Aku ingin Mencintaimu, sekali lagi, setiap hari.

Oleh : Kurnia Fajar*

Dalam universe lain mungkin saya adalah Rangga tokoh karakter dalam film Ada apa dengan cinta (AADC), anak ASN yang menentang orde baru, filsuf amatir dan penyendiri yang hanya bertemankan penjaga sekolah dan gagal memahami perempuan. Cenderung ngalah dan mencari lingkungan baru ketika gagal survive di lingkungan lama. Tapi bedanya, Rangga ganteng dan saya enggak. Hahaha…. Dalam film AADC dikisahkan Rangga yang kesukaannya pada sastra sangat kaku dan gagal memahami perempuan. Alih-alih menenangkan ia malah menjadi sosok yang menyebalkan untuk Cinta. Cinta adalah perempuan yang menyukai persahabatan dan memilih setia pada persahabatan. Karena pilihannya Cinta dikatakan oleh Rangga sebagai orang yang tidak punya kepribadian. Meskipun, perjalanan waktu akhirnya Rangga mengakui bahwa persahabatan Cinta dan teman-temannya adalah sesuatu yang sangat tulus. Setelah release Film AADC 2 disebutkanlah alasan mengapa Rangga meninggalkan Cinta, barangkali itulah jalan pedang-nya Rangga. Sebuah sikap yang tidak akan pernah dimengerti dan diterima oleh perempuan. Rangga sudah dimarjinalkan sejak kecil, sehingga ia sering menghilang tanpa penjelasan, ditambah lagi kehilangan sosok ibu membuatnya makin kesulitan memahami perempuan. Saya bisa memahami Rangga dan jalan pikirnya. Sosok Rangga yang tidak punya teman, diperlakukan tidak fair, sinis kepada kaum pemilik modal dan penguasa serta selalu menyebalkan di mata Cinta. Saya merasa senasib dengannya.

Satu waktu, istri saya mengajukan sebuah pertanyaan yang saya sendiri gak bisa jawab “apakah kamu pernah memikirkan satu kali saja tentang aku?”. Kalo bahasanya sudah pake aku berarti ia dalam mode menahan marah yang amat sangat. Saya terdiam dan tak mampu menjawab. Mungkin benar, sepanjang usia, saya hanya berfikir tentang diri sendiri. Cita-cita dan mimpi saya sendiri. Tentang bagaimana saya menakluk-kan dunia. Dan saya menempatkannya hanya sebagai pelengkap penderita. Dengan gaya patriarki dan sedikit feodal jawa. Ketika keadaan sudah mulai tenang dan saya mulai mampu berfikir lagi. Saya menyadari bahwa sesungguhnya saya gak tahu apa-apa tentang perempuan. Saya gagal memahami cara pikirnya. Gagal membuat emosinya menjadi baik. Barangkali, mungkin saja saya tahu banyak tentang dunia. Kalian boleh bertanya apapun tentang politik, ekonomi, militer bahkan kebudayaan dan sastra. Tapi soal perempuan saya NOL besar. Perempuan yang saya kenal baik adalah nenek dan ibu saya. Itupun saya gagal membahagiakannya. Bahagia mereka hanya versi saya saja. Saya dilayani oleh Nenek dan ibu sampai saya menikah. Ketika menikah, saya bingung bagaimana caranya mencintai perempuan dengan benar. Mungkin benar kata Rocky Gerung, Perempuan indah sebagai fiksi namun berbahaya sebagai kenyataan

Saya dan istri dibesarkan dalam kultur yang berbeda. Istri saya orang sunda islamis yang puritan. Sementara saya orang jawa yang lahir di tanah sunda. Datang dari keluarga abangan, anak tentara yang tinggalnya berpindah-pindah. Figur ayah bagi saya hanyalah seorang laki-laki dewasa di luar rumah yang berjibaku dengan dunia agar kami anak-anak-nya bisa hidup tenang dan damai menghadapi dunia. Pernah satu ketika saya ditinggal ayah 1 tahun, 8 bulan, 4 bulan dan ketika memutuskan nge-kost di Bandung beberapa tahun saya habiskan tanpa kehadiran ayah. Sedangkan istri saya berbeda, ayahnya selalu hadir dalam setiap peristiwa dan momen penting hidupnya. Keadaan ini yang membuat saya selalu kebingungan bagaimana caranya menjadi sosok ayah yang baik. Gemuruh dalam kepala tidak pernah berhenti meneror jiwa saya untuk selalu menemukan jalan menjadi sosok ayah dan juga suami yang baik. Akhirnya, perdamaian itu tiba. Saya berdamai dengan diri di saat saya menyadari semua bangunan keluarga saya sudah runtuh. Saya gagal jadi suami, dan jadi ayah yang baik untuk keluarga. Kompas hidup berubah seketika. Saya mencoba mengubur semua impian dan ambisi. Saya katakan pada diri “it is not about you anymore, it is all about them. Anak-anak dan juga istri saya.

Setelah beberapa hari, aku memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan istriku dengan menuliskan surat untuknya. Begini isi suratnya  “Aku tahu kamu masih marah karena aku masih keras kepala. Tidak peduli kepadamu dan juga anak-anak. Aku minta maaf sudah menyusahkan hati kamu dan hidupmu. Sepanjang usia aku hanya mengejar mimpi dan cita-cita. Sepanjang usia itu juga aku tahu bahwa setelah pengejaran mimpi dan cita-cita itu aku punya kamu sebagai tujuan pulang. Kamu yang tetap membuat aku bersemangat dan bertahan, dan itu yang buat aku kecanduan sama kamu. Maafin aku, yang misoginis dan mau menang sendiri. Lupa, bahwa kehadiran kamu bukan untuk kepuasan aku sendiri. Kamu yang buat aku bahagia, Harusnya akupun melakukan hal yang sama, tapi kenyataannya setiap saat aku hanya menyakiti kamu. 25 Tahun sejak kita bertemu, kemudian menikah, berantem, baikan, berantem lagi, baikan lagi. Rasanya, aku selalu belajar apa yang bikin kamu sedih, apa yang bikin kamu ketawa. Tapi aku selalu gagal, kalah sama egoku sendiri. Kalah sama diriku sendiri. Akhirnya, aku seringkali nyakitin kamu. Kasih aku kesempatan, izinkan aku untuk belajar lagi. Bukannya aku berani, aku juga takut menghadapi dunia. Tapi ada kamu yang selalu membuat aku berani. Ada kamu yang akan menemani aku. Setelah ujian ini berakhir, aku akan jemput kamu. Aku mau kita berjuang sama-sama. Kamu berjuang sabar dan aku berjuang untuk belajar. Akhirnya, izinkan aku mencintaimu, sekali lagi, setiap hari.

*)Gerilyawan selatan

Tinggalkan komentar