Oleh : Kurnia Fajar

Vaclav Havel, seorang penulis, dramawan dan juga Presiden Ceko pernah menulis essay yang berjudul “The Power of the Powerless”. Di dalam bukunya ia menyampaikan “Kemampuan manusia untuk hidup dalam kebenaran, untuk menegaskan kembali identitas asli manusia, adalah senjata nuklir yang memberi kekuatan kepada yang tak berdaya. Satu-satunya cara untuk melawan kekuasaan yang dibangun di atas dusta”. “Karena rezim itu tertawan oleh kebohongannya sendiri, maka ia harus memalsukan segalanya. Ia memalsukan masa lalu, ia memalsukan masa kini, dan ia memalsukan masa depan.” Havel menulis bahwa hidup dalam kebenaran lebih berdaya daripada hidup dalam kekuasaan yang penuh kebohongan. Pada satu periode waktu yang tidak berdaya, saya menemukan tulisan tersebut dan membacanya. Apa yang terjadi, semua tulisan Havel menjadi antitesa dari hal yang saya alami. Saya semakin terpojok di sudut sampai akhirnya, kekuatan waktu itu datang. Waktu yang akan menyelesaikan semua persoalan hidupmu. Meskipun kamu tidak melakukan apa-apa. Barangkali, kekuatan kedua adalah dendam. Jika kamu dibunuh karakter dan martabat atau minimal karirmu rusak. Padahal itulah satu-satunya tempat anak dan istrimu menggantungkan harapan. Dia akan berkata : aku sudah pernah dilemparkan ke neraka paling dalam, sampai anak dan istriku kesulitan makan, maka menenggelamkanmu adalah surga. Itulah kekuatan dendam.
Sejarah mencatat, pemimpin yang melepaskan dendam barangkali Nelson Mandela, dan pemimpin yang menyimpan dendamnya, silakan anda simpulkan sendiri. Melepas dendam tentu yang terbaik. Meskipun untuk mencapainya memerlukan proses yang tidak pendek dan tidak mudah. Orang-orang pengecut dan pengkhianat berseliweran di sekitar kita. Itulah mengapa dendam tetap terawat. Seharusnya kita merawat keadilan, sekuat tenaga menemukan kebenaran sekaligus melepas kebencian. Kita malah kalah dalam kehidupan, tak pandai melepas dendam. Saya lahir jauh setelah 1965. Tahu tentang PKI dari literatur dan cerita orang tua. Namun saya bingung, Kebingungan pertama adalah kenapa anak yang lahir bukan di tahun 65 harus ikut memikul ‘dosa’ pilihan politik orang tuanya? Kebingungan kedua adalah: bagaimana bisa bilang saya Pancasila tapi di saat bersamaan saya menekuk anak-anak yang orang tuanya dulu ikut PKI. kenapa kita tak bisa keluar dari dendam politik masa lalu ini? Di mana masalahnya? Akhirnya mereka yang di stigma PKI menjadi powerless dan menyerahkan kepada waktu untuk menyelesaikannya. Bukankah kebenaran akan menemukan jalannya sendiri? “manusia tak bisa memikirkan cara bertahan hidup kecuali melalui pertarungan tunggal habis-habisan. Aku tak punya teman. tak ada tempat pergi untukku”
Kawan saya memberikan nasehatnya : Manusia bisa dibuat tidak berdaya oleh orang lain, menjadi korban atas kesalahan orang lain, tetapi dirinya sendiri yang harus menanggung akibatnya. Terkadang ia harus terperangkap dalam perasaan itu selamanya, seperti seorang budak yang dikekang lehernya dengan rantai dan dipaksa untuk memecah batu hingga ia mati. Banyak manusia yang terperangkap seperti bunga layu, yang daunnya gugur, tapi batangnya masih berdiri dan akarnya masih tertanam. Ia tidak mati, tapi tidak juga hidup. Ia tertahan. Namun manusia yang tak berdaya biasanya lebih kuat bertahan dibanding orang lain yang masih memiliki daya. Dulu, aku pernah mengira bahwa intelektual adalah mereka yang namanya disandingkan dengan gelar panjang, yang ruang kerjanya dipenuhi rak-rak buku, yang kata-katanya berbobot dan sulit dimengerti. Aku mengira bahwa semakin banyak buku yang dibaca, semakin tinggi seseorang di tangga kebijaksanaan. Aku mengira bahwa ilmu adalah menara, dan semakin tinggi seseorang mendakinya, semakin mulia ia di hadapan manusia. Tapi hidup, dengan segala peristiwa dan luka-lukanya, mengajarkan hal lain.
Aku pernah duduk di sebuah ruang berpendingin, mendengarkan seseorang berbicara tentang kemiskinan dengan data dan grafik. Ia menjelaskan semuanya dengan rinci—angka-angka statistik, persentase, analisis ekonomi—tapi entah mengapa, tak ada getaran di dalamnya. Kata-katanya tajam, tapi dingin. Seakan-akan kemiskinan hanya sebatas teori yang bisa dipetakan di atas kertas, bukan sesuatu yang nyata, yang berwajah, yang bernapas. Lalu, di lain waktu, aku bertemu seorang lelaki tua di sebuah gang sempit. Pakaiannya lusuh, tangannya kasar, tapi matanya penuh cahaya. Ia tidak punya gelar, mungkin juga tidak pernah membaca teori tentang keadilan sosial. Tapi ketika seorang anak kecil menangis karena lapar, ia merogoh kantongnya yang hampir kosong, lalu menyerahkan selembar uang terakhirnya tanpa berpikir panjang. Aku melihat ilmu yang sebenarnya di sana. Kemudian seorang stand up comedian juga pernah berkata : Hanya perempuan, anak-anak dan binatang peliharaan yang layak mendapat cinta tanpa syarat. Sementara laki-laki hanya akan dicintai jika dia bisa memberikan sesuatu. Menjadi pria miskin ibarat sebuah lengan yang patah, tidak berguna dan hanya menjadi beban.. itulah gambaran sesungguhnya dalam dunia ini. Terdengar kejam tetapi itulah kenyataannya. Sehingga suatu hari nanti, yang kita perlukan hanyalah eksis. Tanpa perlu melakukan apa-apa. That’s why we’re called “human being” not human doing. Tabik!
*)Gerilyawan selatan