Revolusi kentang

Oleh : Kurnia Fajar

Ketika Kentang Membunuh Jutaan Orang dan Mengubah Politik Global. Bayangkan makanan pokok tiba-tiba menghilang dari meja makan. Bukan karena kelangkaan biasa, tapi karena tanaman itu sendiri membusuk sebelum sempat dipanen. Bayangkan rasa lapar yang bukan sekadar perut kosong, tapi kematian yang merayap perlahan dari desa ke kota. Bukan karena perang, tapi karena sebuah jamur kecil yang tak terlihat. Tahun 1845, Irlandia. Kentang, makanan utama lebih dari separuh penduduk, diserang oleh Phytophthora infestans, jamur pemusnah tanaman. Apa yang tadinya menjadi simbol ketahanan pangan berubah menjadi alat penyiksa massal. Hasilnya: kelaparan, kematian, dan eksodus massal ke Amerika. Tapi ini bukan cuma cerita soal tragedi pangan. Ini soal bagaimana sebuah krisis pertanian bisa mengguncang tatanan politik Inggris, melahirkan reformasi ekonomi besar-besaran, dan mengubah wajah dunia Barat. Semua berawal dari sebutir kentang yang membusuk. Musim semi 1845 datang seperti biasa di pedesaan Irlandia. Para petani mempersiapkan ladang, menanam kentang yang sudah turun-temurun jadi tumpuan hidup. Tapi ketika panen mendekat, bau busuk menyelimuti ladang. Kentang-kentang itu lembek, hitam, dan hancur begitu digali. Mereka terinfeksi.

Awalnya dianggap musibah musiman. Tapi tahun berikutnya, jamur itu kembali, lebih agresif, lebih mematikan. Pada tahun 1847, “Black ’47”, kelaparan mencapai puncaknya. Desa-desa kosong. Mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Irlandia seperti medan perang, tanpa peluru. Para bangsawan Inggris menyaksikan dari kejauhan. Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Sir Robert Peel mencoba mengimpor jagung dari Amerika, tapi gagal karena rakyat Irlandia tak tahu cara mengolahnya. Mereka butuh kentang. Bukan biji jagung. Pada saat bersamaan, Inggris sedang mempertahankan hukum Corn Laws yaitu aturan proteksionis untuk melindungi petani kaya di Inggris dari impor makanan murah. Artinya, meski Irlandia kelaparan, pangan murah dari luar tak bisa masuk bebas. Kelaparan makin brutal. Ratusan ribu orang mencoba bertahan. Yang lain memilih meninggalkan tanah kelahirannya. Mereka naik kapal ke Amerika, banyak yang mati di perjalanan, kapal-kapal itu dijuluki “coffin ships”. Tapi yang selamat, mereka adalah benih perubahan. Dan perubahan itu datang. Bukan dari belas kasih, tapi dari tekanan. Inggris akhirnya mencabut Corn Laws pada 1846. Namun itu semua sudah terlambat untuk menyelamatkan Irlandia, tapi cukup untuk mengguncang fondasi proteksionisme dan melahirkan era perdagangan bebas global.

Selama periode 1845–1852, diperkirakan lebih dari 1 juta orang Irlandia tewas akibat kelaparan dan penyakit. Lebih dari 2 juta mengungsi ke Amerika dan Kanada. Irlandia kehilangan hampir 25% populasinya. Phytophthora infestans sendiri bukan berasal dari Eropa, melainkan dari Meksiko. Menyebar ke Eropa lewat kapal dagang dan menemukan ladang Irlandia yang cocok: penuh monokultur dan tanpa keragaman genetik. Kentang Irlandia adalah target empuk. Ironisnya, selama kelaparan berlangsung, Irlandia tetap mengekspor makanan ke Inggris. Gandum, daging, dan produk pertanian lainnya terus dikirim, dijaga dengan senjata, bahkan ketika rakyat setempat mati kelaparan. Kapitalisme berjalan seperti biasa. Corn Laws akhirnya dihapus setelah tekanan besar, termasuk dari Partai Whig dan kelompok perdagangan bebas. Tapi keputusan itu memecah Partai Konservatif Inggris dan membuka jalan bagi munculnya kebijakan ekonomi baru: liberalisasi perdagangan global. Migrasi besar-besaran ke Amerika tak hanya menyelamatkan banyak nyawa Irlandia, tapi juga memperkuat budaya Katolik Irlandia di Amerika. Di kemudian hari, keturunan mereka menjadi politisi besar, termasuk John F. Kennedy, cucu dari imigran kelaparan.

Krisis ini juga meninggalkan trauma nasional pada Irlandia. Bagi banyak rakyat, kelaparan dianggap sebagai genosida terselubung oleh Inggris, karena kegagalan negara untuk bertindak cepat dan efektif. Ini menjadi bahan bakar kemarahan yang terus membara selama perjuangan kemerdekaan Irlandia di abad ke-20. Hingga akhirnya Irlandia resmi merdeka pada 6 Desember 1922. Jadi, siapa sangka politik bisa ditentukan oleh jamur kecil dan sekarung kentang? Inggris mungkin mengira mereka melindungi pasarnya, tapi akhirnya justru membuka gerbang globalisasi, dengan mayat rakyat Irlandia sebagai batu loncatan. Ternyata kapitalisme awal bukan soal pasar bebas—tapi bebas membiarkan orang mati, asal angka tetap naik di papan kalkulasi penguasa. Dan begitulah, kentang pun masuk sejarah sebagai pembunuh, bukan karena racunnya… tapi karena manusia yang mengaturnya.

Hari ini, Revolusi kentang sedang berlangsung. Tepatnya di Gaza Palestina. Persis seperti di Irlandia. Kapitalisme memutuskan siapa yang boleh hidup dan siapa yang boleh mati. Hukum dan undang-undang yang mengatur ketertiban dunia sudah mati. Rasanya kini dunia diatur oleh sistem keuangan global yang mencengkeram dan mengatur hajat hidup orang banyak. Oligarki menjadi subur dan makmur. Segelintir orang mengatur nasib ratusan juta yang lain. Harusnya kita belajar kepada revolusi kentang tadi. Tapi atas nama pemilik modal kemanusiaan mohon maaf minggir dulu. Lalu pertanyaannya apakah kita masih manusia? Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar