Oleh : Kurnia Fajar*

Saya percaya peradaban itu ada dan diwarisi. Bukan cuma soal ekonomi atau kekuasaan, tapi jejak panjang nilai, ilmu, dan harga diri kolektif. Contoh paling nyata ya Iran ini. Puluhan tahun Iran diboikot, diembargo, dan dilabeli sebagai negara nakal. Tapi mereka tetap eksis, bahkan unggul dalam sains & pertahanan. Kenapa? Karena mereka mewarisi kesadaran peradaban Persia, yang terus ada meski rezim berganti. Sejarah mencatat, sahabat Nabi Muhammad SAW Salman Al-Farisi diberi gelar sebagai manusia cerdas dan dia orang Persia. Jika kita melihat jauh ke belakang, Persia adalah salah satu kekuatan peradaban tua yang menang melawan Romawi dan Jengkhis Khan. Bangsa Persia selamat dari penaklukan Alexander Agung (334-330 SM), yang mengakhiri Kekaisaran Achaemenid melalui pertempuran-pertempuran seperti Granicus, Issus, dan Gaugamela. Meskipun Persepolis terbakar dan terjadi Hellenisasi, budaya Persia tetap bertahan melalui Zoroastrianisme dan sistem administrasi. Alexander mengadopsi adat istiadat Persia, mengintegrasikan budaya, meskipun tindakannya menyebabkan kehancuran dan keberlanjutan. Kemudian, Kekaisaran Parthia dan Sassania memulihkan identitas Persia. Pandangan berbeda-beda: orang Barat melihat misi peradaban; orang Persia menekankan hilangnya budaya. Pernyataan itu mungkin melambangkan ketahanan, mungkin mencerminkan ketahanan dan geopolitik modern.
Pernah diskusi dengan teman. Eropa itu adalah peradaban klasifikasi. Mereka obsesi pada sesuatu harus masuk sesuatu. Makanya taksonomi, geologi, hukum dan lain-lain berkembang di sini. Lain lagi dengan Arab. Arab termasuk Persia tentunya. Mereka obsesi pada sesuatu untuk menyelesaikan masalah atau membuat sesuatu yang ekstrim. Aljabar berkembang karena ada tentangan menghitung waris dan zakat. Aljabar arti sebenarnya adalah memulihkan hal yang hilang. Ilmu kimia di dunia berkembang ya karena orang Timur Tengah lagi obsesi sama batuan dan mineral. Batu yang bisa mengubah logam biasa jadi emas. Akhirnya yang ditemukan alkohol, acid, alkali dan lainnya. Dalam Ilmu astronomi timur tengah pernah dominan. Bukan karena mereka ingin tahu alam semesta. Al Farghani (orang Persia yang menetap di Kairo) itu menemukan sistem orbit karena hanya tak ingin waktu shalat salah. Ketika orang arab sudah khatam dengan kimia. Menemukan banyak hal termasuk cikal bakal laboratorium sekarang. Baru orang eropa mengklasifikasikan. Muncul sistem periodik. India dan Asia Timur menurut saya sama. Science berkembang karena agama dan tuntutan penguasa. Mesiu ditemukan ya jelas untuk kepentingan penguasa. Kalender karena keduanya untuk upacara kerajaan dan agama. Dan agama adalah bagian dari upaya mengontrol pikiran rakyat.
Asia Tenggara gitu-gitu aja kecuali Singapura. Jarang perang, cuma saling tikam ketika mau suksesi politik. Pada konteks ini saya jadi ragu kita ini pernah besar. Jangan-jangan Sriwijaya & Majapahit itu cuma “franchise”. Kalo franchise dari kerajaan mana yang seangkatan itu dan lebih besar dari Majapahit dan Sriwijaya? Pada jaman Sriwijaya ada dua kerajaan di India yang sejenis yaitu Pala dan Chola. China ada dinasti Tang. Ini kerajaan-kerajaa besar dan jaya. Universitas besar di Sriwijaya itu kemungkinan kelas jauh Nalanda. Tempat Transit orang China belajar Buddhist sebelum ke India. Langsung Indonesia ya. Mereka ga ada obsesi pada apapun. Cukup selaras dengan alam. Ketika kawasan diserang endemi biji bengkak. Mereka mengakali dengan ganti model celana jadi galembong. Atau pakai sarung. Orang Asia Tenggara tidak obsesi pada obatnya. Atau mengapa penyakit terjadi. Cukup ganti gaya menyesuaikan kondisi terakhir. Rakyat Asia Tenggara suka memakai celana berbahan lembut dan cenderung oversize. Di minang disebut celana galembong. Lalu ada sarung juga. Sarung bukan tradisi karena beragama islam. Orang Myanmar sarungan, tapi bukan mayoritas islam.
