Oleh : Yudho Prasojo*

Pencarianku bermula dari sehelai kertas tua yang kutemukan terselip di bawah bantal lusuhku. Di sana, tertulis kalam Syekh Ibnu Abid Dunya, seorang bijak dari masa lalu yang entah bagaimana naskahnya bisa sampai ke bantal seorang Pencari Tuhan seperti aku. Beliau menulis tentang tiga tingkatan sabar, seolah hidup ini adalah tangga absurd menuju kebahagiaan. Pertama, sabar atas musibah. Ini tingkat dasar, pikirku. Seperti sabar saat digigit nyamuk raksasa yang menyanyikan lagu dangdut koplo di telinga, atau sabar saat sandal jepit kesayangan tiba-tiba berubah jadi ikan lele dan berenang ke selokan. Tingkat ini, katanya, diangkat 300 derajat. “Sejauh langit dan bumi,” gumamku, sambil membayangkan diri melayang di angkasa, bertepuk tangan dengan bintang-bintang yang berkedip genit. Kedua, sabar dalam menjalani ketaatan. Nah, ini mulai menarik. Seperti sabar saat harus bangun sebelum ayam berkokok untuk sholat, padahal kasur seolah memohon untuk dipeluk lebih erat. Atau sabar saat harus mendengarkan ceramah seorang ulama yang suaranya seperti mesin giling tebu, sementara pikiran melayang ke warung kopi dan sepiring pisang goreng. Tingkat ini, kata hadis riwayat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, akan diangkat 600 derajat. “Sejauh batas Arsy,” bisikku, merinding membayangkan diri berdiskusi teh hangat dengan malaikat-malaikat yang sayapnya berkilauan.
Ketiga, sabar atau menahan diri dari laku kemaksiatan. Inilah puncaknya, katanya. Puncak kebahagiaan. Ini seperti sabar saat ada diskon besar di toko barang antik yang menjual cermin ajaib yang bisa menunjukkan masa depan, padahal aku tahu mencuri adalah haram. Atau sabar saat perut keroncongan melihat sepiring sate kambing gratis yang tergeletak di tengah jalan sepi, tapi aku tahu itu sate curian dari tukang sate sebelah yang sedang tertidur pulas. Tingkat ini, wow, diangkat 900 derajat! “Dua kali lipat antara lapisan bumi dan Arsy,” ulangku, sambil membayangkan diriku duduk di singgasana megah yang terbuat dari awan, memandangi alam semesta dengan senyum puas. “Ah, sabar!” keluhku suatu kali kepada sebuah tiang listrik yang kukira mendengarkan. “Kenapa harus serumit ini?” Tiba-tiba, dari balik tumpukan koran bekas, muncul seorang pria berjenggot putih panjang, mengenakan turban yang miring dan jubah yang penuh noda kopi. Matanya berbinar jenaka. “Wahai Pencari Tuhan,” katanya dengan suara serak namun renyah, “kau bertanya mengapa sabar serumit ini? Sabar itu seperti menanam pohon mangga di gurun pasir. Butuh kesabaran tingkat dewa, pupuk dari doa, dan air mata keikhlasan. Tapi buahnya, ah, buahnya manis sekali!”
Itu adalah Abunawas, sang sufi jenaka yang sering muncul di saat-saat paling tidak terduga. Ia selalu punya anekdot absurd. “Dulu,” lanjutnya, sambil menggaruk jenggotnya yang bau dupa, “ada seorang murid yang mengeluh kepada gurunya tentang kesabaran. Katanya, ‘Guru, saya sudah sabar menunggu hujan seminggu penuh, tapi tak juga turun!’ Gurunya menjawab, ‘Itu bukan sabar, nak, itu menunggu. Sabar itu seperti saat kau melihat seseorang mengambil sendalmu di masjid, dan kau hanya tersenyum sambil berkata, ‘Mungkin dia lebih membutuhkannya untuk mendaki puncak Everest.” ” Aku tergelak. Abunawas memang luar biasa. Ia adalah ahli dalam membuat hal-hal paling spiritual menjadi lelucon paling masuk akal. Hidup sebagai makhluk sosial, aku tahu, adalah ladang ranjau kesalahan. Kalau bukan disakiti—sadar atau tidak—kita pernah menyakiti orang lain. Agama mengajarkan, yang menyakiti harus meminta maaf, dan yang disakiti supaya bersabar sekaligus memberi maaf. Ini adalah pedoman terbaik kita, makhluk sosial yang sering kali tersandung ego. Imam al-Hasan pernah menasihati, “Wahai umat manusia, jangan sekali-kali menyakiti yang lain. Namun, bila kau disakiti maka bersabarlah.” _(as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi hal. 26)._ Nasihat yang sederhana namun terasa seperti gunung yang menjulang tinggi, sulit didaki.
Kemudian, ada klasifikasi Imam Ali karramallahu wajhah, yang membagi sabar menjadi empat golongan, seolah sabar adalah seekor naga dengan empat kepala. Pertama, sabar dalam merindu. Merindukan surga, katanya, akan membersihkan diri dari hasrat-hasrat rendah. Aku membayangkan merindukan surga sampai-sampai aku tak lagi tergoda dengan gorengan gratis di warung Pak RT. Rasanya mustahil. Tapi kata Imam Ali, jika kau merindukan surga, godaan duniawi akan terasa seperti debu di sepatu bututmu. Kedua, sabar karena sayang. Sayang pada diri sendiri agar tak dilahap neraka, akan menjauhkan diri dari segala bentuk keharaman. Ini seperti sayang pada gigi sehingga kau tak makan permen kapas segudang, padahal gratis. Logis, tapi mengapa selalu sulit? Ketiga, sabar dengan latar kezuhudan. Tak menaruh cinta pada dunia, entenglah baginya segala musibah. Aku mencoba ini. Suatu pagi, kucingku memecahkan vas bunga kesayangan yang kubeli dari hasil menabung setahun. Aku mencoba berucap, “Ah, ini hanyalah vas bunga fana, dunia ini sementara.” Tapi air mataku tetap saja menetes. Mungkin kezuhudanku belum setingkat para sufi yang bisa tersenyum saat kehilangan segalanya. Keempat, sabar dalam penantian. Menanti kematian, selalu merasa kematian di depan mata, pasti bergegas mereguk pelbagai kebaikan. Ini adalah sabar yang paling menakutkan sekaligus paling mendesak. Aku membayangkan diriku berlomba dengan bayangan kematian, melakukan kebaikan secepat kilat, seperti superhero yang punya misi menyelamatkan dunia sebelum matahari terbit.
*)Gerilyawan Selatan
Tidak menjadi rumit,kalau sudah jadi pola
SukaDisukai oleh 1 orang