Maritza : Relativitas waktu

Oleh : Kurnia Fajar*


“Put your hand on a hot stove for a minute, and it seems like an hour. Sit with a pretty girl for an hour, and it seems like a minute. That’s relativity.” -Albert Einstein-

Senja merangkak di atas cakrawala Cengkareng, memoles awan-awan kelabu menjadi palet jingga yang sendu. Di bawahnya, Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta berdenyut, bukan dengan ritme modernitas, melainkan simfoni kekacauan yang absurd. Udara dipenuhi bisikan-bisikan frustrasi, aroma keringat, dan sesekali, lengkingan sirene yang entah untuk apa. Di tengah hiruk-pikuk itu, rombongan Para pengusaha baru saja mendarat dari penerbangan bisnis yang mewah. Mereka berbaris rapi, dengan koper-koper bermerek yang menggembol entah berapa banyak “uang pelicin” terselubung. Di garis depan, Tuan Kemaruk, pengusaha paling senior dengan perut buncit yang seolah menyimpan cadangan devisa negara, tersenyum lebar. Tak jauh dari mereka, segerombolan Provokator yang baru pulang dari pelatihan “agitasi massal” di luar negeri, berteriak-teriak mencari trolley. Salah satunya, Mister Gurunggusuh, dengan kaus bergambar tikus berdasi, melompat-lompat panik. “Mana trolley-nya?! Ini konspirasi! Mereka sengaja menyembunyikan trolley agar kita tidak bisa membawa pulang pesan-pesan revolusi!” Di sudut lain, sekelompok Guru Besar dari berbagai disiplin ilmu, yang baru saja kembali dari konferensi internasional tentang “Paradoks Modernitas”, terjebak dalam antrean imigrasi. Profesor Gabus, pakar sosiologi perkotaan, menghela napas.

“Ini adalah representasi sempurna dari anomali Emil Durkheim,” katanya pada Profesor Klungsu, seorang filsuf postmodern. “Struktur sosial yang kehilangan norma, individu yang merasa terasing.” Profesor Klungsu hanya mengangguk, matanya memancarkan kegelisahan. “Atau mungkin, ini adalah dekonstruksi identitas bangsa di tengah globalisasi yang tak terkendali. Kita kehilangan esensi ‘wajah’ kita.” Di area bea cukai, bencana sesungguhnya terkuak. Diplomat Asing dari berbagai negara terhuyung-huyung di depan layar-layar sentuh yang tak responsif, mencoba mengisi formulir elektronik yang konon “canggih”. Mr. Smooth, Duta Besar dari negara Barat yang terkenal efisien, mengusap pelipisnya. Ketika masuk ke area pengambilan bagasi, kekacauan makin menjadi. Di tengah kerumunan yang berebut koper, sekelompok Mahasiswa Kritis dengan jaket almamater kumal sedang menggelar diskusi dadakan. “Ini bukti nyata kegagalan birokrasi!” teriak seorang mahasiswa bernama Ranggas, sambil menunjuk konveyor yang macet.
Sistem ini tidak pro-rakyat! Ini oligarki bagasi!” sahut mahasiswa lain, Tere Liye, sambil mencatat di buku kecilnya. Mereka mulai menyanyikan yel-yel perjuangan, menarik perhatian beberapa turis asing yang kebingungan.

Tak jauh dari mereka, berdiri sekelompok Penyair Urakan, dengan rambut gondrong dan rokok kretek terselip di bibir. Chairil, sang penyair paling senior, dengan mata merah padam, menggumamkan sajaknya. “Bandara ini, kawan, adalah puisi yang tak pernah selesai. Setiap langkah adalah rima yang patah, setiap antrean adalah baris yang hilang. Kita semua adalah bait-bait yang terlantar, menunggu makna yang tak kunjung tiba.” Adegan terakhir berlangsung di depan lift menuju area parkir. Antrean mengular panjang, seperti ular piton yang kekenyangan. Gus Jakfar, seorang sufi lokal yang entah bagaimana bisa sampai di bandara dengan keranjang rotan berisi ayam jago kesayangannya, sedang khusyuk bertasbih. Tiba-tiba, seorang pria dengan kemeja sutra licin, dikawal dua polisi berseragam lengkap, langsung memotong antrean. “Minggir! Bapak bos mau lewat!” teriak salah satu polisi. Gus Jakfar mengangkat kepalanya, memandang pria berseragam itu dengan mata teduh. “Nak, tahukah engkau? Di mata Tuhan, antrean itu adalah syahadat. Siapa yang merusak antrean, ia merusak janji.” Di tengah kegelapan malam, lampu-lampu Terminal 3 berkedip, seolah mengedipkan mata, menyimpan rahasia-rahasia absurd dari sebuah negara besar yang masih mencari wajahnya di mata dunia.

Semalam saya nonton film The Equalizer yang kedua. Dibintangi Denzel Washington yang bermain sangat baik. To be fair, Denzel sebenernya tak beranjak jauh dari titik pijaknya. Hampir di semua film nyaris seragam. Namun kualitas oscar dalam film-film Denzel selalu terasa. Cerita dan karakter yang kuat. Dikisahkan Denzel sebagai Robert Mc Call memiliki bucket list buku-buku yang hendak ia baca salah satunya adalah novel mencari waktu yang hilang karya Marcel Proust. Alkisah, Proust sedang berkunjung ke rumah ibunya setelah menjalani hari yang melelahkan. Oleh ibunya, ia dihidangkan secangkir teh hangat dengan madeleine. Proust pun meminum teh itu lantas memakan madeleine setelah sebelumnya dicelup teh hangat. Aroma teh bercampur dengan madeleine membuatnya teringat memori-memori lama yang telah hilang karena dimakan waktu dan usia. Penjelasan singkatnya, Proust sedang bernostalgia. Beberapa dari kita, mungkin, pernah mengalami hal yang sama dengan Proust. Ketika berada di suatu tempat atau melihat sebuah barang, kadang-kadang kita teringat akan memori yang pernah kita lewati bersamanya. Entah kenapa mengingat memori masa lalu justru sering dialami ketika kita beranjak dewasa dan menua.

Waktu akan terus berlalu, hari akan terus berganti, tanpa memahami apapun yang saat ini sedang kita rasakan. Ketika kita sedang berduka, senang, bahagia atau pun sedang sakit. Perusahaan terus berproduksi. Aktivitas jual beli terus terjadi. Jalanan penuh orang pulang pergi. Waktu tidak akan pernah peduli. Dan di suatu tempat, Mbah Wiryo Prawiro mungkin sedang menyeruput kopi tubruknya, tersenyum simpul, menikmati drama yang tak pernah usai. “Inilah pentingnya Makan Bergizi Gratis di negeri ini!” Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar