Oleh : Kurnia Fajar*

Yang fana adalah waktu
Kita abadi
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa
– Sapardi Djoko Damono
Dalam terminologi pewayangan Jawa adalah tokoh Batara Kala sang penguasa waktu. Ia adalah tokoh dalam mitologi Jawa dan Bali, dikenal sebagai dewa waktu dan kematian, serta sering digambarkan sebagai raksasa dengan wajah menyeramkan. Ia adalah putra Dewa Siwa dan dikenal sebagai dewa yang menguasai waktu dan siklus hidup dan mati. Dalam pewayangan, Batara Kala sering digambarkan sebagai tokoh yang menakutkan dan berhubungan dengan kematian, namun juga memiliki peran dalam menegakkan hukum alam. Waktu, kala, enggak peduli apapun, Kala (waktu) memakan segalanya. Meski kita benci dengan sedih, kehilangan, tragedi, momen tersebut akan datang. Meski kita suka dengan gembira, bahagia, momen gembira serta bahagia akan pergi. Kala, waktu, enggak peduli perasaan kita. Namun di balik itu semua ada yang harus kita yakini bahwa semua pasti berlalu. Setiap waktu ada saatnya dan setiap saat ada waktunya. “Allah maha mengetahui dan kita ini tidak tahu apa-apa. Percayalah, semuanya akan hadir tepat pada waktu-Nya, bukan menurutmu.” Ada waktu tepat yang bukan menurut kita. Seiringlah waktu, hati, pikiran, dan napas. Kita semua mungkin pemilik sekaligus bendera merah, hijau, putih hingga kuning itu. Semoga kita bisa belajar menerima, memaafkan, dan dimaafkan.
Kelak, engkau akan mendapati bahwa kebanyakan manusia di sekelilingmu itu tidak menyukai engkau bukanlah karena engkau jahat/tidak baik, akan tetapi karena engkau memiliki kelebihan yang tidak mereka miliki. Demikian nasehat ibu suatu sore selepas ashar. Kami duduk di teras depan. Lalu ibu bercerita betapa cepatnya waktu berlalu dan hidup di dunia ini hanya sekedar mampir minum “urip mung mampir ngombe”. Apresiasi dan hargai setiap apapun yang engkau miliki meski itu hanya sebiji kwaci. Kamu gak tahu kapan semuanya akan hilang. Sambil termenung saya teringat lagu passenger yang berjudul “Let her go”. Ada liriknya yang menghujam “only miss the sun when it starts to snow”. Untuk menunjukkan bahwa manusia sering terlambat untuk menghargai sesuatu yang indah dalam hidup mereka. Bukan sekedar kehilangan orang yang dicintai tapi juga tentang pelajaran untuk lebih menghargai apa yang kita miliki. Sebelum semuanya berubah menjadi penyesalan. Tetapi kadang manusia memang benar harus kehilangan untuk memahami arti sesuatu. Ketika itu terjadi maka jadilah ia sebagai Takdir Ilahi. Yang seringkali manusia tidak pernah mampu menerimanya. “Tatkala Allah sudah menetapkan takdir-Nya untukmu, sementara Allah belum menganugerahkan apa yang kamu inginkan, maka sepenuhnya kamu harus percaya bahwa karunia Allah nantinya jauh lebih indah dari apa yang kamu harapkan.
Waktu laksana pedang, demikian kata Imam Syafi’ie. Jika kita tidak menggunakannya dengan baik maka waktu akan membunuhmu. Menggilas dan memakan apa saja tanpa ampun. Al-qur’an sudah menegaskannya : Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta nasihat-menasihati untuk kebenaran dan nasihat-menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3) . Aku, Sang Pencari Tuhan, adalah anomali di tengah pasar yang riuh. Bukan karena aku punya janggut sepanjang tali jemuran atau jubah tambal sulam warna-warni, tapi karena di antara pedagang yang sibuk menimbang bawang dan tukang becak yang menawar harga jiwa, aku mencari kesabaran. Bukan sabar menunggu antrean bakso, melainkan sabar tanpa limitasi waktu—sebuah konsep yang, menurutku, lebih absurd dan mulia daripada mencari jarum di tumpukan jerami yang sudah dilalap api. Ketika usia semakin menua, mengilas balik perjalanan hidup itu seperti membaca catatan kisah dengan decak kagum bersama tanya di benak, kok bisa saya menjadi manusia dan melalui semua itu.
Aku teringat ceramah Ibnu Rusydi yang pernah kudengar di sebuah warung kopi yang dindingnya penuh grafiti filsafat. Ia bicara tentang pentingnya akal dan rasio dalam memahami iman. “Kesabaran,” katanya sambil menyeruput kopi hitamnya yang pekat, “bukanlah kepasrahan buta. Kesabaran adalah tindakan rasional untuk memahami bahwa setiap kesulitan adalah bagian dari rencana Ilahi, dan bahwa di balik setiap badai, ada pelangi yang menanti.” Ia menyoroti bagaimana filsafat bisa menjadi jembatan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang tasawuf. Bahwa bukan hanya hati yang perlu dilatih, tapi akal pun harus diasah untuk bisa melihat hikmah di balik setiap ujian. Aku Sang Pencari Tuhan, mulai menyadari bahwa pencarianku akan Tuhan tak hanya melalui kitab-kitab suci atau meditasi dalam hening. Tuhan juga ada di setiap desah nafas sabar, di setiap tetes air mata yang tertahan, di setiap senyuman di balik kesusahan. Dan, di balik setiap anekdot absurd yang kudengar, ada kebenaran yang lebih dalam dari sekadar tawa. Ini adalah awal dari perjalanan yang lebih panjang, perjalanan dari kepala menuju hati, dari sekadar mengetahui menjadi merasakan. Pertanyaannya, apakah aku akan sanggup terus bersabar dalam perjalanan absurd ini? Tabik!
*)Gerilyawan Selatan