Oleh : Kurnia Fajar*

Pernahkah anda mendengar istilah “Black Swan”? adalah metafora untuk sebuah peristiwa yang tidak dapat diprediksi, sangat langka, dan memiliki dampak yang ekstrem dan sistemik, baik positif maupun negatif. Istilah ini dipopulerkan oleh Nassim Nicholas Taleb dan berasal dari keyakinan kuno bahwa semua angsa berwarna putih, sehingga penemuan angsa hitam dianggap mustahil. Ada beberapa karakteristik peristiwa Black Swan, Pertama probabilitas sangat rendah, Peristiwa ini sangat tidak mungkin terjadi dan tidak dapat diprediksi dari data-data masa lalu. Kedua Ketika terjadi, peristiwa ini memiliki konsekuensi yang sangat besar dan signifikan, bisa berdampak pada ekonomi, bisnis, atau masyarakat secara luas. Ketiga, Setelah peristiwa terjadi, orang-orang cenderung mencari penjelasan dan rasionalisasi sehingga peristiwa tersebut tampak dapat diprediksi atau bahkan tak terhindarkan dari sudut pandang masa lalu. Istilah angsa hitam dipopulerkan olehNassim Nicholas Taleb, seorang profesor, ekonom, dan penulis. Ia awalnya mengeksplorasi peristiwa angsa hitam dalam konteks pasar keuangan di awal abad ke-21, kemudian memperluas cakupannya hingga mencakup peristiwa sejarah, ilmiah, dan lainnya. Taleb berpendapat bahwa, meskipun manusia pandai mengubah stimulus lingkungan menjadi informasi yang bermakna, mereka cenderung berpikiran sempit dalam keyakinan mereka tentang dunia. Menjadi dogmatis tentang keyakinan membuat manusia buta terhadap konsep-konsep yang berada di luar apa yang diterima sebagai kebenaran. Hal ini menciptakan kerentanan terhadap peristiwa mengejutkan yang disebut angsa hitam, yang mengharuskan perubahan pandangan dunia. Peristiwa angsa hitam memengaruhi orang secara berbeda berdasarkan tingkat akses mereka terhadap informasi relevan tentang peristiwa tersebut: semakin banyak informasi, semakin kecil dampaknya.
Semua bermula dari rencana DPR menaikkan tunjangan dan biaya sewa rumah. Ditambah gagalnya pemerintah memberikan dan membuka lapangan pekerjaan yang layak. Dalam keadaan ekonomi nasional yang terpuruk dan daya beli masyatakat menurun. Kemudian ditambah mereka jogat-joget di ruang sidang. Jadi momentum bertumbuknya ketemu. Masyarakat yang harus bertahan hidup sehari-hari, merasa dikhianati dengam prilaku para anggota Dewan ini. Perbedaan dan jarak struktural sangat lebar, kemudian muncullah para ksatria Senayan seperti badut yaitu Adies Kadir dan Sahroni dengan pernyataan Tolol-nya itu. Akhirnya seperti api ketemu minyak. Kemarahan kolektif masyarakat tumpah juga di tanggal 28 Agustus kemarin dengan tuntutan : Bubarkan DPR. Sebenarnya tuntutan tersebut hampir mustahil dikabulkan. Namun massa tetap bergerak menyuarakan aksi. Digerakkan massa buruh dan para pengemudi ojek online. Para driver ojek online itu jadi kelas sosial yang sangat rentan. sudah dieksploitasi korporasi, sekarang dilindas polisi. Kesadaran ditindas ini menjadi energi yang hebat. 25 Agustus sebelumnya, demonstrasi di Jakarta soal gaji DPR. Di Pati sebelumnya protes PBB. Isnya beda, tapi rasa marahnya sama. Tafsir sederhana rakyat, semua dibebankan ke mereka biar elit bermewah-mewah, rakyat hidup sulit. Penguasa lupa soal virality. Mereka mungkin masih merasa hidup di tahun 90-an. Memenya sudah masuk Tiktok, termasuk potongan video sama narasi satir. X apalagi, penuh kemarahan. Tumpah semua sumpah serapah pada penguasa, DPR dan juga kepolisian.
Puncaknya adalah tadi malam. Pengemudi ojol dilindas kendaraan rantis Barakuda. Satu wafat. Sedangkan satu orang lain mendapatkan perawatan di rumah sakit. Seperti mendapat alasan, semalam penuh rakyat bertahan di depan markas Brimob Kwitang. Mobil Brimob dibakar, mobil-mobil sipil yang diyakin milik Brimob juga ikut dibakar. Keesokan harinya aksi menyebar cepat ke seluruh Indonesia. Ini adalah peringatan keras. Saya yakin sebentar lagi aksi-aksi protes ini masuk lintas isu. Narasi anti DPR udah. Anti Polisi sedang berlangsung. Potensi delegitimasi meluas ke institusi negara lain. Perlu dikoneksi nih dot-dotnya. Saya rasa Pak Prabowo sudah tahu semua resiko ini. Yakin juga tim-nya di bawah pimpinan Bang Dasco juga sudah, sedang dan akan mengamati ini lebih mendalam. Butterfly effect dari joged Eko Patrio, pernyataan Sahroni, penabrakan ojol oleh Brimob dan kesombongan Bupati Pati, bisa jadi badai politik nasional. Pertanyaannya apakah ini akan menjadi black swan? Bisa jadi blackswan. Saya percaya setiap masa aksi butuh penggalang. Tapi yang organik, apalagi situasi ekonomi lagi sulit, tidak perlu tokoh sentral. Bisa dimitigasi, mungkin dengan penggembosan aksi atau fokus isu sentral. Yang jelas setiap kebodohan tokoh publik setelah ini, bakal bikin heboh dan dibully rakyat.
Indonesia is not my home anymore, begitu pagi tadi seorang kawan mengirimkan pesan teks-nya. Kawan yang lain dengan gaya bahasa lebih marah menulis Mau ini pertarungan elit, kek, Agenda koruptor yang gagal deal, kek
Militer curi-curi momen, kek
Agenda asing, aseng, abud, kek
Bodo amat. Selagi ada kesempatan ngelawan, sikat. Mantan kepala BIN Jenderal Hendro mengeluarkan pernyataan bahwa demonstrasi ini ditunggangi oleh kepentingan asing. Semua aktor tampak sudah keluar dengan teorinya masing-masing. Seperti tulisan di atas tadi. Indonesia sudah masuk ke dalam kondisi terjadinya Black Swan. Presiden Prabowo harus kembali menenangkan rakyat dengan putusan-putusan yang tentunya akan mengembalikan rasa keadilan di hati dan sanubari rakyat. Panjang umur perjuangan! Tetap melawan dan merdeka!
*)Gerilyawan Selatan