Merasa Puasa atau Menjalani Puasa?

Oleh : Kurnia Fajar*

Ramadan sudah masuk hari ke 30, sudah di penghujung. Sudah mendapatkan makna apa? Muslim, apapun posisinya, mau Ulama, Umaro atau rakyat biasa, mau apapun profesinya, mau apapun statusnya, harus bisa memahami 3 hal yakni : Berlaku Adil, Tidak berlebihan,
Dan tidak melampaui batas. Tetaplah sadar. Agar tiap-tiap pilihan lahir dari pikiran. Bukan sekadar akibat dari guncangan yang memabukkan. Tanpa kesadaran, akal pikiran akan kehilangan kendali. Dan, secerdas apapun seseorang, ketika mabuk, ia akan melanggar batas wajar. Puasa dalam sejarah agama-agama samawi atau Ibrahimik atau abrahamik adalah bentuk ibadah yang memang punya fungsi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Puasa ibarat jembatan menuju Tuhan, berfungsi untuk meningkatkan disiplin, empati, membuat jasmani lebih sehat dan membersihkan jiwa. Di dalam Islam, puasa jadi puncak ibadah di Ramadan, tapi tradisi ini sudah berlangsung sejak agama-agama terdahulu. Orang puasa sebagai cara  bersyukur, memohon ampunan, atau mencari pencerahan. Jadi, puasa itu bahasa universal manusia yang menginginkan kedekatan dengan sang pemilik kehidupan. Puasa Ramadan enggak ujug-ujug langsung diwajibkan. Awalnya, Nabi Muhammad SAW dan sahabat puasa sunnah, selama tiga hari dalam sebulan atau Asyura di 10 Muharram. Baru di tahun 2 Hijriah, pas di Sya’ban, Allah bilang, “Waktunya puasa sebulan penuh!” Lewat Al-Baqarah 183, umat Islam diminta berpuasa untuk mencapai takwa.Rasullullah berpuasa Ramadan selama 9 kali seumur hidupnya, dan itulah yang menjadi landasan kuat untuk berpuasa ramadan sampai sekarang.

1 Syawal 1446 H di pekuburan. Selepas ashar. Di atas nisan seorang ibu, terciptalah sebuah dialog imajiner. Sambil mengelus nisan ibunya. Pemuda yang beranjak senja ini tampak lusuh dan nafasnya berat. Akhirnya pulang juga kau nak. Dua lebaran sudah berlalu, ibu kira kamu lupa jalan pulang. Bukan lupa bu, hanya jalannya makin jauh. Bukan karena jarak tapi karena kenyataan. Sang pemuda menjawab pertanyaan ibunya. Kamu kelihatan capek sekali nak, ada apa? Pekerjaan? Politik dan organisasi? Atau pengkhianatan yang selalu kamu takutkan itu? Semuanya bu. Hidupku kini berantakan. Negeri ini juga rasanya tambah sumpek. Aku tidak mengerti kemana sebenarnya semua ini menuju? Tenanglah nak, ibu disini. Lalu kamu pulang bawa apa? Hanya lelah dan keluh kesahmu saja?  Lelah dan marah bu. Tapi aku masih menyimpan cinta. Aku pun sudah berdamai dengan diriku sendiri dan aku akan menempuh jalan yang sunyi. Nak… memperbaiki diri itu seperti menanak nasi. Jika api nafsu dalam dirimu besar terus, nasinya akan gosong. Kamu harus pandai mengendalikan hawa nafsumu. Itu saja kuncinya nak. Bawalah dirimu dalam keheningan dan damai. Doa ibu akan selalu menyertai langkahmu nak.

Ibu hanya ingin kita pulang. Tidak tentang yg hebat-hebat. Tapi tentang rindu. Sebab dia buku yang tak pernah selesai dibaca, Ibu. Nanti selepas sholat idul fitri, tolong ingat ini, akan ada anak yang berlari bergegas pulang untuk bertemu demgan seseorang yang dia sayang. Bukan di rumah, tapi di kuburan. Jika kalian bertemu anak itu, tolong usap air matanya. Tidak ada literatur yang mendukung kenapa di malam takbiran, keluarga kami rutin berkumpul. Saling mengingatkan, saling mendoakan, saling menasihati. Sesudah itu bertengkar lagi. Jangan-jangan malam takbiran hanya label, yang kita ciptakan, untuk menunjuk yang tidak sama dengan kita, supaya kita merasa telah relijius. Karena kelelahan mencari, kami pun sepakat: pada perkara-perkara yg baik, kita tidak bertanya dari mana dia datang. Para perantau boleh tidak pulang kampung ketika liburan sekolah atau tahun baru. Tapi dia harus ada di malam takbiran. Prosesi yang dramatis, dan agung. Ibu, yang bangun paling awal dan tidur paling akhir, yang hidupnya sekumpulan cemas dan cemas jika dia tidak cemas, adalah tempat di mana semua anak memohon ampun. Ibu, bukan bapak, yang dirindukan pada malam takbiran itu. Kepadanya semua memuliakan. Ibu mewakili Rahman-Rahimnya Allah SWT.

Ibu menjadi Ratu pada malam itu. Dia hanya diam, tak banyak berkata-kata karena itu jatah bapak. Tapi diamnya ada kekuatan. Diamnya adalah resah yang terus-menerus berkecamuk di kepalanya. Dia cemas jika anaknya tidak punya uang. Dia juga cemas jika mendapatkan hadiah mewah dari anaknya yang sukses di perantauan. Ini bukan hasil nyopet kan? Itulah ibu. Disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.Akhir ibadah puasa menceminkan meningkatnya spiritual manusia karena hasil dari latihan mengendalikan Hawa Nafsu, sehingga di akhir puasa tersebut kita melihat manusia-manusia baru yang damai, rendah hati, karena sudah mampu melepas kemelekatan hidupnya.
Manusia yang baru lahir ini sudah tidak terganggu dengan hiruk pikuk ketupat lebaran, menunggu hilal Dan lebih Luas hiruk pikuknya kehidupanya kedepan. Makna puasa pada kesadaran rendah adalah merasakan lapar, haus, dan menahan nafsu diri dari pagi sampai petang. Makna puasa pada kesadaran menengah adalah mengelola rasa lapar, haus dan mengelola nafsu.Makna puasa pada kesadaran tinggi adalah menjalani rasa lapar, haus dan menjalani diri untuk terus bertahan dari nafsu duniawi. Islam menyebutnya Zuhud. Selamat Idul Fitri saudaraku. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan, pengamat Ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar