Idul Adha dan Genosida di Palestina

Oleh : Kurnia Fajar*

Dalam dua bulan terakhir, Palestina sedang menghadapi hari-hari yang menyakitkan. Semua wilayahnya dibom termasuk di lokasi-lokasi yang dilindungi oleh hukum perang Internasional seperti Rumah sakit, Sekolah dan pemukiman penduduk sipil. Dilindungi konvensi Jenewa dan piagam Hak Asasi Manusia. Anak-anak, perempuan dan penduduk sipil tak bersenjata setiap hari dibom, dibunuh dan setiap hari ditampilkan di layar kaca dan sosial media dalam bentuk angka-angka. Dalam catatan majalah Tempo yang mengutip Anadolu hingga saat ini jumlah yang wafat sudah mencapai 55 ribu orang sejak 7 oktober 2023. Di mana 40% diantaranya adalah mereka yang berusia di bawah 18 tahun. Melihat angka-angka ini saya teringat salah satu hadits nabi tentang kelompok orang yang akan masuk surga tanpa hisab. Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bahwa beliau berkata : “Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allah-lah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari 8270]

Pengejawantahan sikap tawakkal sesungguhnya pada masyarakat Palestina. Mempertahankan tanahnya, rumahnya tanpa bantuan dari siapa-siapa. Bergantung hanya kepada Allah SWT sahaja. Saya berprasangka baik kepada Allah SWT kiranya Hadits ini ditujukan kepada warga Palestina yang telah syahid mempertahankan tanahnya. Di saat saudara-saudara muslim lainnya di seluruh dunia hanya bisa demonstrasi menuntut penguasa dunia untuk berlaku adil. Kemarin muncul video di sosial media, tentang kekecewaan seorang warga Palestina terhadap umat Muhammad yang sedang melakukan ibadah haji di makkah, berikut kutipannya: “Mereka menyembelih kami setiap hari. Wahai umat Muhammad hari raya apa yang sedang kalian bicarakan?” Sementara anak-anak kami disembelih. Telah 2 tahun kami dijadikan qurban. Sementara kalian tidur. Apakah ini umat yang akan diberikan syafaat oleh Rasullullah SAW? Selama 2 tahun kami kelaparan, genosida dan pemboman. Dimana umat ini? Kalian thawaf di mekkah, lalu menanti penyembelihan kambing dan sapi. Sementara kami disini disembelih setiap hari. Lalu ia menutup pernyataannya dengan ayat dalam Al-qur’an “hasbunallah wa’ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashir”. Cukuplah Allah sebagai pelindung dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Sebuah sikap tawakkal di titik tertinggi.

Hari ini sebagian umat islam dunia berada di arafah, wukuf melaksanakan rukun haji. Dan sebagian umat lain di masing-masing negaranya melaksanakan pemotongan hewan qurban, mengenang dan meneladani Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS. Makna Idul qurban ini di antaranya adalah : Ketaatan bahwa apapun perintah Allah SWT meskipun harus mengorbankan nyawa seseorang yang kita sayangi. Makna kedua adalah pengorbanan dan keikhlasan bahwa jika harus mengorbankan nyawa sendiri kita harus siap sedia. Makna ketiga adalah kepedulian kepada sesama yaitu diperoleh dari hewan qurban yang disembelih dagingnya dibagi-bagikan kepada seluruh umat manusia sampai tidak ada yang merasa lapar. Bahkan disebut sebagai hari raya makan minum. Di hari-hari tasyrik dilarang untuk berpuasa. Mengapa Ibrahim memperoleh “reward” dengan digantinya Ismail menjadi hewan qurban. Ini adalah buah ketaatan Ibrahim dan buah keikhlasan Ismail. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah hampir 3 bulan sejak Gaza di blokade dari bantuan kemanusiaan, tidak ada makanan dan minuman disana. Video, foto berseliweran di sosial media, di group whatsapp. Bahkan sudah ada warga palestina yang syahid karena kelaparan. Bom baru Israel ini bernama kelaparan.

Saya termenung membayangkan mereka yang sedang wukuf dan menjalankan haji di arafah. Kemudian saya membayangkan masyarakat Indonesia yang gegap gempita menyambut penyembelihan hewan qurban esok pagi. Bersiap di hari raya makan-makan dan tidak ada orang yang boleh kelaparan. Saya mengutuki diri saya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun, jangankan menghentikan untuk sekedar mengurangi penderitaan rakyat Palestina saja tidak bisa. Kirim makanan, air bersih, obat-obatan juga tidak bisa. Lalu kemudian saya teringat hadits nabi yang lain : Selemah-lemahnya iman adalah ketika seorang mukmin melihat kemungkaran tetapi tidak mengatasinya dengan tangan, lisan, atau hati. Hadits ini menjelaskan tiga tingkatan dalam mengingkari kemungkaran: mengubah dengan tangan, mengubah dengan lisan, dan mengingkari dengan hati. Barangkali, kita sudah masuk ke dalam golongan yang seperti ini, hanya mampu berdoa dan tak berdaya sembari menikmati daging qurban sementara mata berurai air mata membayangkan perut saudara-saudara palestina yang sudah lama tak terisi makanan. Ampuni hamba yaa Rabb

*) Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar