Oleh : Kurnia Fajar*

Wakil Presiden Gibran Rakabuming, seringkali melontarkan pernyataan tentang pentingnya penggunaan Artificial Inteligence atau disingkat AI di masa yang akan datang. Definisi AI itu sendiri sesungguhnya adalah teknologi yang memungkinkan komputer untuk mensimulasikan kecerdasan manusia. Ini mencakup berbagai teknik dan metode yang memungkinkan komputer untuk memahami, belajar, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Kemampuan AI dapat melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia, seperti: Pengenalan suara: Asisten virtual seperti Siri, Google Assistant, dan Alexa menggunakan AI untuk memahami perintah pengguna. Kemudia, pengenalan gambar: AI dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengenali objek dalam gambar.
Pemrosesan bahasa alami: AI digunakan dalam mesin pencari dan aplikasi penerjemah bahasa untuk memahami dan merespon pertanyaan pengguna.
Pengambilan keputusan: AI dapat digunakan dalam sistem rekomendasi, analitik bisnis, dan bidang lain untuk membuat keputusan. AI umumnya menggunakan algoritma yang dimodelkan berdasarkan proses pengambilan keputusan otak manusia. Algoritma ini dapat “belajar” dari data yang tersedia untuk membuat klasifikasi atau prediksi yang semakin akurat.
Masyarakat tradisional dahulu, jika ingin menerawang masa depan, mengobati orang sakit, menikah dan menganalisa dalam pengambilan keputusan menggunakan jasa seorang yang dianggap pintar, dan kita sederhanakan dengan sebutan dukun. Ia adalah jawaban dari segala persoalan di masanya. Metodologinya bisa macam-macam. Namun biasanya ada air, asap dan tanah dalam prosesnya. Ketika modernisme datang praktek-praktek perdukunan ini ditentang oleh masyarakat modern yang lebih saintifik dan mengutamakan hasil riset sebagai dasar pengambilan keputusan. Kemarin menteri pendidikan dasar dan menengah Abdul Mu’ti. Mulai ujicoba penggunaan AI ini di pendidikan dasar. Sementara sebagian praktisi Pendidikan dan pengamat prilaku menyatakan bahwa AI mematikan nalar, ini persis seperti dukun yang juga di cap mematikan nalar. Artinya saya melihat bahwa AI ini adalah dukun baru bagi masyarakat postmodern. Gen Milenial dan Gen Z agaknya mewakili generasi ini. Postmodernisme adalah aliran pemikiran yang muncul sebagai reaksi terhadap modernisme, yang mengkritik asumsi-asumsi dasar filsafat Barat pada periode modern (abad ke-17 hingga 19). Inti dari postmodernisme adalah mempertanyakan dan menolak gagasan tunggal tentang kebenaran, nilai, dan pengetahuan yang dianut oleh modernisme. Aliran ini menekankan pada subjektivitas, relativitas, dan pluralitas.
Dua puluh tahun yang lalu saya gemar membaca buku-buku bertema postmodernisme. Salah satu gejala postmodern yang dibahas dalam buku-buku tersebut adalah “merayakan budaya permukaan”. Waktu itu tak mudah menemukan realita atas statement tersebut. Namun hari ini, “merayakan budaya permukaan” betul-betul menjadi keseharian kita. Hari ini gemerlap wisuda lebih utama ketimbang belajar bertahun-tahunnya. Posting video kuliner lebih penting ketimbang menikmati rezeki makanan di hadapan. Foto di depan kakbah lebih khusuk ketimbang tawaf mengelilinginya. Semua diukur dari tampilan permukaan. Kualitas dan eksistensi seseorang dinilai dari konten sosial medianya. Pun demikian dalam memilih pemimpin. Memilih pengelola negara besar dengan jutaan urusan diputuskan berdasar citranya di layar kaca. Pemimpin sesungguhnya lebih banyak di balik layar. Jika memang dia mengerjakan seluruh tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh, semestinya dia tak sempat berakting di depan kamera. Namun peradaban ini meniscayakan semua itu. Tak ada obat, kecuali mengubah peradaban ini sejak akar-akarnya.
Jadi, Gen Z dengan segala cirinya. Kesukaan pafa Artificial Intelligence, gejala-gejala merayakan budaya permukaan, adalah sesuatu yang niscaya di depan mata. Dan, pada akhirnya sebagian masyarakat akan menggunakan AI seperti menggunakan dukun. Dukun itu serupa motivator. Kita mendengarkan apa-apa yang ingin kita dengar dari orang lain, setelah menolak apa-apa yang tubuh kita sampaikan. Dukun adalah mereka yang kita harus bayar sebab mereka telah mengatakan apa yang ingin kita dengar. Bukan ada yang sebenarnya kita inginkan. Seperti dukun Artificial inteligence akan laris, psedeu science pun akan mendapatkan panggungnya. Orang-orang dari kelompok garis bingung. Ini semua terjadi karena masyarakat kita yang minim literasi. Kementerian Pendidikan, alih-alih memperbaiki literasi. Malah sibuk memperkenalkan mata pelajaran coding kepada anak sekolah dasar. Ini ibarat diajari bikin otak tapi untuk ngisi otaknya gak tahu harus menggunakan apa. Jadi, apapun judulnya sesungguhnya kita gak kemana-mana. Masih disitu-situ saja. Tabik!
*)Gerilyawan Selatan