Oleh : Kurnia Fajar*

Malathi” (مالathi) dalam bahasa sansekerta, yang diserap menjadi bahasa Indonesia, artinya “teman yang baik”. Nama ini juga bisa merujuk pada kondisi sakit. Namun secara mendalam Malathi juga bisa berarti sikap teman dekat kepada kita. Dalam sejarahnya pergantian kekuasaan di Nusantara ini khususnya pulau jawa turun temurun dipergilirkan dengan orang dekat atau keluarga. Bengkel Teater Rendra memiliki satu pementasan yang berjudul Panembahan Reso. Adalah lakon karya W.S. Rendra yang mengisahkan perebutan kekuasaan dalam sebuah kerajaan yang penuh intrik dan kekerasan. Panembahan Reso, seorang penasihat kerajaan yang cerdik, memanfaatkan konflik antara tiga selir raja dan anak-anak mereka untuk mencapai tujuannya sendiri, yaitu merebut takhta. Pada akhirnya, Panembahan Reso berhasil menjadi penguasa, namun ia justru menjadi gila dan tewas di tangan Ratu Kenari, salah satu selir yang ia korbankan. Panembahan Reso adalah gambaran bagaimana kekuasaan di tanah jawa dipergilirkan, saling tikam dan penuh intrik. Bahkan Rendra menulis sebuah buku novel sejarah “sang perampok”. Khusus untuk menggambarkan situasi dan kebiasaan dalam pergantian kekuasaan di tanah jawa ini. Bahkan digambarkan bahwa yang terjadi dalam perebutan kekuasaan ini sebagai kutukan leluhur yang tidak pernah selesai.
Wangsa Mataram dalam tulisan ini adalah merujuk kepada satu dinasti yang memimpin nusantara ini sejak jaman singosari, majapahit hingga berakhirnya monarki dan berdirinya Republik Indonesia. Sejarah mencatat sejak Singasari kemudian Majapahit, dilanjutkan oleh kesultanan Demak lalu kesultanan Pajang dan terakhir kesultanan Mataram Islam para tokohnya dan rajanya saling berkait entah itu keturunan langsung, atau keturunan hasil pernikahan, menantu, keponakan bahkan orang-orang terdekat yang mengabdi pada Raja sebelumnya. Bahkan sesungguhnya tradisi ini masih terus berlanjut pada Presiden-Presiden yang memimpin Republik Indonesia. Soekarno dari garis ayahnya adalah keturunan dari Sultan Hamengkubuwono II kemudian Soeharto meskipun anak Desa namun menikah dengan Bu Tien yang keturunan mataram dari Mangkunegaran yaitu dari Pangeran Sambernyowo atau Mangkunegara I. Kemudian Habibie, meskipun ayahnya berasal dari sulawesi. Namun ibunda beliau masih keluarga dari kraton Jogjakarta Hadiningrat. Kemudian Gusdur yang juga disebut memiliki keturunan langsung dari Joko Tingkir Raja kesultanan Pajang yang pertama. Lalu kemudian Megawati yang merupakan putri Bung Karno. Sedangkan SBY adalah keturunan dari Sultan Hamengkubuwono III. Sedangkan Jokowi adalah keturunan dari ki Juru mertani yang merupakan pepatih pada masa Panembahan Senopati. Terakhir Presiden Prabowo juga merupakan keturunan dari Sultan Hamengkubuwono I.
Seorang ahli pernah mengatakan (saya lupa namanya) bahwa DNA manusia bersifat Bazi. DNA secara singkat definisinya adalah Asam deoksiribonukleat, lebih dikenal dengan singkatan DNA (bahasa Inggris: deoxyribonucleic acid), adalah salah satu jenis asam nukleat yang memiliki kemampuan pewarisan sifat. Keberadaan asam deoksiribonukleat ditemukan di dalam nukleoprotein yang membentuk inti sel. Sedangkan Bazi adalah ilmu mempelajari karakter dan nasib dalam terminologi masyatakat tiongkok. Dalam analisanya dikatakan bahwa semua sifat dalam DNA diwariskan turun temurun dan mengikuti wadah energinya baik cosmis maupun cosmos. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa perebutan kekuasaan yang terjadi di nusantara ini khususnya di tanah jawa tidak lepas dari pertikaian di antara orang-orang yang memiliki keturunan langsung dengan wangsa Mataram tadi sejak abad ke 10 masehi bahkan sampai sekarang masih berlangsung. Dan menurut Rendra polanya begitu-begitu saja. Indonesianis Ben Anderson dan Daniel S Lev menulis banyak tentang bagaimana suksesi berlangsung di tanah jawa, mereka mengatakan bahwa suksesi akan cenderung diwariskan, karena diwariskan inilah maka biasanya akhirnya memunculkan konflik di antara orang-orang terdekat yaitu keluarga, keturunan dan mereka yang melayani kekuasaan.
Melihat hal tersebut di atas maka judul tulisan ini menjadi relevan. Malathi telah terjadi dalam periode-periode suksesi kepemimpinan di nusantara ini sejak lampau. Maka tak heran jika Rendra menyimpulkannya dalam Panembahan Reso maupun dalam bukunya sang perampok. Maka masa depan tanah jawa ini rasanya akan berputar-putar di sana. Pada umumnya, orang Jawa percaya bahwa semua penderitaan akan berakhir bila telah muncul Ratu Adil. Kepercayaan akan benda-benda bertuah serta melakukan syukuran merupakan upaya orang Jawa untuk melakukan harmonisasi terhadap alam dan sekelilingnya. Selain itu, hamemayu hayuning bawana, yang dimuat dalam Kakawin Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa,1032). Menjelaskan ajaran ini, Mpu Kanwa menggambarkan tugas seorang pimpinan yg harus memperbaiki dan memakmurkan dunia. Sunan Pakubuwana IX (1861-1893) menggubah bait tersebut dalam Serat Wiwaha Jarwa menjadi “Amayu jagad puniki kang parahita, tegese parahita nenggih angecani manahing Iyan wong sanagari puniki” Yang artinya, (Melindungi dunia
ini dan menjaga kelestarian parahita, arti parahita ialah menyenangkan hati orang lain di seluruh negeri ini). Inilah yang pada akhirnya menjadi kekuatan spiritual bangsa Jawa yang tidak hanya memimpin pulau jawa, namun memimpin pulau lain di Nusantara ini. Pertanyaan akhirnya adalah apakah bangsa lain akan memiliki kesempatan memimpin bangsa ini? Atau hanya keturunan Mataram saja? Tabik!
*)Gerilyawan Selatan