Benarkah uang adalah ilusi dan Fiksi?

Oleh : Kurnia Fajar*

Pernyataan “uang adalah ilusi” mengacu pada konsep “ilusi uang” dalam ekonomi, bukan berarti uang tidak memiliki nilai sama sekali. Konsep ini menjelaskan bahwa manusia cenderung melihat nilai uang dari nilai nominalnya (jumlah yang tertera) daripada nilai riilnya (daya beli). Jadi, meskipun uang memiliki nilai tukar, persepsi manusia tentang nilainya bisa terdistorsi oleh faktor-faktor seperti inflasi. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh ekonom Irving Fisher. Ilusi uang terjadi ketika seseorang tidak memperhitungkan inflasi dalam menilai nilai uang. Misalnya, kenaikan gaji nominal mungkin terlihat bagus, tetapi jika inflasi lebih tinggi, daya beli sebenarnya bisa menurun. Jika seseorang mendapatkan kenaikan gaji 5%, tetapi inflasi juga 5%, secara nominal mereka lebih kaya, namun secara riil mereka tidak mendapatkan apa-apa karena harga barang dan jasa juga naik. Memahami ilusi uang penting agar tidak terjebak dalam persepsi palsu tentang nilai uang. Ini membantu dalam pengambilan keputusan keuangan yang lebih bijaksana, seperti perencanaan pensiun atau investasi. Meskipun uang penting, pernyataan “uang adalah ilusi” juga bisa merujuk pada fakta bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu bergantung pada uang. Ada aspek-aspek lain dalam kehidupan, seperti hubungan sosial, kesehatan, dan pengalaman, yang juga berkontribusi pada kebahagiaan.

Uang dicetak dari kertas dan tinta. Sebagian lagi hanyalah angka-angka di dalam layar dan di server. Masing masing dari kita, mati-matian kerja untuk mendapatkannya. Jika benar uang afalah fiksi, mengapa utangnya nyata? Uang bisa muncul dari satu klik dari bank sentral. Namun anda harus bekerja keras menukar waktu, energi bahkan kesehatan untuk mendapatkannya. Ketika anda meminjam uang dari bank, uang itu tidak diambil dari tabungan orang lain. Bank hanya menciptakan angka baru di sistem mereka dan anda harus membayar bunga secara nyata. Lalu siapa yang menciptakan dan mengendalikan sistem tersebut? Saya percaya anda sudah tahu jawabannya. Kekuasaan mereka melampaui kekuasaan negara adidaya sekalipun. Uang hari ini bukan lagi alat tukar tapi telah menjadi alat kontrol. Sehingga kredonya adalah “siapa yang mencetak uang maka ia akan mengatur dunia”. Dan mereka yang tidak memahami cara kerja uang maka akan jadi budak dari sistem keuangan. Inilah perbudakan modern itu. Kenapa anda tidak diajari hal-hal ini di sekolah? Karena mereka tidak ingin anda sadar. Mereka ingin anda terus mengejar, bukan memahami. Uang juga bisa dicetak dari menciptakan rasa takut dan menjual harapan. Inilah jaman dimana uang lebih berharga dari kemanusiaan.

Semuanya dimulai dari seorang yahudi di Frankfurt sekitar tahun 1761. Bernama Mayer amstel Rotschild. Ia memulai karier sebagai pedagang koin langka. Meskipun bisnisnya kecil, ia berfikir sangat jauh “jika uang bisa dikirim lintas kota, maka kekuasaan tak harus punya mahkota”. Kemudian, Meyer Rotschild mengirim anak-anaknya ke 5 kota yang sangat berpengaruh terhadap keuangan dunia yang diisi oleh bangsawan-bangsawan terpandang dunia. Yaitu London, Paris, Vienna, Milan dan Frankfurt. Disana mereka membentuk Bank dan jaringan keuangan pribadi yang bisa mengalirkan uang lebih cepat daripada pemerintah. Saat perang pecah, mereka menjadi penyandang dana, ketika angkatan perang butuh logistik dan pembangunan maka Rotschild yang akan menyediakan. Pada perang Prancis vs Inggris pada masa Napoleon, Rotschild menjadi sponsor bagi kedua belah pihak. Maka siapapun pemenang perang, maka yang cuan adalah Rotschild. Konsep inilah yang menjadi cikal bakal utang modern. Mereka mulai memperkenalkan obligasi yang terinspirasi dari “tulip bond” bangsawan Belanda. Negara bisa berutang ke investor dan mengembalikan-nya lewat pajak rakyat. Sebuah sistem yang menyebabkan negara-negara besar tergantung pada jaringan finansial mereka. Pertanyaannya mengapa mereka tidak tersentuh? Jawaban pendeknya karena kesadaran tidak hadir dan tumbuh di kepala rakyat.

Secara historis, ekonomi global mengalami krisis signifikan setiap 8-12 tahun sekali. Baik karena faktor internal (economic bubble) atau faktor eksternal seperti geopolitik, pandemi, dan lainnya. Mari kita lihat lebih dalam, setiap krisis ekonomi biasanya lahir dari lembaga keuangan raksasa, bukan dari pasar tradisional atau dari UMKM. Sekarang coba perhatikan : siapa yang mengatur likuiditas? Siapa yang mengatur suku bunga? Siapa yang dikutip media dan menjadi indikator ekonomi? Jika anda berfikir setiap krisis adalah “takdir” Tuhan maka anda akan terus menjadi korban. Karena nyatanya, yang mengatur krisis adalah mereka yang memegang kendali atas uang. Akibat hal ini seorang sosialis memiliki kredo : kita tidak dilahirkan miskin, namun kita diajarkan untuk miskin. Menjadi miskin bukanlah takdir namun konsekuensi dari sistem. Sistem pendidikan tidak mengajarkan kemakmuran. Agama sering digunakan untuk menormalisasi penderitaan. Sejak kecil kita hanya disuruh rajin, disiplin, patuh, ikut aturan namun tidak diajarkan membangun kesadaran, menghormati kemanusiaan dan menciptakan keadilan sosial bagi seluruh umat manusia. Terakhir coba kita renungkan nama-nama di bawah ini : The Fed, World Bank, IMF, BlackRock, Vanguard. What do you think? Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar