Oleh : Kurnia Fajar*

“If you hold a gun and I hold a gun, we can talk about the law. If you hold a knife and I hold a knife, we can talk about rules. If you come empty-handed, and I come empty-handed, we can talk about reason. But if you hold a gun and I only have a knife, then the truth lies in your hand. If you have a gun and I have nothing, then what you hold in your hands isn’t just a weapon, it’s my life.” Sebuah kalimat dari mafia italy yang kira-kira terjemahan bebasnya sebagai berikut Jika kamu memegang senjata dan aku memegang senjata, kita bisa bicara tentang hukum. Jika kamu memegang pisau dan aku memegang pisau, kita bisa bicara tentang aturan. Jika kamu datang dengan tangan kosong, dan aku datang dengan tangan kosong, kita bisa bicara tentang akal sehat. Namun, jika kamu memegang senjata dan aku hanya punya pisau, maka kebenaran ada di tanganmu. Jika kamu punya senjata dan aku tidak punya apa-apa, maka yang kamu pegang di tanganmu bukan hanya senjata, itu adalah hidupku.” Begitulah dunia berjalan. Konsep hukum, aturan, dan moralitas hanya memiliki makna jika didasarkan pada kesetaraan. Kebenaran pahit dunia ini adalah bahwa ketika uang berbicara, kebenaran terdiam, dan ketika kekuasaan berbicara, bahkan uang pun mundur tiga langkah. Mereka yang membuat aturan sering kali menjadi orang pertama yang melanggarnya karena aturan adalah rantai bagi yang lemah dan alat bagi yang kuat. Di dunia ini, segala sesuatu yang baik harus diperjuangkan. Para penguasa permainan bersaing ketat untuk mendapatkan sumber daya, sementara yang lemah duduk diam menunggu untuk diberi bagian.
Kamu tidak akan pernah mengerti, Kalau kamu belum pernah setia,kamu tidak akan tahu rasanya dikhianati. Karena loyalitas itu bukan cuma tentang hadir,
tapi tentang tetap memilih, meski godaan datang dari segala arah. Dan ketika kesetiaan dibalas dengan pengkhianatan, rasa sakitnya bukan cuma menghancurkan kepercayaan,
tapi juga menghancurkan diri sendiri. Tanyakan ini ke dirimu, Apakah kamu benar-benar tahu caranya setia, atau kamu cuma belum sempat mengkhianati? Barangkali, nafsu kekuasaan adalah nafsu paling kuat yang ada di dalam diri manusia. Perasaan ingin menguasai orang lain adalah sebuah kemenangan. Hingga Plautus seorang filsuf mengatakan Homo Homini Lupus bahwa seorang manusia adalah srigala bagi manusia lainnya. Hakekatnya kita saling terkam dan saling makan. Jika dahulu berkuasa melalui peperangan dan penguasaan wilayah, maka saat ini manusia mencoba lebih beradab dengan menyelenggarakan pemilu. Paradigma dan hubungan patron-klien atau abdi-dalem atau pangreh praja telah berubah menjadi pamong praja dan kekuasaan yang melayani. Rakyat yang diberikan kedaulatan. Namun benarkah kedaulatan berada di tangan rakyat?
Hidup itu sejatinya hanyalah soal kreatifitas saja. Kata Edward de Bono: cobalah berfikir lateral. Itu yang pernah coba kami lakukan di tahun 1995-96 meski sedikit nakal. Saat masih SMA. Ketika orang lain harus menunggu jam 21.00, antre di wartel, demi diskon 50 persen, kami justru menelpon interlokal secara gratis. kami bisa menelpon sambil tiduran, Bahkan sesekali menelpon dari toilet. Ceritanya, Saya dan beberapa teman yang juga nakal itu membeli telpon wireless yang saat itu terbilang mewah. Telpon itu lantas kami “cangkokan” ke sebuah line telpon kartu magnetik yang teronggok di Gedung Serba Guna. Kebetulan kekuatan daya wirelessnya cukup jauh. Alhasil, kami bisa membawa handset wireless itu ke bilik peraduan kami yang berantakan itu. Jadi, saat mahasiswa lain harus antre di wartel, kami bisa berhalo-halo sambil tiduran. Jadi, teruslah berfikir kreatif. Meski tak perlu meniru kenakalan teman-teman saya itu. Itulah bersembunyi di bawah panggung kekuasaan. Ia adalah kreativitas. Sesuatu yang memang bisa dilakukan meski tampak mustahil. Saya mengamini apa yang diucapkan oleh mafioso di atas. Dunia tidaklah pernah bisa adil. Karena kreativitas menjadi kunci untuk bertahan hidup.
Bersembunyi di bawah panggung kekuasaan itu mirip kita lagi nonton dangdut di kampung, panggung di buat tinggi sehingga menyisakan ruang untuk kita masuk ke bawah panggung. Membolongi panggung sedikit. Dan dari tempat kita berdiri bahkan celana dalam si penyanyi bisa kita lihat dengan jelas. Itulah kreativitas di tengah ketidak adilan dunia. Namun pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki. Bukan setinggi apa jabatan di pundak. Bukan pula tempik sorak kawan-kawan di sekeliling. Hidup adalah soal selalu bersyukur dan menikmati yang ada sahaja. Ada orang terkenal, punya harta dan kekuasaan, tapi puluhan juta orang menyebutnya berbohong soal ijazah. Ada juga yang menimbun harta lebih dari satu triliun di rumahnya, tapi makan minumnya dibatasi karena sakit menggerogoti tubuhnya. Ada lagi lelaki manis, yang kemudian Tuhan membuka aibnya dengan perempuan jauh dibawah standar. Itulah fatamorgana. Dan pagi ini saya cuma nongkrong di depan TV. Menyantap market review di CNBC, ditemani semangkuk bubur kacang hijau dan roti yang baru diangkat dari kompor.
*)Gerilyawan Selatan