Celana gombrong dan sarung ini, adalah cara kita hiperbolik mengatakan size di dalamnya besar. Tapi seorang dokter membetulkan, dia bilang ini setengahnya benar. Yang oversize bijinya, bukan batang. Dia mengatakan dalam banyak catatan sejarah berupa relief dan catatan di India dan Cina. Ada cerita sakit biji bengkak ada di daerah panas. Kolonial Eropa baru mencatatkan ini pada akhir abad 19. Saya lupa nama penyakitnya. Tapi sejenis kaki gajah. Tapi ke biji. Bisa sebesar bola tennis. Bahkan ada beberapa kasus sebesar bola kali. Dan memang menyebar di Asia Tenggara. Penyebabnya bakteri. Orang Asia Tenggara bukan berusaha mencari cara pengobatannya. Tapi mencoba berdamai dengan penyakit ini. Cari fashion yang selaras dengan endemik. Celana oversize dan juga sarung. Bahkan orang minang menemukan folk theatre dengan celana ini. Namanya randai. Bagian selangkangan celana ini ditepuk-tepuk mengeluarkan suara. Katanya puncak pandemi ini berlangsung tahun 600-800 M. Dan saat ini masih ada kasusnya menurut WHO. Tp lebih ke kaki gajah. Mungkin di sini pemasalan celana oversize dan sarung. Lalu beberapa abad kemudian islam masuk. Sarung menjadi sangat kompatibel untuk dipakai shalat.
Barulah ketika eropa masuk, ada beberapa peraih noble berdasar hasil penelitian di Asia Tenggara. Sampai-sampai saya sampai berpikir jangan-jangan Singapura bisa seperti ini karena memang ras kuning mayoritas. Makanya Lee Kwan Yeuw bisa bikin maju dalam 1 generasi saja. Jadi begitulah. Jangan berharap akan ada penemuan dan obsesi sains dari Asia Tenggara. Beda dengan Arab. Banyak yang bilang mereka kawasan manja sekarang karena minyak. Tapi sains mereka berkembang.
Indonesia, negara berbangsa-bangsa ini hobinya nostalgia tentang peradaban masa lalu. Bangsa Lemuria dan Sundaland. Lemuria merupakan benua yang hilang yang terletak di antara Afrika dan India. Pada awalnya di tahun 1824, seorang ahli Zoologi asal Inggris bernama Philip Sclater menemukan keanehan bahwa fosil hewan lemur di India dan Madagaskar. Karenanya beliau meyakini bahwa Madagaskar dan India dahulu merupakan bagian dari sebuah benua yang hilang bernama Lemuria (75.000 SM – 11.000 SM). Teori Lemuria kemudian dikembangkan oleh ahli Biologi asal Jerman bernama Ernest Haeckel yang menyebut Lemuria sebagai tempat asal usul Homo Sapiens. Lemuria tidak membangun kota dan gedung. Mereka hidup di alam terbuka. Terkoneksi dengan alam. Jika kamu termasuk orang yang tidak suka tinggal di kota dan lebih condong terhubung dengan alam, mungkin kamu bagian dari leluhur Lemuria. Terakhir, peradaban nusantara ini ya urusannya makan-makan. Coba bayangkan dari ujung barat sampai ujung timur nusantara ribuan macamnya dan beragam metodologi pembuatannya. Lain waktu saya akan tulis khusus. Tabik!
*)Gerilyawan Selatan