Oleh : Kurnia Fajar*

I’m a loser
I’m a loser
And I’m not what I appear to be
Of all the love I have won, and have lost
There is one love I should never have crossed
She was a girl in a million my friend
I should have known she would win in the end
(The Beatles 1966)
Lagu dari The Beatles I’m a loser mendayu-dayu di dalam aplikasi spotify membawa pikiranku terbang ke masa lalu. Sambil mengingat-ngingat beragam peristiwa yang telah saya lalui di masa lampau. Dan ini kisah tentang perempuan, sebuah perjalanan waktu. Perempuan tidak mencintai pecundang. Mereka hanya toleran terhadap hal tersebut sampai laki-laki yang lebih baik muncul. Jika kamu bangkrut dan tak punya tujuan, kamu bukanlah proyeksi jangka panjang mereka. Kamu hanyalah penampung sementara. Perempuan tidak mementingkan perasaanmu, tapi mementingkan hasil yang bisa kamu tunjukkan. Kesetiaan perempuan ada tanggal kadaluwarsa-nya. Itu akan berakhir saat kegunaanmu selesai. Setelah kamu berhenti menjadi tiketnya untuk kehidupan yang lebih baik, kamu hanyalah orang bodoh yang bisa dibuang kapan saja. Laki-laki bangkrut tidak ada dalam radarnya. Kamu boleh lucu, ganteng, setia, berjiwa spiritual, namun perempuan tidak akan peduli hal itu. Laki-laki yang dalam fase perjuangan, mereka akan mengatakan itu sebagai kelemahan. Kejantanan bukan dengan menjadi laki-laki baik, lemah lembut dan memiliki adab. Ini tentang menjadi tak terbantahkan. Jika kamu masih dibantah, lama-lama kamu akan diabaikan. Sementara mimpi laki-laki adalah perempuan yang senyumnya tak mewah, tapi cukup untuk meredakan letihnya. Tatapannya tak menuntut, tapi penuh percaya padanya. Ia tahu jalan yang dipilih penuh duri dan luka. Namun ia tetap di sana, menunggumu pulang.
Cinta dalam pernikahan modern memiliki syarat, ia seperti buku akuntansi yang isinya debit dan kredit. Kamu akan kalah, jika rasa cintamu tulus. Naif! Pernikahan menjadi seperti kehidupan politik yang tujuannya merebut pengaruh. Feminisme rasanya sudah berbohong jika tujuannya adalah kesetaraan. Itulah sebabnya KGB memilih perempuan sebagai agen-agen intelijennya. Laki-laki yang kalah dalam pertarungan ini, saya sarankan menepi sajalah dan tempuhlah jalan sunyi. Saya teringat nasehat dari senior saya yang dijuluki Lone Ranger karena kegemarannya mendaki gunung sendirian, dia bilang gini : Fase hidup paling sepi, seringkali jadi fase bagi Tuhan untuk mempersiapkan kamu. Akan ada masa dalam hidup, tidak ada pencapaian, tidak ada kabar gembira, tidak ada perubahan besar. Hari-hari berlalu kayak angin. Sepi. Gitu-gitu aja.Tapi jangan salah. Fase itu bukan berarti kamu gagal. Bisa jadi, itu fase Tuhan sedang membentukmu, diam -diam. Yang tumbuh ke dalam, tidak selalu terlihat. Tapi itu penting. Akar tidak terlihat, tapi tanpanya pohon tidak akan berdiri kokoh. Banyak orang iri sama hasil, tapi tidak kuat menjalani proses. Kamu mungkin belum sampai, tapi kamu lagi ditempa.
Dan itu tidak kalah berharga. Jangan remehkan masa sepi. Bisa jadi, itu cara Tuhan ngasih kamu ruang. Biar kamu berhenti sibuk sama dunia, dan mulai sibuk sama hubunganmu dengan-Nya. Kawan saya, adik dari petinggi polisi berpangkat Irjen. Ketika kakaknya menjabat, hidupnya tak pernah susah. Setiap hari selalu saja ada orang yang datang mengajak bertemu dengannya. Bahkan kalo saya seharian bersamanya, saya tak perlu merogoh kocek karena tamunya yang akan membayarkan makanan dan minuman yang kami konsumsi. Kalo lagi sadar cepat-cepat saya menyingkir. Sesungguhnya saya tak ingin merepotkan orang dan memakan sesuatu yang bukan hak saya. Ingat Teddy Minahasa? Bekas Kapolda Sumbar, Adhi Makayasa dan mantan ajudan wapres yang sudah dipecat dari kepolisian karena menjual sabu hasil tangkapan. Dia diganjar hukuman seumur hidup. Tapi bukan itu yang ingin saya katakan. Saya membayangkan kehidupan Teddy berubah 180°. Saya duga saat menjabat banyak yang merapat ke Teddy. Kolega, dan bisa jadi tauke-tauke itu. Siapa sih yang tak ingin mendekat? Tapi sekarang Teddy pasti sadar. Bahwa ribuan laron yang dulu mendekat kini pergi jauh. Tak membesuknya. Dulu mereka bukan berupaya menjadi ‘kawan sejati’. Mereka mendekat karena dulu Teddy jenderal polisi bintang dua.
Saya pun pernah merasakan hal yang sama. Saat di titik nadir, hanya segelintir kawan yang datang. Bisa dihitung jari. Dan saya mengingatnya hingga kini. Banyak kawan menjauh —- bahkan dia yang pernah saya bantu miliaran rupiah, tak sekalipun datang. Kebanyakan memblokir WA. Begitulah dunia ini. Banyak kepalsuan. So, jika Anda sedang berjaya, jangan bangga jika banyak yang datang. Itu fatamorgana. Siapa kawan sejati? Tunggulah saat Anda terpuruk di comberan kehidupan. Saya punya kawan, sebut saja Joko. Suatu hari Joko mengirim pesan: “Bro, bisa ketemu?. Kami lantas ngopi di Toko You jalan Hasanudin Bandung. Hanya berdua. Dia memberitahu hasil rapat satu Biro di sebuah Propinsi soal pengangkatan saya sebagai Direktur Utama di salah satu perusahaan BUMD. Saya jawab singkat: “Saya sudah tahu sebulan lalu, Kang,’ ujar saya. Joko heran, dan bertanya siapa yang memberi tahu. Sebab rapat baru saja usai. ” Saya ditunjuk langsung oleh Pak Gubernur saat saya dipanggil ke Rumah Jabatan.” ujar saya. Akhirnya Joko tak melanjutkan bocoran info itu. Kami ngobrol yang lain saja. 2019 Pilpres dan Pileg. Joko berhasil menjadi anggota DPRD Propinsi. Dia tidak lagi menjawab chat WA saya. Bahkan, Lebaran kemarin saya masih mengirim pesan WA: “Bro, maaf lahir batin ya.” Tapi WA saya tak pernah dijawab. Sejak itu saya menghapus nomor kontaknya dari HP. Saya tak lagi mau mengontaknya. Barangkali inilah jalan kesunyian itu atau dunia pecundang, atau apapunlah namanya. Yang penting hikmahnya jelas!
*)Gerilyawan Selatan