Cinta dalam sepotong roti

Oleh : Kurnia Fajar*

Masih ingat dengan film “Cinta dalam sepotong roti”? Film yang menyabet 5 gelar FFI tahun 1991 dan disutradarai oleh Garin Nugroho. Dalam postingan Instagram yang penuh kenangan, Garin mengungkapkan pentingnya Cinta Dalam Sepotong Roti sebagai film cerita pertamanya. Film ini, yang dikategorikan sebagai road movie pertama di Indonesia, menghadirkan kisah perjalanan yang mendalam dengan pemain utama Tio Pakusadewo, Rizky Teo, dan Adjie Massaid. Film ini bukan hanya tonggak perfilman Indonesia, tetapi juga sebuah fenomena seni multidisiplin yang memadukan sinema, musik, puisi, dan sastra. Karya Garin Nugroho ini tidak hanya menginspirasi dunia perfilman, tetapi juga melahirkan sebuah interpretasi sastra dalam bentuk novel puitis yang ditulis oleh Fira Basuki. Film ini juga memasukkan kutipan-kutipan kalimat puisi dari penyair Indonesia, Sapardi Djoko Damono selain tarian gandrung khas Banyuwangi. Penggunaan puisi dalam soundtrack bukan hanya sebuah elemen dekoratif, melainkan bagian integral dari narasi film. Lagu dengan sentuhan puitis ini berhasil menyampaikan rasa cinta, kerinduan, dan perjalanan emosi para karakter, memberikan dimensi tambahan yang memperkaya pengalaman sinematik penonton.

Kapan terakhir kali kita jatuh cinta, memendam rindu, berlari-larian sambil berpelukan, ciuman di bawah hujan yang nakal. Kapan? Saya sudah lupa rasanya jatuh cinta. Laki-laki bisa sumringah bahkan jadi goblok ketika jatuh cinta. Saya pernah malam-malam mencari benda kecil di dalam tong sampah besar dan itu dilakukan atas nama cinta. Cinta itu memang candu dan batas antara salah dan benar menjadi bias. Namun pada satu titik, kita akan menemukan pengorbanan terbesar demi cinta adalah melepas dia untuk terus tumbuh dan berkembang.

Tentang hal ini saya teringat Tipping Point dan Titik Jatuh Hati karya Malcolm Gladwell. Malcolm Gladwell mungkin tidak pernah berniat menulis buku cinta. Tapi di tengah bukunya yang berjudul The Tipping Point—yang membahas tentang bagaimana perubahan besar terjadi karena hal-hal kecil—diam-diam, ia menjelaskan satu fenomena paling membingungkan di dunia ini: jatuh cinta. Bukan cinta yang langsung menggelegar seperti kembang api, tapi cinta yang diam-diam mengendap, lalu meledak manis seperti popcorn di atas kompor. Dan mungkin, kita semua pernah mengalaminya tanpa sadar. Tipping point, kata Gladwell, adalah momen ketika sesuatu yang tadinya biasa saja, tiba-tiba berubah secara drastis karena satu dorongan kecil. Nah, bukankah cinta juga begitu? Kita bisa saja bertahun-tahun kenal seseorang tanpa rasa apa-apa, lalu suatu hari… dia nyuapin kita satu suap nasi goreng—dan hati kita langsung berkata, “Loh kok enak, ya?” Bukan karena nasinya, tapi karena momen kecil itu menggeser sesuatu dalam diri kita. Tipping point versi hati, begitu istilah centilnya.

Mungkin kamu pernah merasa heran, kenapa dulu teman sebangku yang suka minta contekan itu sekarang terasa menenangkan saat ngobrol? Atau kenapa suara teman nongkrong yang biasanya terdengar nyebelin, sekarang justru bikin senyum-senyum sendiri? Di situlah tipping point bekerja dalam diam. Ia tidak heboh, tidak pakai efek slow motion, tapi tahu-tahu kamu mulai nungguin chat-nya, mulai nyari dia di kerumunan, atau mulai menyelipkan namanya dalam doa yang kamu bisikkan pelan-pelan. Dan seperti dalam teori Gladwell, cinta juga menyebar dari titik itu. Bisa jadi dia ikut merasa, bisa jadi tidak. Tapi yang jelas, kamu sudah ada di tahap di mana satu kebaikan kecil darinya membuat hari kamu terasa lebih ringan. Satu senyuman sederhana jadi alasannya kamu bisa bertahan di hari yang berat. Dan mungkin, satu perhatian yang kamu anggap sepele, justru jadi tipping point untuk hatinya juga.

Itulah yang membuat cinta begitu manusiawi dan hangat. Ia tumbuh bukan dari hal besar, tapi dari momen-momen kecil yang jujur. Sama seperti perubahan sosial atau tren yang Gladwell bahas, cinta tidak selalu dimulai dengan deklarasi megah. Kadang ia dimulai dari caranya menyebut nama kamu dengan lembut, dari tatapannya saat kamu cerita, atau dari cara dia diam-diam ingat kalau kamu suka teh tanpa gula.
Jadi, kalau kamu merasa hatimu mulai berubah karena satu gestur kecil yang orang lain anggap biasa—tenang, kamu tidak lebay. Kamu hanya sedang menyambut tipping point-mu. Karena, siapa tahu, dari titik kecil itu… cerita besar bisa dimulai. Dan bukankah begitu banyak cinta yang abadi justru lahir dari satu senyuman yang tak disengaja?

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar