinya bung Hatta.

Indonesia dalam sepakbola adalah antitesis dari Prancis yang berhasil menjadi juara dunia sepakbola pada tahun 1998. Prancis diisi talenta-talenta bola dari negeri-negeri ex-koloni-nya. Ada Znedine Zidane (Aljazair), Patrick Viera (Senegal), Lilian Thuram, dan Christian Kareumbeu dan di periode-periode berikutnya makin banyak anak-anak muda dari koloni Prancis bergabung dengan timnas Prancis. Sedangkan Indonesia justru sebaliknya Meneer-meneer ini kembali ke koloni-nya dan bergabung dalam timnas Indonesia. Pelatih Bahrain bahkan menyindir Indonesia yang memiliki 300 juta penduduk, namun mencari talenta-talenta bola dari Eropa. Namun ada hal yang membuat saya terharu dengan penampilan pemain-pemain naturalisasi ini, mereka seperti bangga dengan Indonesia. Beberapa saya perhatikan belajar keras berbahasa Indonesia. Bahkan Jay Idzes sang kapten timnas, menjawab bahwa ia adalah asli Semarang. Sebuah sikap positif yang wajib kita renungkan. Rasanya sekarang adalah waktu yang tepat untuk rekonsiliasi nilai-nilai antara Belanda dan Indonesia. Harus kita akui bahwa Belanda memiliki manajerial yang baik dalam beberapa hal, salah satunya teknik irigasi dan pembangunan perkebunan yang sampai hari ini kita belum bisa recovery dan menyaingi Belanda.

Terakhir, coba sekarang renungkan, berapa banyak Bahasa Belanda yang diserap menjadi bahasa Indonesia. Perboden salah satunya, kemudian saklek yang berasal dari zakelik. Rasanya hubungan emosional kita sama Belanda itu kuat. Kebencian atas kolonialisasi dan penindasan yang membuat persamaan itu hilang. Kemudian kita coba bertanya, apakah peristiwa naturalisasi pemain ini membangun kesadaran kita, bahwa sejatinya kita gagal “merdeka”? Cita-cita kemerdekaan para founding parents gagal diwujudkan. Apakah sudah saatnya kita menyerah kembali di bawah panji-panji kerajaan yang feodal itu? Gagasan Republik dan mengembalikan kedaulatan kepada rakyat sampai dengan hari ini masih jauh panggang dari api. Kita gagal menyejahterakan rakyat. Para pemimpin hanya berfikir untuk perutnya sendiri. Jangan-jangan memang kita tidak cocok menjadi Republik. Kita lebih cocok dengan kesultanan-kesultanan yang dibalut dalam wadah negara Federasi seperti Malaysia contohnya. Saya membayangkan dari dalam kuburnya Bung Hatta senyum-senyum sambil bilang : “gua kata juga negaranya Federasi aja pada ga mau sih? Sekarang giliran Tan Malaka yang tersedu-sedu menyesali pilihannya. Sekali lagi, mari kita renungkan hal ini. Atau mari kita ucapkan selamat datang kembali kerajaan Belanda dalam pangkuan Republik Indonesia. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan, pengamat Ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar