Oleh : Kurnia Fajar*

Malam ini satu lagi kawan leave group. Alasannya WAG kami makin jauh dari saling-membimbing dalam hal sunnah. Dia juga mengeluh postingannya saban lepas subuh jarak sekali direspon. Pernah sekali dua saya respon. Ujungnya saya yang salah. Pernah juga saya coba kasih saran supaya postingannya tidak melulu tentang ayat atau hadist. Saya juga yang disalahin. Sebenarnya saya selalu senang jika ada teman yang mengingatkan, dengan dalil ayat Quran atau hadist. Tapi yang lain belum tentu senang juga. Posting makanan juga gapapa kan ya. Hidup kita di dunia gak lama lagi, jangan terlena. Begitu postingannya. Seorang kawan yang lain merespon: siapa juga yang terlena, ini semua juga abis subuhan makanya baru bisa respon. Demikianlah, saya mengusulkan kepada Pemerintah supaya membentuk lembaga setingkat badan yang menyusun pedoman postingan di WAG. Ini sudah mendesak dan membahayakan kesatuan bangsa. Saya usul Badan ini dipimpin oleh orang-orang yang hobi debat macam Roy suryo atau Silvester matutina. Di bawahnya ada kawan lain yang posting tulisan prosa tapi mirip puisi, entah apa maksudnya. Judulnya : Kuharap esok menjadi akhir dari semua masalah. Saya senyum getir dan tertawa sendiri membacanya. Saya bayangkan orang ini sedang gundah gulana atau sudah di titik nadir keputus-asa-an. Nih saya kutip tulisannya :
Kuharap Esok Menjadi Akhir dari Semua Masalah. Jika aku banyak tahu tentang dirimu tentu banyak sekali yang akan kusesali. Maka biarkanlah kisah hidupmu yang dulu berlalu seiring bergantinya waktu. Aku tak ingin mendengarnya dan kemudian merasa tertipu. Cukuplah hari ini kau mencintaiku dengan semua perhatianmu
Bagiku tak penting bagaimana kau menjalani hidup sebelum kita bertemu
Kubur saja semua kenangan yang menyakitkan. Air mata yang datang biarlah tumpah kemudian abaikan. Akan banyak kebaikan bisa kaugenggam bila tetap setia di jalanmu yang sekarang. Berdua kita bergandengan tangan kemudian duka yang maha keras lepas serta lupakan. Fokus saja dengan langkah kita saat menyusuri ladang jagung yang luas. Menikmati keindahan alam tanpa batas dan semerbak cinta dari kedalaman jiwa. Meniti keakraban yang tercipta. Datang dari kelembutan senyuman yang kautawarkan sebelum kita berpisah. Tidak sengaja aku mendengar sumpah serapah dari mulut pemuda pemabuk yang terjerembab di sudut jalanan kota yang tak henti hentinya menghujat dunia:
” jika kehadiranku di dunia ini hanya untuk menyaksikan manusia manusia busuk yang tanpa hati terus menerus menindas lalu memamerkan kebahagiaannya, sementara keinginan dan mimpi mimpi orang lain untuk bahagia telah di rampasnya, untuk apa aku hidup?
“Siapa yang menghendaki aku lahir?.”
“Jika aku tahu bahwa hidup hanya pengembaraan yang melelahkan melewati kubangan derita yang satu menuju kubangan derita lainnya yang akirnya harus berhenti pada kematian aku tidak mau di lahirkan” teriaknya.
Aku termenung sejenak, berbagai pandangan para filsuf dan kaum agama tentang hidup sempat menyinggahi benakku. Sebagian filsuf dari barat berpendapat bahwa hidup di gerakkan oleh keinginan dan gagasan, keinginan dan gagasan yang tidak terwujudlah yang sering kali melahirkan kesedihan, dipresi, duka derita, hingga kehilangan kewarasan. Jika seseorang tidak ingin menderita maka harus sanggup mengatur dan mengontrol keinginan keinginan sesuai kapasitasnya.
Sebagian yang lain berpendapat penderitaan adalah tantangan bagi proses pembentukan karakter dan tergantung bagaimana seseorang memaknai penderitaan yang datang dengan label label yang mampu menguatkan jiwa.
Lain barat lain pula timur, sebagian filsuf timur memandang bahwa penderitaan di sebabkan oleh ketiadaan ilmu pada seseorang dalam memahami jiwa pada saat menghadapi persoalan hidup.
Begitulah memang, hari ini membaca pesan WA saja harus gunakan akal sehat dan pikiran yang waras. Informasi layaknya makanan, ada unsur-unsur yang dibutuhkan dan diserap tubuh, ada pula unsur yang harus dibuang. Unsur-unsur yang bermanfaat itulah yang harus dikonsumsi, dicerna dan disebarkan. Sebalikanya unsur-unsur racun harus dibuang, tidak boleh disebarkan, atau bahkan harus dikritik dan diluruskan. Bahkan Al-quran sudah mewanti-wanti di Al-Hujurat ayat 6 : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Islam memandang bahwa kehidupan dunia adalah penjara bagi orang orang beriman, maka berprasangka baiklah kepada tuhanmu sebab Dia hadir sesuai persangkaanmu. Terimalah pembagianmu, iklaskan setiap amalmu, hadapi duka dengan senyuman waspadai kegembiraan sebagai jebakan yang melalaikan. Jadi, tetaplah hidup walaupun tak berguna. Gunakan hidupmu untuk memuji dan memuja namaNYA. Tabik!
*)Gerilyawan Selatan