Oleh : Kurnia Fajar*

Sejak tahun 1986 saya sudah menyukai Persib. Ayah saya dulu bertugas di Batalyon Arhanudri-3 yang berlokasi di jalan Manado Bandung persis di sisi timur Stadion Siliwangi yang menjadi tempat bagi Persib Bandung bertanding dalam laga kandang kompetisi Perserikatan. Saya yang masih berusia 6 tahun sudah diajak oleh ayah atau tentara-tentara remaja yang jadi anak buah ayah untuk ikut nonton pertandingan Persib. Kebetulan dalam kompetisi tahun 1986 tersebut Persib tampil sebagai juara. Saya tidak ikut menonton laga final yang dilaksanakan di stadion GBK Senayan. Atmosfer sepakbola di tahun tersebut sangat kental sekali. Setelah Persib juara, saya dibelikan baju bernomor punggung 16 Djajang Nurjaman. Di tahun berikutnya Persib Juara wilayah Barat dan melaju ke babak 6 besar. Lalu puncaknya adalah di tahun 1990 Persib kembali juara. Di tahun-tahun tersebut rasanya hidup hanya berkutat sekolah, bermain dan Persib. Begitu saja terus. Ketika akhirnya ayah saya pindah ke kota lain dalam penugasannya, saya tetap tinggal di kota Bandung, menyaksikan Persib di setiap pertandingan kandang-nya. Dan selalu memilih tribun timur. Stadion siliwangi bukan stadion dengan atap penutup, sehingga seringkali saya menonton sambil basah kuyup kehujanan. Tetapi tidak pernah sekalipun absen dalam pertandingan kandang Persib Bandung.
Ketika dimulai liga profesional (Galatama) dan kota Bandung memiliki klub bola profesional Bandung Raya, saya tetap menjadi bobotoh Persib. Begitupun ketika para bobotoh mulai berhimpun dalam organisasi-organisasi supporter, saya tetap berangkat ke Stadion dan tetap menjadi bobotoh meski tidak ikut kelompok-kelompok supporter tersebut. Di tahun 1995 ketika Persib Juara Liga profesional pertama kalinya, saya menyaksikan sampai Final dan Persib membuktikan bahwa tim perserikatan bisa juara di tengah gempuran tim-tim galatama. Waktu berlalu dan Persib berpindah home base ke Stadion si jalak harupat. Saya pun mulai menua dan berpindah dari tribun timur ke tribun barat. Seringkali saya menonton sendiri periode 2007-2011 dan menemukan teman-teman the “silent bobotoh” di tribun barat stadion si jalak harupat. Ada pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan, yaitu sekitar tahun 2006 saya bekerja di jakarta dan menonton pertandingan Persija vs Persib di stadion lebak bulus Jakarta. Saya menggunakan baju kerja tapi memegang syal the Jak. Saya nonton pertandingan dengan wajah cool. Akhirnya pertandingan selesai dengan skor 0-0 dan di tahun tersebut Persib memang dalam masa yang murung. Berada di posisi bawah klasemen dan tidak lolos ke 8 besar. Tapi begitulah perjalanan saya dengan Persib, saya pernah nonton Persib di Palembang, Balikpapan, surabaya dan Denpasar. Tidak diniatkan, tapi memang kebetulan sedang dekat atau berada di kota tempat Persib bertanding.
Ketika mulai sibuk dengan pekerjaan dan beberapa kawan tidak satu kota lagi, saya sudah mulai jarang pergi ke Stadion. Saya menyaksikan Persib hanya dari televisi. Ketika Persib juara liga tahun 2014 saya menyaksikan di warung nasi di kota Garut karena kebetulan sedang ada pekerjaan di kota tersebut. Menonton Persib seperti bagian sejarah dalam diri saya. Dengan segala hingar-bingar yang ada, Persib menempati tempat khusus di hati saya. Kumpulan memorinya begitu berharga. Barangkali, bagi sebagian orang Persib bukan sekedar kecintaan terhadap klub olahraga. Tapi Persib seperti keterikatan emosional kepada Bandung dengan segala memori di dalamnya. Kawan saya, dosen Universitas Negeri di Malang pernah bercerita, bahwa ketika ia bersekolah dan ditanya cita-cita, dengan mantap ia selalu menjawab menjadi pemain Persib. Bahkan jika ada tawaran pindah ke Barcelona atau Real Madrid, ia akan tetap menjawab menjadi pemain Persib. Setelah pandemi, saya mulai bekerja di Jakarta dan hampir tidak pernah hadir di Stadion. Bahkan nama-nama pemain Persib pun saya tidak hafal. Saya hanya mengikuti di sosial media jika Persib bertanding. Tiba-tiba saya dikejutkan bahwa Persib juara tahun lalu dan juara juga di tahun ini. Sebuah prestasi yang hebat.
Persib sudah semakin profesional, atmosfer dan ekosistemnya juga semakin baik. Makin modern dan profesional. Meski ada sedikit keributan mengenai hari lahir Persib yang versi 1919. Semua itu didasarkan kecintaan kepada Persib. Saya sebagai silent bobotoh yang semakin silent mengucapkan wilujeng Sib! Ngiring bingah. Seperti lagunya kang Ibing di medio 90an
Jung maju Maung Bandung.
Patandang geura sing meunang.
Ulah ringrang tong hariwang.
Kade poho cantik sportif di lapangan.
Jung maju Persib Bandung.
Patandang mawa harepan…
Ulah ringrang tong hariwang.
Kade poho cantik sportif di lapangan.
Persib, Maung bandung
Persib, Jalu bandung.
Persib, Urang Bandung.
Persib nanjung mawa ngaran urang Bandung.
*) Gerilyawan Selatan