Mudik, kembali ke rumah

Oleh : Kurnia Fajar*

Saya, Mang Djubed dan Hendri

Pasangan di meja sebelah ini sepertinya sedang berantem, diem-dieman. Sudah 10 menit dan tidak ada percakapan kecuali suara sendok garpu yang beradu dengan piring. Wajah cowoknya mengeras. Kayak mau menelan es kepal milo. Ceweknya sibuk menenangkan. Sepertinya ceweknya yang salah. Kata cowoknya gini “gue sih gapapa kalo loe  mau balikan sama dia”. Oooo… Cowoknya cemburu. Baiklah. Cowok  cemburu atau marah  selalu karena dua hal. Pertama karena egonya kesenggol dan kedua karena ingin marah saja supaya selesai. Semacam modus. Ingin rasanya membisikkan kata-kata ke mbak-nya : bilang aja baik kalo begitu. Fine! Biasanya cowoknya akan jiper. Cowoknya sok cool gitu. Padahal mah saya yakin dia juga takut ditinggal. Asal Mbaknya jangan duluan pergi, nanti malah gak dipanggil. Kan repot ya. Mas-nya belum paham, perempuan bikin cemburu karena haus perhatian. Coba deh Mas-nya bilang: masa lalu loe sama dia urusan loe dan itu masa lalu lo. Tapi masa depan loe ada di sini, dan itu urusan kita. Kelar itu satu babak. Masnya kurang jam terbang. Saya ngikik sendiri membayangkan dialog imajiner ini. Melihat mereka berantem saya teringat masa-masa sekolah dulu. Saya cari-cari dan meminta kawan untuk mengirimi saya foto. Akhirnya dapat.

Tak banyak foto saat masih di SMA Negeri 14 Bandung dulu. Ini salah satunya. Tahun 1998. Bersama Hendri dan Alm Mang Djubed penjaga sekolah SMP 2. Dan malam ini saya mengenang kepingan masa lalu yang berkelebat. Ketika itu mimpi saya salah satunya adalah bisa pergi kemana aja, tanpa dibatasi waktu, punya uang yang cukup dan punya pacar yang cantik. Hahahaha. Mimpi saya lainnya adalah punya mobil. Warna hitam. Ibu saya, sampai akhir hayatnya tak pernah mampu membeli mobil. Saya bayangkan sungguh keren jika punya mobil warna hitam. Saya bisa menjadi iri dengan beberapa kawan yang ke sekolah diantar mobil orang tuanya. Dan mimpi itu pun sudah tercapai sejak lama. Bahkan saya punya dua sopir pribadi, satu orang ajudan — jauh melebihi mimpi dahulu.  Hingga saya lulus SMP, kami tugas berpindah-pindah sesuai perintah negara. Saya memutuskan tinggal di Bandung bersama kakek. Saat kecil kerap berlari, melihat ke langit, saat ada suara pesawat melintas. Rasanya keren jika bisa naik pesawat, dan dikasih minuman oleh pramugari yang cantik. Sekarang, saya terbang ke semua benua. Tetapi hari ini saya malah cenderung menghindari naik pesawat — kecuali sangat kepepet, tak ada pilihan. Saya senang berlama-lama menyusuri daratan. Menikmati suasana perjalanan.

Banyak mimpi lainnya, yang ternyata sudah dicapai. Malam ini, di tengah suasana Idul Fitri 2025, saya mengingatnya satu per satu. Ternyata hidup saya penuh berkah. Kalau kita mudik ke desa, ke tempat dari mana dulu kita pergi, rumah-rumah tampak mengecil. Kenangannya yang besar. Menurut Sara Upston (2009), banyak ahli yang mengidentifikasi rumah sebagai ruang personal atau ruang yang paling intim, yang ia bedakan misalnya dari kota dan ruang bangsa sebagai ruang yang sebaliknya. Rumah memang dianggap sebagai ruang yang penuh kedamaian yang, karenanya, jauh dari hiruk-pikuk ruang publik yang penuh dengan konflik dan persaingan. Ungkapan bahasa Inggris yang sangat populer mengenai rumah sebagai tempat yang memberikan kedamaian dan ketentraman sehingga menjadi sesuatu yang selalu dirindukan adalah Home Sweet Home. Pada awal bulan April tahun 2025 ini kita juga menyaksikan peristiwa yang fenomenal, yang diliput hampir terus-menerus oleh berbagai stasiun televisi, yaitu mudik lebaran. Sebuah lagu Ahmad Albar dari God Bless memberikan gambaran yang lebih mengena di hati seperti yang antara lain terungkap dari bait berikut.

“Lebih baik di sini
Rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa
Semuanya ada di sini
Rumah kita”

Menurut saya Mudik itu pilgrimage, tidak ada hubungannya dengan Idul Fitri. Secara syariat ia adalah pulang ke kampung halaman, secara ma’rifat ia adalah kembali ke tempat dari mana dia memulai. Menyambangi akarnya. Tapi Mudik juga sebuah etalase, tempat barang mewah dipajang. Kita pulang ke rumah membawa identitas diri. Mudik itu kembali ke rahim ibu, rehat sejenak, dari kerepotan melakoni rutinitas dan merawat hati nurani. Napaktilas kembali ke tempat dari mana dia pergi. Pesan saya jika sudah tiba di kampung peluklah ibumu. Kembali ke hakikat. Bersenang-senang sampai malam-malam mengaduh betapa lelahnya harus selalu sempurna di luar sana. Lalu, adakah yang lebih romantis dari mudik, naik kereta, memandangi peron, pagi-pagi, dingin dan rindu. Loko hilir-mudik, langsir, bersama masinis yg menguap, menjejalkan roda besi di rel yang panjang dan tabah. Kereta selalu tentang kenangan, tentang pulang. Pesawat cenderung tentang kepergian, kehilangan. Kita harus belajar melepas kebencian, berdamai dengan dendam masa lalu. Ada quote bagus dari film Good will hunting “Yang kutakutkan bukanlah kemiskinan di masa lalu, tapi diabaikan di masa kini”. Mungkin kita memang ditakdirkan tak bisa lagi rukun. Jejak-jejak terserak. Kapan semua itu dimulai, sebaiknya tak usah dijawab, karena akan memantik ketidak-rukunan baru.

Tinggalkan komentar