Saatnya Gen Z menanam pohon

Oleh : Kurnia Fajar*

Program CrowdFunding Celengan Pohon

Timothy Ronald, adalah seorang pengusaha muda Indonesia yang dikenal sebagai investor aset kripto. Ia boleh dibilang sebagai seorang role model yang menjadi panutan Gen Z. Masih berusia 24 Tahun. Timothy Ronald benar-benar mewakili Gen Z. Dalam sebuah perbincangan dalam podcast atau siniar, Timothy mengatakan bahwa ada lima bisnis yang akan berkibar di masa yang akan datang, salah satunya adalah energi terbarukan. Saat ini dunia sudah jelas-jelas mengurangi penggunaan energi fosil. Selain jumlahnya terus berkurang, energi fosil juga ternyata mencemari lingkungan dan meningkatkan suhu bumi. Dalam kesepakatan baru negara-negara dunia mengenai perubahan iklim, salah satu poin dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Perjanjian ini bertujuan untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya. Dalam perjanjian ini, negara-negara dunia berkomitmen untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius. Indonesia meratifikasi perjanjian ini melalui UU No. 16 Tahun 2016 atau kita kenal dengan perjanjian paris club. Dalam pertemuan di Dubai Uni Emirat Arab, dunia juga sepakat bahwa akan beralih dari energi fosil menuju energi baru terbarukan yang lebih ramah terhadap lingkungan diantaranya, tenaga surya, tenaga angin, biomassa, dan geothermal.

Pergeseran ini tentulah angin segar untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik dan lebih sehat. Indonesia sudah semestinya bahagia dengan kesepakatan ini, bagaimana tidak hampir 10 tahun ekonomi mandeg, pertumbuhan ekonomi yang terjadi hanya bersumber dari bidang yang itu-itu saja, menjual komoditi primer sejak orde baru berdiri. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data sekitar 9,89 juta penduduk usia muda (15-24 tahun, Gen Z) masih berstatus menganggur atau tanpa kegiatan. Bahkan berdasarkan survey BI, dalam 6 bulan kedepan akan semakin sulit untuk mencari lapangan pekerjaan. Mengapa hal ini terjadi? Pertama semakin tinggi teknologi dan semakin berkurangnya lapangan pekerjaan yang digantikan oleh mesin dan AI. Sebagai contoh kasir di restoran cepat saji yang dulu manual , di luar negeri dan mulai terlihat di beberapa store di Indonesia. Digantikan oleh self-checkout mesin. Kedua, supply dan demand yang tidak imbang
Generasi Z mendominasi di Indonesia, yaitu sebanyak 74,93 juta atau 27,94% dari total penduduk Indonesia. Sedangkan lapangan pekerjaan yang tersedia untuk menerima kandidat baru di tahun 2024 cuma sebanyak 8867.

Jadi bisa kebayang kan kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan ini. Beberapa owner bisnis yang mengalami pengalaman yang kurang enak dengan staff gen Z. Terlihat di beberapa sosmed, owner-owner bisnis mengeluhkan perilaku Gen Z yang sangat sensitif ketika ditegor atau dimarahi oleh owner.
Sehingga para owner lebih memilih merekrut milenial ketimbang gen Z. Melihat situasi di atas ditambah dengan analisa dari Timothy Ronald, maka yang paling realistis dan konkrit bagi Gen Z adalah menanam pohon. Padat modal, padat karya dan akan mampu memutarkan generator ekonomi di pedesaan. Dalam terminologi biomassa, dan energi terbarukan pohon-pohon yang ditanam ini akan menjadi jaminan supply bagi Industri energi terbarukan di masa mendatang. Data yang dirilis Lembaga think-tank Trend Asia melihat industri pelet kayu (wood pellet) masih akan terus berkembang di dunia. Dalam sepuluh tahun ke depan, Trend Asia memperkirakan permintaan terhadap pelet kayu untuk pasokan biomassa akan mencapai 36 juta ton per tahun. Ini meningkat dari yang sekitar 14 juta ton di tahun 2017. Berdasarkan catatan Trend Asia, negara yang paling banyak mengimpor pelet kayu pada 2017 adalah Inggris, yakni mencapai 6,8 juta ton per tahun. Selanjutnya, permintaan terbesar akan pelet kayu datang dari Denmark 2,3 juta ton, Korea Selatan 2,4 juta ton, dan Jepang 1,5 juta ton.

Dalam beberapa tahun ke depan mayoritas pasokan biomassa diprediksi akan datang dari hutan-hutan negara berkembang, seperti Indonesia, Vietnam, dan Brasil. Pertumbuhan permintaan yang besar terhadap pelet kayu ini dikhawatirkan akan membuat hutan-hutan di negara tersebut mengalami deforestasi besar-besaran. “Hal ini memungkinkan deforestasi besar-besaran di negara-negara di belahan dunia bagian selatan (Global South), termasuk penghancuran biodiversitas di dalamnya. Kontradiktif terhadap komitmen iklim internasional,” ujarnya. Trend Asia memproyeksikan suplai dan permintaan global terhadap biomassa dari hutan meningkat hingga 250% selama satu dekade ke depan. Ini masih hanya sektor rumah tangga dan UMKM. Jika angka ini ingin digabung dengan kebutuhan Industri maka angkanya akan mencapai 150 juta ton di tahun 2030. Untuk mendapatkan 1 juta ton wood pelet diharuskan menanam pohon di kisaran 3 juta pohon hutan tanaman industri yang nilai investasinya sekitar 9 juta US Dollar. Dan akan menghasilkan sekitar 175 juta dollar ketika sudah menjadi Wood pelet. Anda bisa bayangkan nilai tambah yang akan diperoleh oleh Gen Z dari bisnis ini. Selain itu juga ada nilai tambah lain yaitu berupa kredit karbon karena industri ini ramah lingkungan. Secara hitungan kasar, akan menerima pendapatan karbon sekitar 1 juta US Dollar. Jadi tunggu apalagi, saatnya Gen Z bersatu padu. Menanam pohon. Tabik!

*) Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar