Oleh : Kurnia Fajar*

“Ketika kau senang, kau akan pergi pada orang yang kau cintai. Namun saat kau bersedih, kau akan pergi pada orang yang mencintaimu.”
Maulana Rumi
Pertanyaannya adalah, bagaimana jika tidak ada orang yang mencintaimu? Kemana engkau akan pergi? Pergilah engkau ke dalam kesunyian. Carilah kebahagiaan, amini apa yang dikatakan oleh Phytagoras seorang filsuf Yunani yang mengatakan bahwa jika ingin bahagia, hendaklah kau rela dianggap tak berakal dan bodoh. Terdengar absurd memang. Tapi itu adalah pilihan paling realistis dari seorang manusia yang sudah tidak ada lagi yang mencintai. Menjadi jenaka dan bersahaja barangkali adalah pilihan setelah gagal menjadi sukses dalam ukuran-ukuran peradaban manusia. Rasanya saya menyukai Everyday Life, hijrah ala Chris Martin. Tak lagi bicara tentang dirinya, kehilangan-kehilangannya, tapi meluas menjadi kita, dan luka-luka itu. Berdansa di bawah rinai gerimis, sampai lampu-lampu dipadamkan, sudah lama pergi. Cause everybody cries. Kelam memang. Everyday Life ini menjadi musik yang personal. sambil memandangi butiran hujan yang mengetuk-ngetuk jendela kaca mobilnya. Ringan tapi menghujam. Tiap-tiap orang menyimpan lukanya masing-masing. Chris Martin menuntunnya ke tengah. Everyday Life akan menjadi sahabat sejati mereka yang kalah, mereka yang dikalahkan. Berdansalah sampai lampu-lampu dipadamkan. Kita memang tak ke mana-mana. Chris Martin yang murung. Tapi dia bicara yang lebih luas dan genting dibanding Fix You. Semua yang mencintai mendapati hati mereka yang terkoyak. Dua orang memilih bertahan bukan karena mereka masih saling-mencintai, tapi karena tak satu pun yang mau hidup kesepian.
Tidak perlu takut gagal, karena setiap kegagalan itu bagian dari proses. Kita semua punya potensi, tinggal bagaimana kita mengasahnya. Jadi, jangan ragu untuk mulai, apapun yang kita impikan bisa jadi nyata kalau kita berani berusaha dan percaya sama diri sendiri. Mimpi itu seperti peta, dan kita adalah petualangnya yang harus berani melangkah. Jika Mimpi itu terus menerus gagal, yang kamu perlukan hanyalah bertahan untuk tetap percaya. Karena menyerah berarti kehilangan satu-satunya hal yang kamu punya, yaitu harapan. Banyak orang yang mencemooh ‘mimpi’. Banyak yang skeptis dan cenderung eneg kalo udah ada yang ngomong ‘mimpi’. Mimpi itu, bagi saya adalah kompas, arah tujuan berjalan, walau bakal ketemu sungai, belok kanan dulu, penuh kerja keras, darah & peluh, suka & duka. Kadang, memang yang kita bisa lakukan ya hanya kerja keras dan ‘percaya’ aja. Yakin sama mimpi kita, bahkan mimpi yang paling tidak masuk akal sekali pun. Bapak saya pernah bilang gini : kalo mimpi pilih yang gak masuk akal. Ada yang diwujudkan mimpinya karena doa dan kerja kerasnya, ada pula yang diwujudkan mimpinya sebab dia tidak pernah membalas rasa sakit yang orang lain beri untuknya. Keduanya menunjukan bahwa sesuatu yang dimulai dengan baik, maka akan terus tumbuh menjadi hal baik dan kembali ke diri kita dalam bentuk lainnya yang lebih baik serta mengagumkan.
Semakin bebas seseorang, maka akan semakin kesepian, karena yang namanya bebas berarti tidak terkait dengan yang lain. Dan Islam adalah agama yang membebaskan. Kebebasan itu kontekstual dan banyak ragamnya.
Bagi yg dilarang berbicara, maka punya suara itu kebebasan. Bagi yg dilarang sekolah, maka bisa jadi sekolah itu adalah kebebasan. Ketika kita hidup dan berfikir sederhana maka Dunia pun akan sederhana di hadapan kita. Pagi ini pandangan saya tentang hidup semakin berubah. Saya sengaja salat subuh di Raudhah, bersebelahan makam Guru Sekumpul, Martapura. Datang sebelum adzan, saya masih sempat tahajud dan witir terlebih dulu. Sekitar jam 5.10 waktu setempat adzan subuh. Lagu rost, tempo andante yang menyayat. Selesai adzan saya mulai merasakan perbedaan dengan masjid-masjid di Jakarta. Entahlah, saya merasa kehidupan Jakarta begitu tergesa-gesa. Berlomba mengejar fatamorgana dunia. Jarak menuju iqamah begitu singkat. Di Raudhah setelah adzan jamaah khusyuk berdzikir dan doa. Santai sekali. Padahal tempat sudah penuh. Saya sempat dengan tenang membaca ‘subhanallah wabihamdihi subhanalahil adzim astaghfirullah’ (100x) + Al Fatihah (41x) masih lanjut mengikuti doa dari Guru Raudhah.
Sekitar 40 menit baru iqamah. Ini mirip masjid Nabawi, Madinah yang memepetkan subuh ke waktu syuruq. Saya lihat wajah para jamaah. Tak ada yang tergesa untuk memburu pagi. Khatib membaca surah Asy Syams di rakaat pertama, dan Ad Duha di rakaat kedua. Di sini dengan doa Qunut. Ada yang juga membuat berbeda. Setelah salam, semua jamaah tetap di tempat dengan duduk tawaruk. Duduk tasyahud akhir. Ini duduk yang dianggap paling sopan, membuat senang para malaikat. Posisi kaki jamaah baru berubah bersila setelah dzikir awal usai. Dzikir bakda subuh ditutup dengan Yasin, dan doa. Saya lirik jam 6.05 baru usai. Sebagian jamaah pulang, dan masih banyak yang bertahan di Raudhah itu. Saya perhatikan wajah para jamaah. Tenang. Tak kelaparan. Dan tak ada rasa was-was dikejar-kejar aparat hukum. Saya kembali ke penginapan sederhana dekat masjid. Dan kesimpulan saya tentang hidup semakin berubah. Akhirnya saya tutup tulisan ini dengan kutipan Maulana Rumi lagi “Ketika aku kecewa, aku hanya mengingat bahwa Engkau pernah membuatku tertawa. Dari situ aku lupa dengan rasa kecewaku, dan ia berganti rindu.” Tabik!
*)Gerilyawan Selatan