Oportunis atau menjalankan fiqih siyasah?

Oleh : Kurnia Fajar*

Malam ini, saya kesulitan memejamkan mata, berita online berseliweran tentang seorang kolega yang ditetapkan sebagai tersangka oleh lembaga anti rasuah. WA text berbunyi dan menanyakan pendapat saya tentang hal yang terjadi. Jawaban saya sederhana saja “di atas langit, masih ada langit”. Dilahirkan sebagai seorang Ronin yang berpindah-pindah tempat kost (baca : penampungan) membuat saya harus lentur dan bisa survive di rimba dunia persilatan politik yang sangat ganas ini. Berkawan bahkan bersahabat dengan Singa sang raja hutan pun tidak akan menjamin keselamatan diri. Kawan saya yang pernah menjabat sebagai ketua partai mengatakan yang terpenting dalam politik adalah memiliki tanda tangan, punya lapak dan area kuasa itu jauh lebih aman daripada bersahabat dengan raja hutan tapi kehilangan tanda tangan. Pernah ada Presiden yang menginginkan 3 periode itu karena tidak ingin kehilangan hak tanda tangan. Kekuasaan itu tidak pernah berdiri sendiri, jangan salah memilih kawan dalam menjaga kekuasaan. Karena nanti yang akan terjadi ujungnya adalah menyelamatkan diri masing-masing dan akan mengalami amnesia sejarah. Pemimpin itu harus siap merasakan sunyi diantara keramaian dan yang paling buruk merasakan dicampakkan seperti sampah.

Alkisah perjuangan 7 orang Ronin yang akhirnya menjadi 7 orang samurai karena sudah berbaiat kepada Singa sang raja hutan. Bahkan saking sayangnya kepada pimpinan 7 samurai ini sang raja hutan memberikan tanah perdikan untuk membangun sebuah shogun. Mereka bahu-bahu membahu membangun kerajaan baru di bawah imperium kekaisaran singa sang raja hutan. Menjadi pembela dan pembeda terdepan dari seluruh kebijakan singa. 7 samurai ini menjadi terkenal dan semakin kuat pengaruhnya. Saya, tetaplah ronin gerilya kesana-kemari, ngekost dari satu rumah ke rumah yang lain. Pada satu persimpangan takdir, akhirnya saya diberi kesempatan ngekost di kerajaan 7 samurai ini. Saya diterima dengan baik tentu sepanjang uang kost bulanan saya lancar. Sampai tiba waktunya saya terjatuh di tengah lautan lepas, alih-alih dibantu saya malah diajari berenang di lautan. Sudah tahu tenggelam, mencari cara untuk survive di tengah lautan, eh malah diajarkan cara untuk berenang. Nasehat terbaik untuk diri saya adalah : jangan mengajari berenang orang yang sedang tenggelam. Karena tenggelam saya jadi perbincangan orang banyak. Terjadi pembunuhan karakter dan pembusukan atas nama baik dan reputasi yang saya jaga selama ini. Namun kawan saya mengatakan begini “Nama baik nggak penting karena nggak ada juga yang akan ngasih piagam penghargaan dan medali kehormatan, yang penting adalah kemauan untuk kembali bangkit.

Beragam peristiwa ini hanya membuat saya sadar bahwa jalan terjal ini adalah bagian dari proses kehidupan. Yang sesungguhnya penting adalah kesadaran bahwa ada langit di atas langit. Untuk membentuk diri yang humble. Langit adalah konsep Manusia, letaknya di atas. Kalau sedang jenuh, saya suka memandangi langit, pakai teropong butut, mencari ada apa di atas sana. Dalam kitab suci dikatakan bahwa Tuhan menciptakan langit dan bumi. Turun dari langit dan diksi lain yang menunjukkan bahwa langit ada di atas. Sementara kita dari debu, dari setitik peju, jadi khalifah di Bumi, lalu kenapa sebagian besar manusia memiliki sifat di Langit? Sebagai manusia hendaklah kita bersikap Andhap asor dan Nrimo ing pandum. Semakin andhap Asor maka Tuhan akan semakin sayang. Saya kadang meyakini doa Gusmus lebih mungkin dikabulkan, bukan karena sakti mandraguna. Tapi karena sudah dikenal Langit. Sudah pada level disayang. GusMus kiai langitan yang andhap asor. Prinsipnya simpel. Jangan memberi beban pada konteks atas teks ‘oportunis atau siasat?’ yang ukurannya adalah dirimu. Maksud saya, ojo rumongso iso, jangan merasa Matahari terbit untuk dirimu saja. Kita cuma setitik peju, kelak kembali jadi debu

Hidup itu untuk merawat harapan. Bahwa hidup kita akan lebih baik. Saya turut letakkan harapan itu. Bukan supaya dia dipenuhi segalanya, tapi supaya tak dikhianati. Letakkan harapan kalian di mana saja. Asal tahu ukuran dan takarannya. Kadang kala tak mengapa untuk tak baik-baik saja, kita hanyalah manusia wajar jika tak sempurna; Saat kau merasa gundah lihat hatimu percayalah “segala sesuatu yang pelik, bisa diringankan dengan peluk”; Suatu hari nanti kamu akan mengingat masa-masa tersulit dalam hidupmu dan kamu akan tersenyum melihat bagaimana kamu bisa melewatinya dan bagaimana kamu tumbuh melalui pengalaman-pengalaman itu. Namun, Allah tahu sejak awal bahwa kamu mampu melewatinya karena Dia berjanji tidak akan menguji kita di luar batas kemampuan kita. wallahualam. Tabik!

*)Gerilyawan selatan

Tinggalkan komentar