Menciptakan lapangan kerja baru di jawa barat melalui Energi terbarukan (Biomassa)

Oleh : Kurnia Fajar

Pekan lalu dalam acara Indonesia Lawyers Club, disampaikan situasi dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Generator ekonomi mati. Industri mandeg dan tidak bertumbuh. Ber-efek kepada sektor-sektor lainnya. Belanja Pemerintah melalui APBN dan APBD juga seret, semua belanja diharuskan untuk efisien. Penerimaan pajak tidak mencapai targetnya, dan ya Indonesia sesungguhnya sudah memasuki krisis ekonomi. Deflasi sudah berlangsung 3 (tiga) bulan. Dalam situasi seperti ini, Investasi untuk menghidupkan generator ekonomi kembali seharusnya bisa ditingkatkan. Jawa Barat sebagai Propinsi dengan penduduk terpadat di antara propinsi lain, sudah seharusnya melakukan peran aktif dalam mendukung lahirnya investasi yang berkelanjutan sesuai dengan situasi global dan mendukung indikator SDG’s dan ESG. Pergeseran ini tentulah angin segar untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik dan lebih sehat. Indonesia sudah semestinya bahagia dengan kesepakatan ini, bagaimana tidak hampir 10 tahun ekonomi mandeg, pertumbuhan ekonomi yang terjadi hanya bersumber dari bidang yang itu-itu saja, menjual komoditi primer sejak orde baru berdiri.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data sekitar 9,89 juta penduduk usia muda (15-24 tahun, Gen Z) masih berstatus menganggur atau tanpa kegiatan. Bahkan berdasarkan survey Bank Indonesia (BI) dalam 6 bulan kedepan akan semakin sulit untuk mencari lapangan pekerjaan. Mengapa hal ini terjadi? Pertama semakin tinggi teknologi dan semakin berkurangnya lapangan pekerjaan yang digantikan oleh mesin dan AI. Sebagai contoh kasir di restoran cepat saji yang dulu manual , di luar negeri dan mulai terlihat di beberapa store di Indonesia. Digantikan oleh self-checkout mesin. Kedua, supply dan demand yang tidak imbang
Generasi Z mendominasi di Indonesia, yaitu sebanyak 74,93 juta atau 27,94% dari total penduduk Indonesia. Sedangkan lapangan pekerjaan yang tersedia untuk menerima kandidat baru di tahun 2024 cuma sebanyak 8867. Jadi bisa dibayangkan kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan ini. Beberapa owner bisnis yang mengalami pengalaman yang kurang enak dengan staff gen Z. Terlihat di beberapa sosmed, owner-owner bisnis mengeluhkan perilaku Gen Z yang sangat sensitif ketika ditegor atau dimarahi oleh owner.
Sehingga para owner lebih memilih merekrut milenial ketimbang gen Z.

Energi terbarukan adalah semangat baru dunia, pemanfaatan Air, angin, matahari, panas bumi dan pepohonan atau tumbuh-tumbuhan. Dalam kesepakatan baru negara-negara dunia mengenai perubahan iklim, salah satu poin dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) atau kita kenal dengan perjanjian paris club. Perjanjian ini bertujuan untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya. Dalam perjanjian ini, negara-negara dunia berkomitmen untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius. Indonesia meratifikasi perjanjian ini melalui UU No. 16 Tahun 2016. Dalam pertemuan di Dubai Uni Emirat Arab, dunia juga sepakat bahwa akan beralih dari energi fosil menuju energi baru terbarukan yang lebih ramah terhadap lingkungan diantaranya, tenaga surya, tenaga angin, biomassa, dan geothermal. Pergeseran ini tentulah angin segar untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik dan lebih sehat. Melihat situasi di atas maka yang paling realistis dan konkrit penciptaan lapangan kerja baru adalah menanam pohon. Padat modal, padat karya dan akan mampu memutarkan generator ekonomi di pedesaan.

Dalam terminologi biomassa, dan energi terbarukan pohon-pohon yang ditanam ini akan menjadi jaminan supply bagi Industri energi terbarukan di masa mendatang. Data yang dirilis Lembaga think-tank Trend Asia melihat industri pelet kayu (wood pellet) masih akan terus berkembang di dunia. Dalam sepuluh tahun ke depan, Trend Asia memperkirakan permintaan terhadap pelet kayu untuk pasokan biomassa akan mencapai 36 juta ton per tahun. Ini meningkat dari yang sekitar 14 juta ton di tahun 2017. Berdasarkan catatan Trend Asia, negara yang paling banyak mengimpor pelet kayu pada 2017 adalah Inggris, yakni mencapai 6,8 juta ton per tahun. Selanjutnya, permintaan terbesar akan pelet kayu datang dari Denmark 2,3 juta ton, Korea Selatan 2,4 juta ton, dan Jepang 1,5 juta ton. Ada sebuah konsep pertumbuhan ekonomi baru terkait hal ini khususnya di jawa barat bagian selatan, mulai dari sukabumi di sebelah barat sampai ke ciamis di sebelah timur. Dalam catatan data tahun 2022 setidaknya hampir 1 juta Ha lahan tidak dimanfaatkan ada di jawa barat. Belum lagi perkebunan-perkebunan terlantar yang jumlahnya mencapai 300 ribuan hektar. Ini adalah potensi. Coba dibayangkan jika lahan tersebut ditanami Kaliandra, Gamal dan pohon untuk biomassa, paling tidak ada 1,5 milyar pohon bisa ditanam secara bertahap. Hasilnya bisa digunakan untuk bahan baku biomassa dan Indonesia bisa menjalankan konversi Energi dari fosil menuju Energi terbarukan. Belum lagi jika dihitung dari credit carbon yang diperoleh. Secara sederhana, jika 1,5 Milyar pohon ini ditanam di Jawa Barat. Paling tidak akan masuk nilai Investasi senilai 3 Milyar USD untuk tanam pohon, 15 Milyar USD untuk pabrik pengolahan biomassa dan 15 Milyar USD untuk industri hilirnya.

Dalam catatan kami, setidaknya dari potensi lahan dan industri serta turunannya bisa menyerap sekitar 500 ribu tenaga kerja. Apabila model bisnis-nya dibuat close loop maka akan lebih dahsyat lagi, bisa menyerap hampir 1 juta tenaga kerja. Ini yang harus menjadi concern dan perhatian pemerintah propinsi Jawa Barat.

Tinggalkan komentar