Oleh : Kurnia Fajar*

Israel dan Iran memanas. Ratusan rudal sudah ditembakkan oleh Teheran ke Tel Aviv dan kota-kota penting lainnya di Israel. Ini adalah respon Iran atas serangan Rudal Israel yang menembus fasilitas nuklir dan tangsi-tangsi militer vital milik Iran. Tiga Jenderal Iran dilaporkan tewas dan beberapa ilmuwan dinyatakan luka-luka. Sementara kita di Indonesia masih ribut tentang kerusakan lingkungan akibat tambang di Raja ampat Papua. Pulau milik Aceh yang di putuskan oleh Menteri Dalam Negeri masuk wilayah Sumatera Utara, berita korupsi dan yang paling hits adalah tentang Ijasah Jokowi. Mencari Ijasah Jokowi ini ibarat mencari teks asli supersemar, hilang, lenyap ditelan bumi. Jika terus dilakukan ia adalah pekerjaan sia-sia. Benar kata Gus Dur “Bangsa ini adalah bangsa yang tidak mau jujur dengan sejarahnya”. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, ekonomi yang mampat, semua terasa genting dan penting. Berita buruk datang setiap hari. Genosida Palestina yang mengusik rasa kemanusiaan sampai ketidakmampuan diri untuk sekedar membeli beras dan ongkos untuk anak-anak sekolah. Tekanan sosial ekonomi terus menginap di dalam kepala kita setiap hari. Kita tidak sedang baik-baik saja. Tapi kita gak sendirian kok, semuanya juga mengalami peristiwa yang sama dalam skala yang berbeda.
Semua orang mengatakan, ini adalah awal perang dunia ketiga, akhir Jaman, Armageddon dan istilah lainnya. Tapi ini bukan perang dunia ke 3. Ini adalah dunia yang bingung, linglung dan letih. Dunia yang kehilangan arah. Nilai benar dan salah menjadi nisbi. Kemarin ekonomi digenjot, lingkungan dirusak. Hari ini ekonomi digenjot tapi lingkungan harus tetap baik. Besok kesadaran manusia hilang, seperti orang yang hendak tenggelam memegang apa saja yang ada di sekitarnya agar tetap hidup. Ya, semua dalam mode bertahan hidup. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup dalam situasi seperti sekarang ini adalah dengan merubah prilaku dan nilai-nilai umum yang dianut oleh masyarakat modern. Kita harus melawannya. Dan kita melawan dengan diri kita sendiri. Dalam masyarakat Indonesia, kita biasa berbasa-basi dengan sebuah kalimat, halo, apa kabar? Saking seringnya kalimat itu kehilangan maknanya. Sering saya bertanya-tanya, kenapa setiap kali ditanya apa kabar, jawaban kita selalu kabar baik. Kita anggap kalimat itu seperti kalimat pembuka. Dua hari lalu saya menemukan jawabannya. Bertanya apa kabar, itu menenangkan dan menyenangkan bagi yg ditanya. Ia seperti oase bagi sebagian orang yang sudah kehilangan dirinya. Itu saja bisa menjadi prestasi sendiri : mengucapkan dan menerima ucapan apa kabar!
Tahun 1951. Di Swedia, ada lomba balap sepeda legendaris bernama Sverigeloppet. Jaraknya bukan main-main: 1.764 kilometer hampir mirip dengan jarak dari Teheran menuju Tel Aviv. Membentang dari kota Haparanda di utara hingga Ystad di selatan. Sebuah tantangan fisik yang luar biasa, bahkan untuk atlet-atlet muda. Namun ada satu orang yang tak peduli soal usia. Namanya Gustaf Håkansson, seorang sopir bus berusia 66 tahun asal Helsingborg. Semangatnya membara, meski tubuhnya sudah mulai keriput. Ia ingin ikut serta dalam balapan itu. Tapi ada satu masalah, yaitu aturan lomba hanya mengizinkan peserta berusia maksimal 40 tahun. Jelas saja, permohonannya ditolak mentah-mentah.
Mungkin bagi kebanyakan orang, itu adalah akhir dari sebuah cerita, tapi tidak bagi Gustaf. Ia memutuskan untuk tetap ikut berlomba, walau tanpa izin resmi. Dengan sepeda tua yang berat, ia memulai “start” satu menit setelah peserta terakhir memulai lomba. Di dadanya, ia sematkan papan nomor buatan sendiri bertuliskan angka “0”, seolah dia ingin berkata: “Saya mungkin tak dihitung, tapi saya tetap ada di sini.”
Berbeda dengan peserta resmi yang mematuhi aturan istirahat di malam hari, Gustaf memilih untuk terus mengayuh sepeda bahkan saat malam tiba, ketika peserta lomba yang lain tidur lelap di penginapan. Strateginya sederhana tapi sangat berhasil, yaitu konsistensi, sedikit tidur, dan tekad yang membara.
Hasilnya sangat mengejutkan. Setelah 6 hari, 14 jam, dan 20 menit, Gustaf mencapai garis finish di Ystad, dia unggul dengan selisih 24 jam penuh dari pemenang resmi lomba. Meski panitia tidak mencatatkan namanya sebagai juara, seluruh Swedia tahu siapa pemenang sesungguhnya. Media menjulukinya “Stålfarfar” yang berarti “Kakek Baja”. Ia menjadi simbol kegigihan, keteguhan hati, dan pembuktian bahwa batasan terbesar sering kali hanya ada di kepala manusia sendiri. Ribuan orang menyambutnya di Ystad dengan pawai dan sorak sorai. Bahkan Raja Gustaf VI Adolf secara pribadi mengundangnya untuk bertemu. Sejak saat itu, nama Gustaf Håkansson hidup dalam hati rakyat Swedia sebagai legenda. Uniknya, Gustaf tidak berhenti di situ. Ia terus menyalurkan hobi bersepedanya hingga usia 100 tahun. Dia masih aktif mengayuh saat kebanyakan orang seusianya sudah terbaring di ranjang perawatan. Gustaf wafat pada tahun 1987, di usia 102 tahun, usia yang bagi sebagian orang, sudah terasa seperti rekor dunia. Kisahnya telah menginspirasi banyak orang dan menjadi simbol bahwa usia bukanlah penghalang untuk mencapai prestasi. Saya teringat ucapan senior saya waktu kuliah dulu “you can fly because you think, you can!” Pada akhirnya, kita masih disini dan masih bernapas. Mari kita syukuri. Tabik!
*)Gerilyawan Selatan