Oleh : Kurnia Fajar*

Tiga hari terakhir kita saksikan aksi demonstrasi yang diikuti dengan pembakaran dan penjarahan bahkan hingga menjarah rumah-rumah para tokoh DPR hingga Menteri Keuangan. Suatu hal yang memprihatinkan dan menyedihkan. Kejadian ini dipicu oleh kematian supir ojek Online bernama Affan Kurniawan yang mati dilindas kendaraan Taktis (Rantis) milik Brimob. Kejadian ini memicu amarah rakyat yang memang sebelumnya sudah kecewa dengan kenaikan tunjangan anggota DPR di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit rakyat sehari-hari. Kelesuan ekonomi sepanjang tahun 2025 membuat rakyat frustrasi. Negara sebagai generator ekonomi juga gagal mencari cara untuk menghidupkan ekonomi karena kewajiban membayar bunga utang jatuh tempo yang mencapai 800 Triliun rupiah. Hal ini akibat dari kebijakan pinjam uang yang ugal-ugalan di era presiden sebelumnya. Rakyat tidak meminta banyak sebenarnya. Mereka hanya minta empati dari para pejabat. Alih-alih perasaan empati, malahan mereka joget-joget dan memberikan pernyataan yang menambah rasa sakit di dalam hati rakyat. Mereka berdemonstrasi dengan tertib menuntut pembatalan kenaikan tunjangan dan juga menuntut mundur kepada anggota DPR yang memberikan pernyataan yang melukai hati rakyat. Mereka tidak mundur dan pembatalan kenaikan tidak juga diumunkan hingga tibalah peristiwa dilindasnya Affan Kurniawan. Beberapa kawan menyamakan situasi ini dengan Revolusi Prancis dan juga peristiwa Arab Sprimg. Mungkin saja ini bisa jadi momentum perubahan sosial di republik ini.
Supir ojek online ini jumlahnya banyak, salah satu media menyebutkan jumlahnya 1,9 juta orang di Jabodetabek. Setiap hari mereka bertarung habis-habisan, sekadar untuk bisa membawa pulang 50 – 100 ribu rupiah. Sementara anggota dewan joget-joget seolah merayakan kenaikan tunjangannya. Percayalah atas kelakuan itu, orang-orang muak dan marah. Orang-orang, yang jumlahnya banyak itu, setiap waktu dhuhur duduk termenung di sudut masjid. Bingung. Cemas. Anggota dewan abai dengan gundah dan cemas rakyatnya ini. Semalam saya nonton film The Equalizer secara marathon dari film yang pertama sampai yang ketiga. Dibintangi Denzel Washington yang bermain sangat baik. To be fair, Denzel sebenernya tak beranjak jauh dari titik pijaknya. Hampir di semua film nyaris seragam. Namun kualitas oscar dalam film-film Denzel selalu terasa. Cerita dan karakter yang kuat. Dikisahkan Denzel sebagai Robert Mc Call pria yang harus memilih hidup sendiri dengan pengalaman mematikan di masa lalunya. Ia bertemu Alina dan Ralphie. Alina gadis asal rusia yang harus kehilangan kemerdekaannya dan menjadi pekerja seks. Sementara Ralphie keluarga imigran yang ibunya harus membayar “uang koordinasi” agar bisa berjualan dengan tenang.
Di film kedua ada seorang ibu yang harus kehilangan anaknya, ada korban holocaust yang ingin mencari saudaranya dan tetangganya yang gagal menjadi seseorang karena kesulitan akses sebagai warga kulit hitam. Di film ketiga, Denzel membantu satu komunitas di kota kecil yang termarjinalkan karena keberadaan satu kartel yang menguasai kota tersebut. Denzel yang murung, yang kehilangan hal-hal berharga dalam hidupnya. Semakin dewasa kita semakin sulit menemukan arti keadilan. Kita bingung dan tersesat. Seperti kata Alina kepada Robert Mc Call “there’s something in your eyes. Not angry, not dissapoitment, I see lost”. Peristiwa buruk, rasa adil yang tidak pernah datang akhirnya memunculkan perasaan ambigu di dalam diri. Kita kadang sudah tidak tahu lagi mana benar dan salah. Mana kawan dan lawan. Di titik itu kita tidak membutuhkan lagi keadilan. Yang kita perlukan adalah Equalizer alias penyeimbang. Robert Mc Call hadir bukan untuk menghadirkan keadilan bagi mereka yang tidak berdaya. Ia hanya ingin menyeimbangkan. Menghadirkan perasaan menang di hati sanubari manusia-manusia tertindas ini. Meskipun di kemudian hari akan kembali kalah karena Robert Mc Call tidak akan mampu mengontrol kembali kehidupan orang-orang yang telah ditolongnya.
Selepas menonton saya teringat Affan Kurniawan, anak muda berusia 21 tahun yang menjadi harapan dan tulang punggung keluarganya. Dia harus kubur mimpi dan cita-citanya. Kematiannya di tanggal 28 agustus lalu telah membangitkan amarah baik yang organik (marah spontan dan beneran) maupun marah-marah lain yang hasil desain dan rekayasa. Di layar ponsel saya menyaksikan sorak-sorai rakyat yang berhasil menjarah rumah Sahroni, Eko patrio dan Uya Kuya. Perbuatan keji dan melanggar hukum serta bisa dipidana. Sebagian hati saya merasa sedih dan malu dengan prilaku tersebut. Namun sebagian hati saya yang lain ada perasaan aneh dan permakluman dengan beragam pembenarannya. Inilah akibat rakyat tidak memiliki akses yang sama. Bahkan kalo mau jujur akses ditutup dan dibuka hanya untuk sebagian kecil orang saja. Kemudian ada pemandangan polisi ditendang dan dipukul wajahnya. Sedih melihatnya tapi sekaligus maklum karena banyak rakyat juga dipukuli dan diperlakukan tidak layak oleh polisi di ruang-ruang pemeriksaan. Akhirnya dalam hati saya bergumam, kadang yang diperlukan bukan keadilan namun Equalizer atau penyeimbang dari tekanan-tekanan kehidupan yang sehari-hari dirasakan. Perasaan menang dari orang-orang yang tidak berdaya itu juga bagian dari proses keadilan barangkali. Setiap kita adalah Alina dan Ralphie yang tidak berdaya. Namun setiap kita juga bisa menjadi Robert Mc Call. Selamat jalan Affan Kurniawan. Jasamu abadi. Engkaulah Robert Mc Call sang Equalizer. Tabik!
*) Senopati, Perhimpunan Gerilyawan Nusantara