Kebebasan, Harapan,  Perjuangan dan kebahagiaan

Oleh : Kurnia Fajar*

Pagi-pagi sekali kawanku datang ke kantor. Mukanya kusut, minta dibuatkan kopi dan mulai menyalakan kreteknya. Sambil menarik nafas dalam-dalam dan mulai bercerita kalau ia baru saja ribut sama istrinya. Istrinya bilang gini “kamu tuh gak pernah ya bahagia-in aku”. Padahal waktu itu ia baru saja pulang kerja shift malam. sembari mendengarkan dia bercerita dengan khidmat, nyempil satu pertanyaan dikepalaku “kalo istri menggantungkan bahagia pada suami nya, terus kebahagian temen ku ini sebagai suami bergantung sama siapa?” Lalu tiba-tiba aku teringat cerita seorang senior tentang perbudakan di Amerika Serikat abad 18. Bahwa kebebasan, mimpi dan harapan bagi seorang laki-laki haruslah diusahakan sendiri. Sambil menepuk pundaknya aku bercerita kisah ini :

Bayangkan kamu duduk di dalam sebuah kotak kayu yang sempit. Tubuhmu meringkuk, lutut menempel ke dada, dan hanya ada sedikit lubang udara untuk bernapas. Gelap. Pengap. Setiap guncangan terasa seperti gempa kecil yang menghantam tulang belakangmu. Tapi kamu diam. Bertahan. Karena kamu tahu, di ujung perjalanan ini, ada sesuatu yang belum pernah kamu rasakan seumur hidup—kebebasan. Itulah yang dilakukan oleh Henry Brown. Seorang pria kulit hitam yang lahir sebagai budak di Virginia, Amerika Serikat, pada awal abad ke-19. Sejak lahir, Henry tidak pernah memiliki dirinya sendiri. Hidupnya diatur oleh orang lain. Mau makan apa, kerja di mana, tidur jam berapa, bahkan menikah pun butuh izin dari pemiliknya. Tapi Henry adalah seorang pria yang sedang dimabuk cinta. Ia jatuh cinta pada wanita bernama Nancy, sesama budak. Mereka menikah secara sah menurut hukum gereja, walau tidak diakui oleh hukum negara. Mereka punya anak, membangun keluarga kecil, dan mencoba bahagia di tengah keterbatasan. Hingga suatu hari, Nancy dan anak-anak mereka dijual. Tanpa pemberitahuan, tanpa perpisahan. Henry hanya bisa berdiri dan menatap saat istri dan anak-anaknya digiring pergi, dibawa jauh oleh orang yang membelinya. Ia tidak tahu ke mana, dan lebih parah lagi, tidak bisa melakukan apa-apa. Karena pada saat itu, dirinya sendiri bukanlah miliknya.

Kesedihan itu menjadi api yang membakar semangatnya. Henry memutuskan satu hal: ia harus bebas. Ia tidak bisa terus hidup di dunia di mana manusia bisa diperdagangkan seperti barang. Dari situlah ide itu muncul. Gila, ya, mungkin. Tapi ide itu datang dengan kejernihan luar biasa—“Bagaimana kalau aku mengirim diriku sendiri ke tempat yang bebas?” Henry mencari bantuan. Ia menemukan orang-orang yang percaya bahwa perbudakan adalah kejahatan—orang kulit putih yang berani menentang sistem, dan aktivis anti-perbudakan yang bersedia menolong. Bersama-sama, mereka menyusun rencana pelarian paling tak masuk akal: Henry akan dikemas dalam sebuah kotak dan dikirim lewat pos ke Philadelphia, wilayah yang menolak perbudakan. Pagi itu, 29 Maret 1849, Henry masuk ke dalam sebuah kotak kayu berukuran sekitar satu meter. Di dalamnya hanya ada sedikit air, beberapa biskuit, dan bantal tipis. Kotaknya dilabeli “Barang Pecah Belah. Pegang dengan Hati-Hati.” Kotak itu dibawa melewati kereta, kapal, jalan berlubang, dan ruang-ruang pengap. Tak jarang kotaknya dibalik, membuat Henry berada dalam posisi terbalik selama berjam-jam. Ia hampir tak bisa bernapas. Kepalanya berdentum-dentum menahan darah yang turun semua ke otak. Tapi ia tetap diam. Tidak bergerak. Tidak bersuara.

Karena di dalam hatinya, satu kata terus menggema: bebas. Dua puluh tujuh jam kemudian, kotak itu sampai di kantor para aktivis anti-perbudakan di Philadelphia. Dengan hati-hati, mereka membuka tutupnya. Dan dari dalam kotak, Henry perlahan bangkit. Nafasnya berat, matanya berkaca-kaca. Tapi senyumnya lebar, dan dengan suara serak, ia menyapa, “Apa kabar, tuan-tuan?” Hari itu, Henry Brown lahir kembali—bukan sebagai budak, tapi sebagai manusia yang merdeka. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai Henry “Box” Brown. Ia menceritakan kisahnya ke seluruh negeri, bahkan sampai ke Inggris. Ia menulis buku, berdiri di atas panggung, dan menjadikan dirinya saksi hidup tentang betapa gilanya sistem perbudakan itu. Ia ingin dunia tahu, bahwa tidak ada manusia yang layak hidup di dalam rantai. Dan bahwa kebebasan, walau harus diperjuangkan dari dalam sebuah kotak kecil, tetap pantas untuk dikejar. Hidup kadang memang sempit, sesempit kotak yang hanya cukup untuk meringkuk. Tapi selama kamu masih punya harapan, dan keberanian untuk melangkah—atau dalam kasus Henry, menggulung tubuhmu dan dikirim lewat pos—kebebasan bukan hal yang mustahil. Karena bahkan di dalam kegelapan, seseorang masih bisa menemukan cahaya… dan melompat keluar sebagai manusia yang utuh.

Setelah satu jam bercerita sambil ngopi dan ngobrol, ia pamit. “Thanks ya, pikiranku lebih enteng sekarang”. Sebelum dia pulang saya bergegas minta tolong pada staf untuk membelikan dia rokok dan kopi untuk bekal dia melamun lagi. Dia tersenyum dan kemudian berkata ” Tidaklah bahagia seseorang yang sendirian. Karena kebahagiaan itu menjadi bahagia jika dibagi”. Wih, dapat juga pemaknaan obrolan pagi ini. Tetap semangat ya. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar