Maafin ya bu, aku tidak menepati janji

Oleh : Kurnia Fajar*

Hari ini, 14 Juni. Jika ibu masih ada beliau akan berusia 65 Tahun. Meskipun sepanjang usianya beliau tidak pernah mau dirayakan hari kelahirannya. Katanya, hari ulang tahun gak cocok dirayakan untuk orang seperti ibu. Sang Maha Rahman lebih sayang padanya. Ibu dipanggil pulang 4 Juli 2019. Enam tahun silam. Sejak beliau berpulang, cara saya memandang dunia tidak lagi sama. Saya merindukannya. Setiap hari. Hari ini saya teringat dua pesan ibu kepada saya sebelum beliau pergi. Pertama dan selalu diajarkan sejak saya masih belia yaitu jaga nama baik keluarga. Dan kedua, urus dengan baik anak-anak kamu. Untuk kedua pesannya tersebut saya merasa gagal. Dalam suasana sunyi sering saya termenung betapa saya telah gagal menjadi anaknya. Gagal menjadi kebanggaannya. Saking merasa gagal, sampai saya enggan untuk memaafkan diri saya sendiri. Setidaknya itulah penilaian manusia pada saya hari-hari ini. Meskipun di depan pusaranya, saya melakukan pembelaan, bahwa setiap tindakan yang saya lakukan adalah juga untuk melaksanakan pesannya yang lain. Suatu ketika beliau mengatakan begini pada saya “kamu boleh jadi apa aja ketika kelak kamu dewasa, ada dua hal yang harus kamu hindari, pertama jadi pengkhianat dan kedua jadi pengecut. Saya pegang erat-erat kedua pesan ibu tersebut. Saya selalu hindari sikap-sikap pengecut dan pengkhianat.

Saya dilahirkan dan dibesarkan ibu dalam keluarga militer dengan tradisi ayah yang keras dan disiplin. Ditempa supaya serupa seperti baja. Saya juga diajarkan untuk tidak boleh menangis. Untuk ajaran ini, di ruang-ruang gelap sering saya abaikan. Saya menangis untuk melegakan dada yang sesak. Akibat ajaran ini akibatnya saya sulit untuk mengungkapkan perasaan. Nah! Dari ibulah saya belajar kelembutan. Sosok ibu kemudian tiwikrama menjadi istri, atau pada bungsu perempuan. Kepada mereka, saya menjadi “lemah” dan “nurut”. Itu ibarat puncak dari kasih sayang, respek, pelindung, pelayan sekaligus. Laki-laki seperti saya harus menjadi batu karang. Lalu Ibu adalah oase, dari situ saya belajar sisi lembut. Tentang hal ini ibu berpesan hanya satu: hormati perempuan seperti Ibu. Saya juga teringat pesannya yang lain, yaitu jangan sampai lupa rasanya tertawa. Jika satu waktu saya melawannya, sambil terdiam beliau selalu mengatakan inget pesan nabi : Ibumu, ibumu, ibumu. Kalo udah begitu biasanya saya segera pulih dari amarah. Saya berbeda memandang dunia. Saya seperti sedang tersesat di dalam hutan. Bingung, mau mendaki ke puncak atau turun ke dasar lembah. Tidak ada lagi dering telepon bertuliskan “Ibundaku”. Mimpi menjadi satu-satunya tempat untuk bertemu. Tapi terbangun dengan hantaman di ulu hati setiap pagi. Menyadari bahwa ibu tak akan pernah kembali.

Sepeninggal ibu, dunia seperti panggung sandiwara. Tidak ada ketulusan. Di panggung ini semua menjalankan peran-nya. Dan semua jago dalam berakting. Aku sendiri seperti berdiam di pojokan panggung, bingung. Tak tahu harus melakukan apa dan tak tahu harus mengucapkan apa. Tiba-tiba aku tidak memiliki script skenario cerita drama ini. Sambil bertanya, kapan ya pembagian script itu? Kenyataannya pembagian script itu memang tidak pernah ada. Dalam satu periode kehidupan setiap kita pasti pernah berada di pojokan panggung itu dengan pandangan kosong, murung dan bingung. Begitulah hidup, semua dipergilirkan dan masa itu telah kulalui 6 tahun yang lalu. Ibu pernah cerita bahwa di dalam bunga mawar yang indah selalu tersedia duri tajam yang menyakiti. Keindahan kupu-kupu tidak bisa dinikmati oleh kupu-kupu tersebut meskipun untuk menjadi indah, ia harus menjadi kepompong yang menyakitkan. Kadang kita melihat diri selalu kurang dan gagal, namun orang lain bisa melihat dengan jelas potensi dan nilai dirimu. Jadi just keep moving forward. Karena Allah SWT. Tuhan yang maha Rahman akan menunjukkan kebesarannya di saat-saat hampa.

Setelah ibu wafat, jika mengalami goncangan-goncangan hidup. Saya jadi punya kebiasaan baru, mengunjungi makamnya. Duduk dan kemudian bermonolog di depan pusaranya. Pusara adalah kumpulan kenangan. Seperti kereta, senja. Karena itulah dia disebut rikuem. Kemudian saya ciptakan dialog-dialog imajiner dalam kepala saya. Seolah-olah ibu menjawab semua pertanyaan saya. Saya bisa menangis, marah, sesunggukan, di pusara ibu. mengaduh betapa takutnya menghadapi hidup sendirian. Hal yang baru saya sadari setelah kepergiannya. Saya dulu tak pernah takut. Ada ibu yang pasti akan membela saya. Menemani saya dalam masa-masa kegelapan. Di saat seluruh dunia ragu, bahkan saya sendiri ragu dengan diri sendiri. Ibulah satu-satunya orang yang yakin dengan saya. Saat diri merasa tidak berguna, ibulah yang berbisik di telinga, bahwa saya pasti bisa. Bukankah setiap anak di pangkuan ibunya adalah seorang juara? Saya juga teringat betapa optimisnya ibu menjalani kehidupan. Seburuk apapun keadaannya, modal kamu cuma optimis. Allah yang maha besar bisa mengabulkan segalanya. Akhirnya, di depan pusara ibu setelah puas bicara dengannya selalu muncul pertanyaan dari dalam diri : Do i make her proud? Mungkin saya tidak. Tapi ibu tahu, saya adalah orang yang tidak akan pernah menyerah. Dan seperti biasa, tidak ada jawaban. Hanya kesunyian sore diiringi suara jangkrik di dalam komplek pekuburan. Sambil pulang, saya teringat pesan senior saya “Mother always loves you beyond everything, even herself.”Semua anak mendapat ilmu dan pengetahuan dari ibunya. Tapi Ibu tak pernah mengajarkan bagaimana melanjutkan hidup tanpa dia. Selamat ulang tahun Ibu. Allahumagfirlaha, warhamha, waafihi wafuanha. Ya Rabb. Ampuni ibuku dan sayangi ibuku.

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar