Ad-Dhuha dan kontemplasi Phil Collins

Oleh : Kurnia Fajar*

Imam sholat subuh menangis, sedu-sedan. Suaranya tercekat. Menarik napas pada ayat berikutnya. Satu dua jamaah menghapus air mata dengan punggung tangan. Subuh yang haru-biru. Pada imam yang tuma”ninah, surat ad dhuha yang sering kita dengar sampai menjadi rutin, bisa sedemikian menusuk. Janji Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkan. Masjid kami kemudian hening. Satu dua orang menahan isak. Ad dhuha yang hebat. Sujud yang dalam dan lama. Yakin tidak akan ditinggalkan. Malaikat pun seakan menahan catatannya, ikut terisak. Selepas subuh mataku kosong menatap Langit teringat  Phil Collins Bicara kepada Keabadian. Ada lagu-lagu yang terdengar seperti bisikan patah hati, dan ada juga yang diam-diam berubah jadi doa yang dilemparkan ke semesta. Against All Odds adalah contoh langka dari keduanya: lagu cinta yang kehilangan, tapi dalam kehilangan itu, justru menyingkap satu hal yang jarang kita bahas dalam musik pop—dimensi transendental. Phil Collins, lewat suara seraknya yang nyaris putus, tak cuma bicara kepada orang yang meninggalkan. Ia bicara kepada ruang kosong, kepada waktu yang diam, kepada sesuatu yang tak bisa dijelaskan tapi bisa dirasakan: kerinduan yang melampaui tubuh dan logika. Ini bukan lagi sekadar lagu cinta. Ini elegi spiritual.

Bait pertama langsung menampar: “How can I just let you walk away, just let you leave without a trace?” Ini bukan cuma tentang perpisahan antar manusia. Ini adalah kegilaan eksistensial saat sesuatu—atau seseorang—yang begitu kita yakini sebagai bagian dari hidup, tiba-tiba pergi begitu saja. Dan Collins tidak mencoba jadi dewasa. Ia tidak pura-pura kuat. Justru dari ketidakberdayaan itulah muncul percikan metafisik: ketika seseorang yang begitu memahami kita pergi, yang hilang bukan hanya dia—tapi sebagian besar dari kita sendiri. Seakan Tuhan menarik kembali cermin tempat kita selama ini mengenali diri. Baris selanjutnya seperti tangisan di tengah altar: “You’re the only one who really knew me at all.” Kalimat ini bisa jadi puisi pengakuan. Dalam relasi manusia modern yang dipenuhi basa-basi dan logika algoritma, menemukan seseorang yang “benar-benar mengenal kita” sudah seperti mukjizat kecil. Maka ketika orang itu hilang, bukan cuma kehilangan pasangan—tapi juga kehilangan saksi hidup. Dan dalam konteks transendental, ini bisa kita maknai sebagai jarak yang mendadak terbentuk antara manusia dan yang Maha Mengetahui. Ketika doa tak lagi berbalas, ketika langit seperti enggan menjawab.

Refrain-nya kemudian menjadi titik nyanyi paling spiritual dalam lagu ini: “So take a look at me now, well there’s just an empty space.” Kosong. Sepi. Hampa. Tapi bukan hampa yang nihil. Ini hampa yang kontemplatif, seperti ruang dalam meditasi. Seperti sujud yang terlalu panjang karena tak tahu lagi harus berkata apa. “Memory of your face” di sini bukan hanya wajah kekasih, tapi wajah apa pun yang dulu kita anggap suci: rumah, kampung halaman, bahkan Tuhan dalam bentuk yang kita pahami dulu—dan kini tinggal dalam bayangan. Phil kemudian menegaskan: “You coming back to me is against the odds.” Dan inilah kalimat paling jujur tentang harapan manusia. Harapan yang sudah tidak masuk akal, tapi tetap dipegang. Ini bukan logika. Ini iman. Iman dalam bentuk yang sangat manusiawi—dengan suara retak, mata sembab, dan dada sesak. Tapi justru karena tidak rasional, ia menjadi spiritual. Menunggu seseorang kembali, walau tahu tak mungkin, adalah bentuk kecil dari kepercayaan kepada sesuatu yang lebih besar dari kemungkinan: anugerah. Di bait berikutnya, permohonan muncul seperti zikir: “I wish I could just make you turn around and see me cry.” Tangisan bukan lagi kelemahan, tapi komunikasi. Seolah Collins sedang merayu langit untuk menoleh, untuk melihat manusia yang sudah kehilangan semuanya kecuali air mata. Ini bukan pengemis cinta—ini hamba yang tersisa satu cara bicara: dengan luka. Transendensinya muncul bukan karena narasi religius, tapi karena kedalaman batin yang ditelanjangi tanpa malu.

Lagu ini tidak punya solusi. Ia hanya mengulang kembali: “Take a good look at me now.” Tapi justru dari pengulangan itu, kita belajar bahwa kadang yang paling spiritual bukan yang agung, tapi yang repetitif. Yang sabar. Yang terus berharap walau tahu tak mungkin. Menunggu di tengah kehampaan adalah bentuk tertinggi dari kesetiaan, dan Phil Collins memaku itu dalam nada dan lirik yang tak pernah mengemis simpati, hanya mengajak kita sama-sama menunduk. Ketika kita bicara soal dimensi transendental, kita sering membayangkan hal-hal sakral yang megah dan tinggi. Tapi lagu ini menunjukkan sisi lain: bahwa transendensi juga bisa terjadi dalam kesedihan sehari-hari. Dalam ruang kosong di kamar tidur. Dalam jeda saat memandangi kursi kosong. Dalam keinginan gila untuk percaya bahwa seseorang, entah siapa, masih bisa mendengar jerit yang tak keluar dari mulut. Against All Odds mengajak kita percaya, bahwa bahkan ketika tidak ada alasan untuk percaya, kita masih bisa memilih untuk tetap berdiri. Jadi, lain kali saat kamu merasa kehilangan dan tak tahu lagi cara menyampaikan rindu, bacalah Q.S. Ad-Dhuha setelah selesai shalat subuh putarlah lagu ini. Biarkan liriknya menjadi perantara. Mungkin bukan hanya dia yang kamu rindukan yang sedang mendengarkan. Mungkin, entah dari dimensi mana, Tuhan yang maha Besar sedang menatapmu balik—lewat lagu ini. Dan mungkin, lewat kehampaan yang kamu peluk, kamu justru sedang mendekat ke sesuatu yang jauh lebih besar dari rasa sakit itu sendiri: makna.

*) Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar