Bintang Mahaputera untuk Haji Naim

Oleh : Kurnia Fajar*

Kemarin 25 Agustus 2025, Presiden Prabowo Soebianto menganugerahkan penghargaan Bintang Republik Indonesia, Bintang Mahaputera, Bintang Jasa dan Bintang sakti kepada 141 Tokoh di Republik ini. Di antara nama-nama penerima penghargaan tersebut ada nama haji Isam pengusaha besar berasal dari Batu licin Kalimantan Selatan pemilik Jhonlin Group. Salah satu bidang usahanya adalah pertambangan batubara. Haji Isam yang nama lengkapnya Andi Syamsudin Arsyad adalah pengusaha besar yang memang dekat dengan lingkaran kekuasaan. Baik di masa Presiden Joko Widodo maupun sekarang di masa Presiden Prabowo. Ada yang sedikit mengganjal di hati dan menjadi pertanyaan. Mengapa Haji Isam di berikan penghargaan? Bukankah fokus pemerintah hari ini adalah hilirisasi dari hasil tambang? Sementara haji Isam adalah pelaku tambang di sektor hulu, yang  pekerjaannya hanya mengeruk isi perut bumi. Sektor hulu hanya sedikit memberikan nilai tambah jika dibandingkan dengan dampak kerusakan lingkungannya, baik untuk masyarakat maupun untuk pemerintah. Seyogyanya mereka yang merintis, bersusah payah melakukan usaha-usaha hilirisasi, sudah sepantasnya dan sewajarnya diganjar dengan penghargaan bintang mahaputera. Mengapa? Karena mengejawantahkan misi Negara ke dalam tindakan nyata. Atau jangan-jangan haji Isam mendapatkan penghargaan ini karena menjadi penyokong utama dalam pencapresan Prabowo kemarin? Sah-sah saja sebenarnya, namun ada ketimpangan dalam pemberian penghargaan ini.

Jangan lupa, Haji Isam (Jhonlin Group) dan Prabowo lah yang lagi menggarap untuk cetak sawah 1 juta ha di merauke. Dengan dalih untuk ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi? Ekonomi siapa? Padahal kemarin, di saat yang sama sedang terjadi Demonstrasi di depan gedung DPR. Memprotes kenaikan gaji anggota DPR di saat masyarakat dalam posisi tercekik, kehilangan dan kesulitan lapangan kerja. Ini menunjukkan bahwa para pejabat di Indonesia seperti tidak memiliki empati. Mereka bagaikan hidup di negeri dongeng. Tidak ada rasa membersamai dan merasakan penderitaan rakyat. Kemudian berikutnya adalah rekam jejak, bagaimana mungkin bisnis tambang yang sangat terdepan merusak lingkungan bisa dianggap berkontribusi dan berjasa bagi negara? Memiliki kesadaran untuk membenahi atau reklamasi lokasi tambangnya saja sudah syukur dan itu bagian dari kewajibannya. Pada akhirnya, Bintang Mahaputera dan penghargaan negara lain  jadi kehilangan nilai dan kesakralannya. Mengutip kata-kata seorang kawan “presiden seperti sedang main anjang-anjangan”. Saya setuju sih. Dan menyayangkan obral bintang seperti ini. Mengutip potongan gambar berita di atas menyebutkan bahwa jasa beliau adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Padahal yang bertumbuh adalah ekonomi para elit alias di circle kekuasaan. Sementara rakyat diminta efisiensi dan belanja pemerintah tidak berputar di masyarakat.

Anda tahu haji Naim? Ya! Haji Naim adalah seorang legenda pengobatan tradisional urut patah tulang Cimande di Jakarta yang terkenal dengan kemampuannya menyembuhkan cedera fisik, termasuk patah tulang, melalui pijat tradisional Cimande yang diwariskan turun-temurun. Ia membuka praktiknya di Jakarta dan dikenal sebagai salah satu praktisi terkemuka di bidangnya, memberikan pelayanan pengobatan tradisional Cimande. Saya pernah mengadakan survey kecil-kecilan, yaitu bertanya kepada orang-orang secara acak. Dari 10 orang di Jabodetabek 9 orang mengatakan mengetahuinya. Dan dari 9 orang yang mengetahuinya 6 orang menjawab pernah datang ke haji Naim, baik melakukan pengobatan maupun sekedar mengantarkan. Sehingga keberadaan haji Naim ini sangatlah bermanfaat bagi masyarakat secara nyata. Dan Haji Naim sudah melaksanakan apa yang diajarkan oleh Rasullullah SAW  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Ad-Daruqutni). Rasanya masyarakat sipil harus mendorong agar orang seperti Haji Naim ini mendapatkan Bintang Mahaputera. Penghargaan Bintang Mahaputera ini harus diukur kemanfaatannya bagi masyarakat secara nyata. Bukan saya mengecilkan haji Isam, namun manfaat nyata bagi masyarakat Kalimantan Selatan apa? Katakanlah ada manfaat, coba bandingkan dengan kerusakan lingkungan yang diciptakan. Apakah sebanding?  Kemudian, bandingkan dengan haji Naim sudah menjadi public legend.

Lalu apa yang bisa dipelajari dari peristiwa penganugerahan Bintang Mahaputera ini? Publik hanya bisa menonton, muntab, naik pitam dan akhirnya tertawa. Seperti kata Ibnu Khaldun, tentang negara dan rakyat tak terpisahkan, di mana kekuatan negara berasal dari ashabiyah atau solidaritas rakyat yang menjadi fondasi utama keberlangsungan dan kejayaan bangsa. Negara berkembang melalui siklus hidup: lahir, tumbuh, mencapai kejayaan, dan kemudian mengalami kemunduran. Keadilan, kepemimpinan yang beretika, dan kebijakan yang seimbang adalah kunci untuk menjaga stabilitas dan kesejahteraan rakyat serta memperpanjang usia negara, sementara korupsi dan penindasan dapat mengantarkan pada kehancuran. Jadi apakah benar Indonesia telah mengalami kemunduran? Apakah benar seperti ramalan pak Prabowo, bahwa Indonesia akan bubar di tahun 2030? Pada akhirnya, Negara milik penguasa. Rakyat jelata hanyalah menjadi pijakan semata. Semoga pak Prabowo bisa makin mawas diri. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar