Ngaji kitab kuning dan filsafat eksistensialisme

Oleh : Kurnia Fajar*

Apakah pernah terpikir, mengapa cara berfikir masyarakat kita masih banyak dipengaruhi mistik dan cenderung irasional? Tan Malaka dalam bukunya Madilog mengajak kita untuk berfikir logis dan ilmiah. Materialisme, Dialektika dan Logika mengajarkan cara melihat dunia berdasarkan fakta dan ilmu pengetahuan dan bukan kepada mitos. Gagasan utama dalam madilog adalah melawan pola pikir mistis, klenik dan irasional. Gunakan ilmu pengetahuan untuk membangun bangsa. Kemudian memahami realitas dengan logika dan dialektika. Tan Malaka adalah seorang pemikir, revolusioner, dan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang meninggalkan warisan pemikiran yang kuat. ‘Madilog’ menghadirkan analisis mendalam tentang sejarah, ekonomi, masyarakat, dan pergerakan politik. Tan Malaka menyoroti struktur kelas, eksploitasi, dan ketidakadilan sosial dalam masyarakat kapitalis. Ia juga membahas pentingnya perjuangan kelas pekerja dalam mencapai keadilan sosial dan kemerdekaan nasional. Buku ini menawarkan konsep dan argumen yang tajam, menjelaskan pentingnya pemahaman materialisme dan dialektika dalam memahami dinamika sosial. Tan Malaka mengajak pembaca untuk melihat fenomena sosial secara holistik, mengidentifikasi kontradiksi, dan menganalisis dinamika perubahan dengan landasan ilmiah yang kuat. ‘Madilog’ memiliki pengaruh yang mendalam dalam sejarah pemikiran politik di Indonesia. Karya ini merupakan kontribusi signifikan dalam membentuk pemikiran Marxis di Indonesia dan menjadi landasan bagi gerakan sosialis dan revolusioner.

Cobalah bayangkan Albert Camus sedang duduk di musala kampus, mengenakan sarung kotak-kotak dan sendal jepit swallow, sambil mengutip Zadul Ma’ad pelan-pelan. Lalu datang Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, memegang kitab tebal, dan tiba-tiba nyeletuk, “Manusia harus tabah. Tapi jangan lupa absurd itu nyata.” Albert Camus yang dingin-dingin eksistensial lalu menyandingkannya dengan Zadul Ma’ad yang hangat-hangat spiritual. Ini tidak sedang mempertemukan Timur dan Barat. Namun justru sedang mempertemukan ruang tunggu Puskesmas dengan ruang sunyi eksistensial. “Kehidupan ini tak masuk akal, maka mari kita seduh teh,” lalu di larik berikutnya meluncur kutipan dari Ibnu Qayyim tentang keutamaan sabar dan istiqamah. Ini bukan hanya mash-up kultural, ini semacam parade ideologis yang absurd tapi mesra. Seolah-olah kita sedang duduk di kafe literasi sambil ngaji tafsir dan ngebahas absurditas hidup si Mersault—satu tangan pegang tasbih, tangan lainnya buka The Myth of Sisyphus. Kita bisa bercerita tentang putus cinta dengan gaya orang yang kehilangan makna hidup, tapi tetap yakin bahwa Allah sedang menyimpan skenario indah. Hasilnya? Kita merasa sekaligus ingin menangis, berzikir, dan menyalahkan takdir—semuanya dalam satu tarikan napas.

Bagaimana menuntaskan Albert Camus dengan absurditasnya? Jawabannya adalah harus tahu diri. Lalu ukuran tahu diri apa? Realita tidak akan ada kalau kita tidak memikirkannya. Realita adalah persepsi. Dunia dibangun atas dasar persepsi. Absurd. Lalu apa yang mau dipahami dari absurditas ini? Camus gagal mengendus demarkasi serius antara berbeda dengan kontradiktif. Perhatikan kutipan Camus di bawah ini “Miskin dan bebas, bukan kaya dan diperbudak. Tentu saja, manusia ingin menjadi kaya dan bebas, dan inilah yang terkadang membuat mereka menjadi miskin dan diperbudak.” kalau merujuk kepada kitab kuning tidak akan begini, ia akan menemukan solusi dari pengembaraan spiritualitas. Bila kehidupanmu tak terarah, Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan: “Hati yang kacau tidak menentu, tidak ada yang bisa memperbaikinya kecuali menghadapkan hati itu kepada Allah..” [Zadul Ma’ad 2/82]. Inilah esensi Madilog yang disampaikan oleh Tan Malaka. Bagaimana islam sebagai keyakinan diterima sebagai kesadaran hidup. Sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Literasi rendah dan tidak terjadinya Madilog akhirnya membuat masyarakat kita memahami agama sebagai aturan. Padahal sesungguhnya ia adalah akhlak.

Jawabannya tentu dialektika antara camus dan ngaji kitab kuning. Seandainya saja Camus masuk jadi kader NU tentu ia akan menemukan jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaannya. Tentu saja, formulasi ini bukan untuk semua orang. Beberapa mungkin bingung, “Ini ngajak ngopi atau ngajak taubat?” Tapi justru di situlah nikmatnya. Takdir dan pilihan, sabar dan protes, sujud dan sinis, semua bisa berunding di meja yang sama—tanpa harus bentrok seperti netizen di kolom komentar. Ini adalah menulis dari kegelisahan, tapi juga dari keyakinan. Ia bukan Camus yang menyerah, bukan pula ulama yang menghindari keraguan. Ia adalah kombinasi dari keduanya—serius tapi cengengesan, dalam tapi usil.
Jadi, kalau suatu hari kamu merasa hidupmu seaneh filsafat, dan imanmu seremeh doa di tengah lalu lintas. Mungkin kamu akan menemukan bahwa absurditas dan keimanan bisa bersanding seperti kopi tubruk dan kurma: pahit, manis, dan bikin ketagihan. Tabik!

*)Gerilyawan selatan

Tinggalkan komentar