Jenderal Cecep dan Paradoks Indonesia

Puisi Jenderal Cecep untuk pacarnya

Neng..,
Kumaha damang? Dipaksa-paksa pak Fajar akhirnya aku mau menitipkan pesan untuk kamu.
Hidup kadang anomali neng,
Disini aku seperti menemukan jatidiri
Sudah 5 tahun aku disini, dan sepertinya makin betah, aneh ya? Rasanya semakin hari aku semakin tidak ingin kembali kepadamu. Aku bisa menabung dan menghasilkan uang banyak
Lewat judi online yang kerap aku menangkan
Lewat genggaman gagang kunci
Dan mencuri kekuasaan para sipir

Disini aku bagaikan ksatria
Aku bukanlah ronin yang wajahnya berjelaga
Pagi-pagi, aku saksikan wajah-wajah putus asa.
Menyapaku dan menungguku untuk diberikan harap
Aku senang…

Aku seperti arsenal yang baru saja mengalahkan manchester united.

Setiap hari, kulalui seorang bupati dan seorang sekda
yang patuh saja ketika kusuruh masuk kamarnya sambil membungkukkan badannya, ia lupa bahwa ia pernah menjadi bupati dan sekda.
Aku terkekeh neng… bahagia rasanya.

Aku adalah everybody sweetheart neng, semua orang menunggu informasi dari mulutku ini.
Adalagi pak Zul, yang minang darah biru itu memohon-mohon untuk sekedar senam dan belajar ilmu laduni.

Dunia menjadi paradoks disini. Aku adalah ksatria dunia neng, jika engkau ingin melanjutkan hidup. Pergilah. Lanjutkan!

Tapi, jika engkau ingin menunggu. Tunggulah.
Beri waktu aku menikmati rasa ini. Meskipun kata pak Fajar, kenikmatan ini seperti masturbasi saja.

Tapi bukankah itu yang semua orang lakukan dikala sepi?
Aku menatap wajahmu dan tangan kiriku mulai mengocok-ngocok batang Zakarku.

Tapi aku senang neng, apalagi kemarin pak Fajar sudah mentasbihkan pangkat Jenderal kepadaku.
Kini namaku adalah Jenderal Cecep!

Segitu ya Neng, aku mau melanjutkan onani dulu.

Tinggalkan komentar