Oleh : Kurnia Fajar*

Ada saat di mana lidah tak sanggup mengungkapkan, hanya air mata yang jadi tafsir dari lantunan ayat Tuhan. Di balik setiap huruf yang kubaca, tersimpan rindu, harap, dan luka yang tak pernah bisa kusembunyikan dari-Nya. Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang hamba yang belajar percaya, bahwa seberat apapun dunia, selalu ada pelukan dalam suara wahyu-Nya. Tangis itu bukan lemah, tapi bahasa hati saat kata tak sanggup lagi bicara. Dan Al-Qur’an… selalu jadi rumah paling sunyi yang menenangkan. Di balik setiap ayat, ada pelukan yang tak terlihat, tapi terasa. Saat dunia terasa sesak, wahyu-Nya selalu jadi ruang pulang paling lapang. Setiap Lebaran, ketupat disusun dengan telaten di atas piring saji. Mereka kadang seperti penonton yang harap-harap cemas: adakah “perang keluarga” terjadi lagi di sekitar meja makan, justru di hari yang fitri? Ketupat sebagai simbol maaf, rekonsiliasi, dan rumah, tak jarang menjadi saksi bagi pertunjukan tahunan: keluarga yang berpura-pura tidak sedang saling menyimpan bara. Di ruang tamu yang didekorasi dengan taplak meja bordir dan kenangan yang tak pernah diungkapkan, sepasang saudara duduk berseberangan. Yang satu berkata, “Maaf lahir batin, ya,” sambil menyodorkan tangan dan senyum setengah hati. Yang lain menjawab, “Iya, sama-sama,” sembari berpikir apakah kali ini ia harus mengungkit warisan yang tidak dibagi rata. Keduanya lalu memotong ketupat, bukan dendam. Lebaran, dalam konteks sosiologisnya, telah menjadi semacam panggung teater kecil di mana konflik ditidurkan sebentar, hanya agar bisa dibangunkan lagi di grup WhatsApp keluarga sepekan kemudian. Ini bukan rekonsiliasi; ini reses. Seperti parlemen yang menunda keributan demi sesi foto bersama.
Goethe pernah berkata, “Tidak ada yang lebih sulit daripada melupakan”. Mungkin karena itu, keluarga kita lebih suka menghidangkannya. Di dalam ketupat yang dibelah rapi, kita menaruh luka yang tak sempat dibicarakan. Di sela-sela lontong dan sambal goreng ati, terselip kemarahan lama yang dibumbui kuah sayur lodeh agar bisa lebih cepat ditelan. Kadang, konflik keluarga justru seperti rendang: makin lama dipanaskan, makin terasa pedasnya. Ada keanehan kolektif yang kita setujui tanpa musyawarah: bahwa maaf cukup diucapkan, bukan diselami. Maka saat satu anggota keluarga berkata, “Udahlah, jangan dibahas, ini kan Lebaran,” yang lain terceletuk, “Tapi kamu yang duluan bilang…. lalu suasana pun pecah. Ketupat adalah metafora yang terlalu polos untuk beban psikologis keluarga. Ia dibentuk dari janur yang dirangkai bersilang, seolah menunjukkan betapa ruwet hubungan darah yang dikira otomatis harmonis. Tapi setelah direbus, ia harus dipotong untuk bisa dinikmati. Mungkin seperti itu pula kejujuran: harus dibuka, agar tak hanya jadi hiasan Lebaran. Namun, betapapun sering drama ini berulang, kita tidak harus terus membiasakannya. Basa-basi bisa dimaafkan, tapi tidak seharusnya dijadikan budaya. Sebab memaafkan tidak sama dengan melupakan. Ia adalah keberanian untuk merangkul luka dan menguburnya dengan kasih sayang.
Dalam Al-Qur’an, Allah bertanya secara tajam: Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji? (QS. Al-‘Ankabut: 2). Silaturahmi di hari Lebaran pun adalah ujian. Bukan hanya soal siapa yang lebih dulu mengirim hampers, tapi siapa yang mampu benar-benar memaafkan, menahan diri, dan membersihkan hati.
Ibadah tidak hanya vertikal, dalam keheningan di atas sajadah dan gema takbir. Tapi juga horisontal, dalam hubungan kita dengan sesama. Rasulullah SAW bersabda: Tidak halal bagi seorang Muslim untuk menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari. Siapa yang paling dahulu memberi salam, dialah yang lebih baik di sisi Allah.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jika ketupat gagal menjembatani jarak itu, mungkin yang perlu dipotong bukan hanya beras dalam anyaman janur, tapi ego kita yang telah lama mengeras. Lebaran bukan panggung drama keluarga. Ia adalah kesempatan kedua, mungkin ketiga, keempat, dan seterusnya, yang Tuhan berikan agar kita belajar menjadi dewasa dalam beriman. Bukan hanya taat di masjid, tapi juga sanggup menekan amarah di ruang tamu. Iman tak hanya ditunjukkan kepada Tuhan, tetapi juga harus ditunjukkan kepada manusia lain, apalagi saudara dan handai taulan.
Dan jika tahun ini Anda masih merasa sakit hati meski sudah salaman dan makan opor bersama, barangkali inilah saatnya belajar benar-benar memaafkan. Bukan hanya mengucapkan. Karena Tuhan tidak pernah menilai seberapa lembut ucapan maaf kita di hari Lebaran, tapi seberapa bersih hati kita sesudahnya. Dan seperti ketupat yang anyamannya dirajut dengan sabar, lalu direbus dengan waktu, barangkali begitulah rekonsiliasi seharusnya dibuat: pelan-pelan, sampai matang. Bukan dipaksakan menjadi sekadar basa-basi, lalu dingin dan ditinggalkan begitu saja. Apa pun masalahnya, kata maaf menjadi theory of everything. Tiap-tiap luka adalah penanda tempatmu saat ini.
*)Gerilyawan Selatan, Pengamat ikan di dalam kolam